
Dayu dan Athena kembali ke apartemen sebelah. Disambut tawa tiga orang yang sedari tadi berasa nonton sinetron.
“Kalian kok ga nyusul, ga sesuai rencana dong…” ujar Dayu.
“Sengaja, Yu. Memberi kesempatan buat lo puas nyalurin emosi lo, jadi ga cuma kita aja nih yang kena semprot…” jawab Juna.
“Na, si Dayu nih, tadi kan dia ga setuju sama rencana kita, tapi adu jotosnya niat banget. Kamu mesti lihat rekamannya,” ujar Artha.
“Dan ekspresi lo, Na….” Brian ngakak. “Gabut lo ya… Dayu ga datang - datang, Baruna ga nongol juga. Sampai akhirnya lo lepasin tali dan beres - beres kamar…”
Mereka berlima melihat ulang video yang tersimpan sambil berkomen ria macam reporter radio.
“Jun, kamera lo belum diambil. Jangan lupa…” ujar Dayu.
“Nih… yang di kamar udah aku ambil sekalian. Gabut bener emang…” kata Athena.
“Yoi bro… thanks Na, misi kita berhasil nih!!!” seru Juna.
“Kayaknya Baruna curiga deh…” Brian masih memperhatikan laptop.
Baruna merasa ada yang aneh. Dia bangun dan menuju kamar tempatnya mengurung Athena. Tertegun. Kamar rapi, tali digulung dengan baik, kursi ditempatkan dengan aesthetic. Tidak ada tanda - tanda Athena berusaha keras melepaskan diri. Kondisi kamar utuh, rapi, seperti habis ganti sprei dan berberes. Kok bisa ya….?
Baruna mengecek pintu. Lobang kunci, aman. Tidak ada tanda - tanda dibuka paksa. Engsel pintu juga aman, tidak ada bekas pintu didobrak. Tapi ada yang ga beres…
Baruna keluar kamar, mengecek pintu depan. Aman juga. Anjir... apa yang ga beres ya… kenapa juga si Dayu bisa masuk apartemen ini. Ga bener nih. Baruna mondar mandir memeriksa seluruh pelosok apartemennya. Dia bahkan berprasangka ada pintu rahasia atau apa yang menghubungkan apartemen ini dengan ruangan lain.
Lelah kesana kemari akhirnya Baruna duduk dan membuka makanan yang tadi dia bawa. Seafood kesukaan Athena.
__ADS_1
“Yah… udah dingin deh.” ujar Baruna sedikit kecewa tapi tetap saja dia makan.
Baruna mendengar ada seseorang yang berusaha memasukan password. Pasti Deasy, batin Baruna. Dengan kesal Baruna melangkah membukakan pintu.
“Sayang… passwordnya ganti kapan? Kok ga ngasih tahu aku? Eh, wajahmu kenapa?” tanya Deasy.
Baruna diam saja kembali ke dapur dan melanjutkan makannya.
“Sayang ada apa?” tanya Deasy lagi. “Apa ini perbuatan Dayu?”
“Tahu darimana?”
“Tadi pagi Dayu minta kontak kamu, Nelpon ga?”
Baruna menggeleng.
“Jadi bener nih, Dayu yang mukulin kamu?”
“Tadi aku papasan sama mereka di parkiran. Apa Dayu juga punya apartemen disini ya?”
“Mereka? Siapa?”
“Dayu sama dua temen setianya si Juna dan Brian. Terus si preman kampung dan temennya. Habis dari sini?”
Baruna diam, berusaha mencerna situesyen…
Sementara itu Athena sudah kembali ke rumah dengan Artha tentunya.
__ADS_1
“Gila si Baruna psiko juga ternyata. Dia masih sempet masukin motor kamu, nutup garasi, nutup gerbang. Wah… luar biasa,” Artha berdecak kagum.
“Ga nyangka juga, Tha. Thanks banget ya Tha, selalu jadi yang terbaik buat aku,” Athena memeluk sahabatnya
“Dayu yang keren, Na. Dia sampai beli apartemen di situ. Dan aku ga ngerti deh Juna dan Brian kok kayak anak buahnya Dayu ya…”
“Dayu itu the real CEO perusahaan kita, ga sengaja aku pernah dengar dia sedang bertelepon dengan seseorang membahas perusahaan kita yang kemungkinan krisis keuangan.”
“What….!” Artha terkejut.
“Aku percaya Dayu mampu mengatasinya. Udah kerasa kan administrasi perusahaan makin rapi dan terkontrol?”
“iya juga sih… terus bagaimana denganmu Na?”
“Ga tahu, Tha. Sepertinya aku harus sesegera mungkin bertemu suamiku. Hati aku makin hari makin lari ke arah Dayu. Aku takut, Tha…”
“Belum ada kabar apapun gitu?”
“Belum ada sama sekali.”
“Ga niat banget sih…” Artha ikutan geram.
“Mending kamu jujur aja sama Dayu, Na.”
“Jujur gimana?”
“Jelasin lah perasaan kamu dan juga keadaan kamu.”
__ADS_1
“Aku………..” Athena benar - benar bimbang.
to be continued...