
Sesuai rencana Weekend ini Dayu dan Athena mudik. Sungkem kepada kedua orang tua Athena.
Memasuki halaman rumah jantung Athena malah berjoging ria. Wajahnya nampak tegang. kepulangan kali ini berasa berbeda. Pulang bersama pak suami.
Dayu melepaskan seat beltnya, meraih tangan istrinya dan menggenggamnya erat.
"Yang menikahkan kita adalah ayahmu, Na. Kita datang untuk memberi kabar gembira. Kita bukan pasangan kawin lari yang datang buat minta maaf. Kenapa tegang begitu?" ujar Dayu.
Athena menatap Dayu, "entahlah, rasanya aneh..."
Dayu mencium lembut tangan istrinya, lalu menempelkan tangan itu ke pipinya sendiri.
Athena masih menatapnya.
Dayu melepaskan seat belt Athena dan menarik tubuh istrinya. Dipeluknya sebentar.
"Ayok turun, aku gampang khilaf kalau deket-deket kamu," ajak Dayu. Athena tertawa.
Cup. Athena mencium bibir Dayu sekilas.
"Nah kan, mancing...!" ujar Dayu sayangnya dia kalah cepat. Istrinya sudah turun dari mobil.
"Alhamdulillah... " senyum ibu terkembang merekah saat membukakan pintu depan.
"Assalamualaikum ibu," sapa Athena lalu mencium tangan ibunya, diikuti oleh Dayu.
"Wa'alaikum salam, ayok masuk..." jawab ibu. Beriringan mereka masuk rumah.
"Cie... penganten baru, sumringah bener auranya," ledek Nadira langsung kena cubit kakaknya.
__ADS_1
"Eh kakak ipar, apa kabar bang?" tanya Rara.
"Luar biasa..." jawab Dayu.
"Kayaknya belum unboxing ya bang? Vibe emak-emaknya belum muncul..." celetuk Rara lagi.
"Apaan si...!" Athena sewot. Dayu tertawa.
"Wah... iya, belum belah duren ternyata." Rara ngakak melihat reaksi kakaknya.
"Noh, duren... sana belah." sahut Athena sambil menunjuk Durian yang ada di dekat kulkas. Durian hasil kebun belakang.
"Udah, udah... masukin barang-barang kamu ke kamar. nanti kita makan malam bersama." Kata ibu menyudahi perkelahian anak-anaknya.
Dayu senyum-senyum sendiri saat memasuki kamar Athena.
"Ngapain senyum begitu? Mesum banget mukanya..." ujar Athena masih emosi.
Athena makin gusar, "itu ngapain kunci pintu segala?"
"Mau ganti baju, takut ada yang ngintip." jawab Dayu santai sambil membuka kemejanya. memang mereka langsung berangkat mudik dari kantor. Jadi masih pakai baju kerja.
Athena salah tingkah.
Dayu benar-benar membuka kemejanya. Memamerkan dada bidang dan roti sobeknya. Bahunya yang lebar membuat Athena makin terpaku.
"Kamar mandi dimana?" tanya Dayu.
"Di belakang... dekat dapur," Athena menjawab dengan gugup.
__ADS_1
Kali ini Dayu melepaskan celananya.
Sumpah mati Athena hampir tak bisa bernafas. Reflek dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Dayu nampak tersenyum bahagia melihat Athena gugup begitu. Nomu kiyowo... imut banget ga sih... batin Dayu.
Menyisakan boxernya Dayu mendekati Athena yang makin gugup.
"Kau mau apa?" tanya Athena sambil berjalan mundur dan akhirnya mentok ke tembok.
Dayu mengunci pergerakan Athena dengan kedua tangannya.
Athena memundurkan kepalanya tapi tak ada ruang lagi, akhirnya menutup mata dan membuang muka.
Dayu mencium puncak kepala istrinya dengan lembut. Pelan-pelan Athena membuka matanya lalu memandang Dayu yang tersenyum jahil.
"Mundurlah... Apa kau tidak tahu, jantungku serasa hampir meledak," ujar Athena memelas.
Dayu malah menempelkan telinganya ke dada sebelah kiri Athena, berusaha mendengarkan detak irreguler jantung istrinya.
Athena membeku. Sebab pipi Dayu berada di benda kenyal sebelah kirinya. Wajah Athena memerah. Antara malu dan geli.
"Dayu..." ujar Athena sambil mendorong kepala Dayu.
Dayu melepaskan telinganya dari mendengarkan detak jantung Athena, sambil mencium puncak benda kenyal itu.
Athena hampir terpekik. Walaupun dicium dari luar, terhalang bh dan baju, tetap saja Athena merinding. Bulu kuduknya berdiri semua.
Dayu tertawa. "Aku mandi dulu..."
__ADS_1
Dayu memakai kaos, mengambil handuk dan meninggalkan Athena yang masih nempel di tembok.
to be continued...