
Hoek!!!! Artha merasa ingin muntah sesaat setelah turun dari wahana. “Na, mual nih. Pusing.”
“Aku juga,” jawab Athena sambil sempoyongan. “Duduk dulu tuh,”
Kemudian mereka duduk di bangku yang ada di sekitar situ.
Artha menggeleng - gelengkan kepalanya. “Gua ga mau naik lagi. Ampun deh. Tinggi banget si. Perasaan biasanya ga tingi - tinggi amat deh,”
“Lo naik yang di pasar malem kali, bareng bocil.” sahut Athena.
Beberapa saat kemudian mereka sudah memulai petualangan berikutnya.
Kali ini masuk ke pasar seni. Berbagai kerajinan tangan, pernak pernik, kaos kaos bertuliskan lokasi wisata, aneka makanan khas daerah, termasuk tanaman hias memenuhi tempat itu.
Mungkin karena weekend, hampir semua kios buka. Athena berhenti di depan kios aksesoris. Banyak pernak pernik unik yang dihamparkan di meja. Athena menghampiri tempat gelang, ada yang nampak cantik.
“Na, aku ke sana dulu ya…” ujar Artha.
“Okay….” jawab Athena, tanpa mengalihkan pandangannya.
“Yang ini berapaan, bu?” tanya Athena beberapa saat kemudian.
Si ibu menyebutkan sebuah harga, “yang itu gelang couple, neng”
“Boleh beli satu aja bu?” tanya Athena lagi.
“Aduh jangan non, kasian. Nanti yang satunya merana ditinggal pergi.”
Athena tertawa. “Saya jomblo bu, kasian gelangnya kalau saya ambil semua. Satu ga terpakai.”
__ADS_1
“Ga papa neng, disimpan buat jodohnya. Semoga lekas ketemu.”
Athena tersenyum “Aamiin…”
Athena mengambil salah satu gelang dan kemudian melihatnya sambil tersenyum. “Ibu, saya simpan gelang satunya di sini aja ya.”
Setelah membayar sesuai harga tang disebutkan tadi Athena melangkah keluar sambil mencoba memasang gelang itu di tangan kirinya.
Agak susah memang. Karena harus menarik kedua ujung tali agar kencang. Entah darimana datangnya ada sepasang tangan yang tiba - tiba mengambil alih ujung tali dan mengencangkan dengan rapi.
“Cantik,” ujar lelaki itu.
Athena mendongak dan pandangan mereka bertemu. “Oh…. terima kasih.”
Athena buru - buru mengalihkan pandangan dan kemudian mengangguk sebagai tanda dia akan pergi.
Lelaki itu memandangnya sambil tersenyum.
***
***
“Printilan buat bocil di rumah. Si Thalita dan Safiya, nih daftar oleh - olehnya. Wajib banget dibeliin.” ujar Artha sambil menunjukan chat WA-nya dengan ponakan - ponakan kesayangan. “Lo beli apaan?”
Athena menunjukan pergelangan tangannya.
“Wow…. cakep bener, Na.” puji Artha. “Habis ini beli cemilan yuk…”
“Okey….” jawab Athena sambil ikut memilih pernak pernik di depannya.
__ADS_1
Dari satu lapak ke lapak berikutnya, dari kios ke kios mereka hampiri. Lebih banyak melihat - lihat daripada membeli.
"Capek, Na," ujar Artha. "Jam berapa?"
"Hampir jam 11 nih. Balik yuk. Besok kita mesti bangun subuh-subuh, biar bisa lihat sunrise." Jawab Athena.
"Ayok," sahut Artha.
Lantas mereka berdua kembali ke hotel. Tiba di lobi tiba - tiba Artha berhenti.
"Napa, Tha?"
"Tuh...!" Artha menunjuk sebuah pintu.
"Kenapa?" Athena masih tidak mengerti.
Tanpa menjawab, Artha menarik lengan sahabatnya.
"Ga usah tarik - tarik kali. Perasaan sekarang hobi kamu menarik paksa lenganku. Ada apa sih?"
Artha tersenyum jail. "kita sing a song dulu. Fix no debat!"
"Besok kita mesti bangun gasik, Tha...." Elak Athena.
"Iya, besok bangunin aku sampai bangun."
"Lah...... kamu kan susah banget kalau dibangunin."
"Pokoknya tugas kamu besok bangunin aku. Sekarang kita karaokean..."
__ADS_1
Athena kalah debat. Akhirnya mereka booking room dan meluapkan segala rasa di sana.
to be continued...