
Malam semakin larut, hampir tengah malam ketika Athena masuk ke kamarnya dan merebahkan diri di kasur.
"Wah..... nyaman sekali. Adem bgt rasanya." Gadis itu mengusap spreinya. Menatap langit - langit dan menoleh ke meja samping tempat tidur.
Ada yang hilang disana. Foto pertunangannya dengan Baruna. Athena segera bangun dan mencari foto-foto yang lain. Tak ada yang tersisa.
"Siapa yang membersihkan semua ini? Ayah? Sepertinya tidak..." gumam Athena.
tok tok tok... pintu kamarnya diketuk dari luar. Kepala Nadira muncul di sela pintu.
"Boleh masuk?!"
"Masuk aja...!" jawab Athena.
"Mba Nana, lagi ngapain?"
"Kamu tahu siapa yang membersihkan kamar mba dari jejaknya Baruna?"
"Aku..." jawab Nadira. "Rara benci, benci luar biasa. Apalagi dia datang kesini bersama orang tuanya dan juga wanita selingkuhannya."
Athena tercengang. "Dia membawanya kemari?"
__ADS_1
"Ga ikut masuk sih. Nunggu di mobil. Tapi Rara tahu, mas Baruna gelisah, hapenya terus aja berbunyi, dan mereka ingin cepat2 keluar." cerita Rara.
Athena tidak habis pikir.
"Rara ga sengaja lihat. Waktu itu Rara baru pulang, ada mobil di depan. Bukan mobilnya mas Baruna yang biasanya. Ternyata ada orang di dalem. Cewek. Terus pas masuk Ayah sedang marah bahkan menggebrak meja."
"Ayah sampai segitu marahnya?!"
"Ayah marah karena mereka memberi kompensasi pembatalan pertunangan sambil bilang begini, Pak, kita masih berbaik hati loh, datang kesini, membicarakan semua sebelum hari pernikahan. Bisa aja kita diam dan kabur di hari pernikahan. Dan membuat bapak sekeluarga malu tak terkira. Ga usah sombong pak. Anak gadis bapak juga ga cantik - cantik amat. Belum tentu juga dia anak baik - baik, Lihatlah, anak saya dibanting sampai masuk rumah sakit," Rara menirukan gaya ibunya Baruna dengan sangat baik. "Ayah marah dong, anak gadisnya dikatain begitu...."
"Wah.... keterlaluan banget itu ibu - ibu, Terus gimana?" celetuk Athena tanpa dosa.
"Mba, itu ibu - ibu mantan camer loh, dan dia ngomongin mba Nana..." ujar Rara heran dengan reaksi kakaknya.
"Mereka ngeluarin uang banyak banget, mungkin ada ratusan juta. Dan Ayah dengan sangat keren menolaknya. Kata Ayah, harga diriku lebih tinggi dari berapapun kalian mampu membayarnya. Pergilah. Semoga kita tidak akan pernah bertemu lagi." cerita Rara.
Athena menghela nafas panjang. "Bagaimana dengan keluarga besar kita?"
"Biasa mba, jadi bahan pembicaraan umum tapi rahasia. Bisik - bisik aja. Terus foto-foto dan semua yang berbau mas Baruna, Rara singkirkan. Ayah suka masuk sini, melamun, kadang rebahan aja. Rara pikir kalau ada foto itu Ayah makin sedih. Jadi Rara bereskan. Masih ada di gudang. Biar Mba Nana aja yang buang."
"Good job, Terima kasih Nadira sayang..." Athena merangkul adiknya.
__ADS_1
"Mba udah ga papa?" tanya Rara.
"Mba baik-baik saja, Ra."
"Boleh cerita dong, gimana mas Baruna ngrasain serangan maut masternim judo..."
Athena tertawa, mengingat kejadian malam itu.
"Mas Baruna cerita, katanya sampai dirawat di Rumah Sakit karena nyeri punggung."
"Wah... mba ga tahu kalau dia sampai masuk Rumah Sakit."
"Kok ga ada bekasnya si mba, nyonyorin tuh muka apa gimana biar mantep. Dibanting doang, kurang seru...!"
"Mba Artha juga bilang begitu," ujar Athena.
"Nah kan, harusnya emang perlu dibikin babak belur."
Athena tertawa. "Tidur sini aja ya.?!"
"Niatnya gitu, tapi nunggu ditawarin. Takut ganggu mba Nana. Kali aja pengin ngelamun panjang lebar gitu...."
__ADS_1
"Akak tau lah... Kangen kan?"
to be continued...