KRISNA (JODOH PILIHAN AYAH)

KRISNA (JODOH PILIHAN AYAH)
4. Baruna POV


__ADS_3

"Aku ga papa, sayang," ujar Baruna


"Dibanting gitu bilang ga papa?!?! Organ dalem kamu itu harus kita periksa. Aku ga mau kamu kenapa2. Pokoknya aku mau minta ganti rugi perawatan kamu sama preman kampung itu." Ujar Deasy berapi-api, sambil melajukan mobilnya menuju RS terbesar di kota itu.


Baruna hanya bisa diam, kenapa jadi kacau begini? Batinnya. Tak ada niatan putus dengan Athena, dia hanya ingin mencari perhatian dari pemilik perusahaan tempatnya bekerja, dengan menemani kegiatan anak tersayangnya.


Lagipula ada kabar bahwa dia sudah dijodohkan dengan rekan ayahnya yang sama - sama pengusaha. Tidak ada niat juga untuk berselingkuh, hanya terbawa suasana.


Beberapa kali mengantar anak pak bos membuat anak pak bos sangat terkesan. Dan semakin dekat. Dan entah bagaimana ceritanya, Baruna juga menikmatinya. Sekarang jadi runyam. Athena sudah pasti sangat marah, dia selalu bilang tidak ada maaf buat perselingkuhan.


Sesampainya di IGD, Deasy meminta cek up lengkap. Dan juga rawat inap. Baruna tak punya pilihan.


“Sayang, apa tidak berlebihan sampai rawat inap segala?” ujar Baruna


“Pokoknya harus dipastikan semuanya tidak ada masalah,” jawab Deasy.


Baruna hanya bisa pasrah. Setelah segala macam pemeriksaan selesai dan dinyatakan dalam batas normal, diapun pindah ke rawat inap VIP.


“Sekarang jelaskan padaku siapa preman kampung itu, dan apa hubungannya denganmu? Benarkah kalian bertunangan? Lalu kau anggap apa aku ini?” serbu Deasy.

__ADS_1


“Sayang aku harus jawab yang mana dulu?” Baruna balik bertanya. “Satu - satu dong….”


“Baiklah……….” deasy menghela nafas. “Apakah benar dia tunanganmu?”


“Iya benar,” jawab Baruna jujur, menghadapi wanita yang sedang emosi begini apapun jawabannya pasti salah.


“Lalu kenapa kau dekati aku, dan kau bilang kau sayang padaku. Apa artinya?” teriak Deasy. “Kau mempermainkan aku?”


“ Sayang tenang dulu, dengar baik - baik,” ujar Baruna sambil memutar otak, mencari alasan menyelamatkan diri. "Aku tidak pernah bermaksud mempermainkanmu."


Baruna menghela nafas. "Aku bertunangan dengannya 6 bulan yang lalu. Kemudian suatu hari ayahmu memintaku untuk menjemputmu di bandara. Saat itu kau benar-benar menyebalkan, bawel, cerewet, ga sabaran, pokoknya menyita perhatian banget. Sejak saat itulah aku merasa terganggu dan pikiranku terisi olehmu. Perlahan - lahan aku terbiasa dan merasa nyaman dengan semua tingkah manjamu. Aku tidak tahu sejak kapan aku menyukaimu. Yang kutahu, aku senang melihatmu tersenyum dan aku ingin selalu membuatmu tersenyum. Aku benar-benar minta maaf atas kelancanganku menyukaimu padahal jelas-jelas aku sudah bertunangan."


Deasy terdiam menatap sendu lelaki di depannya. "Benar kau ingin selalu membuatku tersenyum?"


"Kalau begitu selesaikan urusanmu dengan preman kampung itu. Buat aku selalu tersenyum. Aku akan membantumu."


"Maksudmu?"


"Putuskan pertunangan kalian. Dan tetaplah bersamaku. Aku tidak mau kehilanganmu. Apalagi melihatmu menikahi orang lain."

__ADS_1


"Benarkah? Kau mau bersamaku? Bagaimana dengan kabar perjodohanmu?"


"Ayah memang menjodohkan aku dengan anak relasi bisnisnya. Tapi tidak memaksa. Kalau aku tidak mau ya sudah. Syaratnya aku harus punya calon suami yang kompeten. Karena aku satu-satunya pewaris semua kekayaan keluarga."


"Apakah ayahmu akan menyetujui kita?"


"Ayah menyukaimu, beberapa kali dia memujimu. Tenang saja. Sekarang istirahat. Sembuh. Dan kita selesaikan masalah ini secepatnya."


Deasy bangun dari duduknya. Membetulkan selimut Baruna. Lalu memberi kecupan kecil.


"Tidurlah. HP mu aku sita. Aku ga mau preman kampung itu menelponmu dan membuatmu kembali padanya. Tidak akan aku biarkan."


Baruna tersenyum dan mengangguk, dalam hatinya berkata "gawat inih....!"


"Besok aku bawakan handphone dan nomor baru" ujar Deasy. "Aku pulang dulu."


"Hati - hati sayang, jangan ngebut." Jawab Baruna. "Kalau rindu tahan aja ya..."


"Kenapa?"

__ADS_1


"Ga bisa telpon..."


Deasy menatap hp sitaannya. "Ya udah deh, aku nginep"


__ADS_2