KRISNA (JODOH PILIHAN AYAH)

KRISNA (JODOH PILIHAN AYAH)
7. Sunrise


__ADS_3

Jam 1 dini hari mereka baru keluar dari ruang karaoke, dan kembali ke kamar. Setelah cuci muka berganti pakaian mereka langsung terkapar.


"Besok bangun gasik. Ga ada judul ngantuk - ngantuk." Ujar Athena, tapi yang diajak bicara not responding. Sudah melalang buana entah kemana.


tutut tutut tutut tutut tutut jam 04.30 alarm ponselnya berbunyi.


Dengan mata setengah terpejam Athena meraih ponsel yang ada di meja sebelah tempat tidurnya dan kemudian memilih tombol off.


Memejamkan matanya sesaat, kemudian beranjak bangun. Tak lupa bersyukur masih diberi kesempatan untuk hidup kembali setelah periode tidur yang ibarat kata ada musik yang volumenya fullpun tak terdengar.


Segera ke kamar mandi menjalani rutinitas pagi dan kemudian menunaikan kewajibannya pada sang pencipta.


“Tha, bangun Tha…..!” ujar Athena sambil mengguncang guncang tubuh Artha.


Yang dibangunkan tak bergeming. Anteng.


Athena mencoba membangunkan lagi, tidak berhasil. Coba lagi. Seteleh beberapa kali, Artha hanya bergumam tak jelas.


“Tha, ayok. Udah jam 5 nih. Kesiangan nanti..!” seru Athena.


Tiba - tiba Artha terduduk, “jam berapa Na?”

__ADS_1


“Jam 5, kita kan mau lihat sunrise…”


“Oh…..” Artha loading dulu, “aku pikir kesiangan kerja. Aku ga ikutan. Ngantuk!”


Selesai berkata seperti itu Artha langsung menjatuhkan dirinya ke kasur.


Athena geleng - geleng kepala, “ya sudah, aku keluar dulu…”


Masih mengenakan piyama dengan ditambah jaket tebal Athena keluar hotel menuju tepi pantai.


Sebenarnya kamar yang disewanya juga menghadap ke timur, jadi bisa saja melihat sunrise dari jendela.


Tapi gadis itu memilih duduk di pasir pantai beralaskan sandal hotel menikmati suasana matahari terbit bersama deburan ombak dan angin dingin yang membuat rambutnya menari-nari.


Gadis itu tersenyum, sedikit mentertawakan nasibnya, dan lebih banyak bersyukur atas kesempatan yang Tuhan berikan padanya untuk bertemu suami yang lebih baik.


Semoga, aamiin.


Kemudian gadis itu mengambil beberapa moment matahari menampakan sinarnya melalui kamera yang sengaja dia persiapkan, dan mengabadikannya.


“Mau foto? Sini aku bantu…” ujar seseorang.

__ADS_1


Athena menoleh, sepertinya tidak asing. Tanpa menunggu jawaban lelaki itu mengambil kamera di tangan Athena dan berjalan mundur. Tidak memberi aba - aba juga dia mulai cekrak cekrek.


Athena masih terpaku, sesaat kemudian dia mengerti dan mengambil pose sesuai moodnya.


“Cantik…” ujar lelaki itu sambil menyerahkan kamera kepada pemiliknya.


“Hmmmm??” Athena menerima kameranya.


“Mataharinya………” lanjut si pemilik suara low tone itu, tersenyum dan kemudian berlalu.


“Terima kasih…” ujar Athena. Setelah itu dia cek foto - foto yang sudah tersimpan di memory kameranya.


“Wow….. keren banget, si mas itu, pinter juga ngambil fotonya.” gumam Athena. “Kayak pernah liat, dimana ya?”


“Entahlah……,” gadis itu menyerah. Dia tidak menemukan lelaki itu dalam lembaran memorinya, kemudian Athena mengangkat tangan kirinya melihat jam. Tapi yang tertangkap dalam pandangannya bukan jarum jam, tetapi gelang yang melingkar di pergelangan tangannya.


Ya, lelaki itulah yang membantunya memasang gelang itu tadi malam.


Athena menoleh mencari sosok yang sudah dua kali menghampirinya. Tapi sudah tidak nampak. Namanya juga tempat wisata, batinnya.


Matahari sudah mulai menghangatkan pagi, sinarnya semakin terang. Athena beranjak menuju hotel. Dan menemukan sahabatnya masih bersembunyi dengan nyaman di bawah selimut.

__ADS_1


to be continued...


__ADS_2