
"brengsek, brengsek, brengsek..." seru Baruna dalam mobil.
"Lo masih cinta sama Athena?" tanya RIko yang konsen menyetir.
"Gue ga bisa ngelupain Nana. Gue masih cinta. Gue beneran cuma khilaf, gue hanya ingin mengambil hati pak boss supaya pekerjaan gue lancar. Ga ada niatan putus."
"Tapi kan lo udah ke rumahnya bro, udah batalin pernikahan lo, udah bikin malu keluarganya Nana. Sangat - sangat wajar si Nana benci setengah mati, untung aja ga manggil teman-teman satu dojo, bisa mampus lo..."
"Maka dari itu gue heran, kok ga ngamuk ya? aku udah siap2 pengawal juga waktu itu. Takut ada penyerangan."
"Lebay lo..."
"Nana juga ga pernah nyari - nyari gue, ga pernah minta penjelasan, itu yang gue bingung...."
"Saking sakit hatinya. Lo lihat deh, sekarang dia makin pendiam. gue lihat senyumnya terpaksa."
"Kan gampang, tinggal bilang gue, ayok balikan. Kita hepi lagi......."
"Diiiih.... bacot lo, gampang banget omongannya."
"Gue ga terima, udah 3 kali gue dipermalukan di depan orang banyak.."
"Terima aja bro... salah lo juga."
"Lo temen apa bukan si, kayaknya dari tadi ga ada lo ngebe;ain gue??"
Riko tertawa. "Justru karena gue temen lo, gue ingetin, ga asal iyain aja biar lo hepi..."
Baruna merubah posisi duduknya ke arah jendela, saat bergerak dia sedikit mengerang karena nyeri, Riko malah tertawa membuat Baruna makin dongkol.
Sementara itu di kafe situasi sudah normal lagi.
__ADS_1
"Istirahat, Na. NIh Americano iced favorit kamu. udah makan belum?" tanya Artha sambil menyerahkan kopi, dan duduk disebelahnya menunggu next order,
"Udah, tadi Dayu delivery ke rumah. Thanks," jawab Athena sambil menerima kopinya.
"Dayu?"
Athena mengangguk, "Galau banget kan....?"
Artha manggut-manggut. "Kamu mesti certain ke Dayu, Na."
"Itu yang aku bingung.... Kita pacaran aja belum, kalau aku bilang, Yu maaf kita ga bisa nerusin ini lagi. aku sudah menikah. Kayak orang putus kan??"
"Iya juga sih... belum ada status. Tapi makin lama makin ga jelas Na, nanti kalau si Dayu nembak kamu, dan ngajakin merid gmn?"
"Makanya aku kesini, Tha. Di rumah tadi udah mikir gitu dan makin galau. Dan lihat ini...." Athena mengacungkan handphone-nya. "Aku macam orang nungguin pengumuman masuk CPNS lulus apa ga..."
"Belum ada kabar apapun?" tanya Artha.
ting!! notifikasi pesan masuk.
Dayu
Athena mengangkat kedua bahunya. "Dayu..."
***
***
***
keesokan harinya
__ADS_1
Artha resah, sudah jam 9 tapi sahabatnya belum nampak batang hidungnya sama sekali. kirim pesan udah berkali-kali, telp udah berpuluh kali. Padahal tadi pagi masih chattingan. Ga ada bilang lagi sakit, mau ijin atau apa. Malah bilang katanya ntar malem mau jagain kafe lagi.
Pikiran Artha ga jelas, takut kecelakaan, takut hal-hal buruk terjadi.
"Ada apa si Tha, mondar-mandir gitu?" Tanya Meta.
"Nana belum nyampe, belum ngabari pula... Takut ada apa-apa..." jawab Artha.
"Oh... tadi aku lihat Nana dijemput ke rumahnya sm cowok yang dulu sering jemput kesini. Kayaknya sakit deh, soalnya si Nana dibopong, trus masuk ke mobil." jawab Meta.
"Lihat dimana?" Artha heran.
"Depan rumahnya, tadi pagi waktu mau berangkat." Jawab Meta. Rumah Meta memang 1 komplek dengan Athena.
"Oke thanks," Artha bingung.
Tadi pagi Nana ga bilang apa-apa. Apalagi tentang Baruna. Perasaan tidak enak muncul. sekali lagi dia mencoba menelpon sahabatnya.
"Nomor yang ada tuju tidak dapat dihubungi..." suara pemberitahuan operator makin membuat Artha cemas.
Tanpa berpikir panjang, Artha menuju ruangan Dayu.
Dan ternyata Dayu sedang meeting. Artha mondar-mandir di depan ruangan. Mau ngirim pesan tapi ragu.
"Ada apa Tha?"
suara Dayu membuyarkan lamunan Artha. Dengan cepat Artha menarik tangan Dayu mencari tempat yang sepi.
"Yu, Nana belum berangkat dan ga bisa dihubungi. Tadi pagi Meta melihat Athena dijemput Baruna. Aku takut, Yu... jangan-jangan Nana diculik."
to be continued...
__ADS_1