
Sabtu pagi yang cerah, Athena dan Nadira bersiap untuk bersepeda.
Helm, sarung tangan, botol minum lengkap dengan isinya sudah ready. Kedua gadis itu bersiap dengan sepatunya.
Setelah siap keduanya segera mengayuh sepedanya masing-masing berkeliling kampung.
Sengaja memang, tadi malam keduanya berniat survey seberapa besar Athena masih jadi bahan gosip. Sudah hampir 3 bulan, tapi menurut cerita Nadira masih ada yang suka berkomentar pedas kepada ayah atau ibunya saat kumpul - kumpul.
Sepanjang perjalanan Athena sengaja menyapa atau sekedar mengangguk dan tersenyum pada orang-orang yang mereka jumpai.
Karena orang tua Athena termasuk salah satu tokoh tetua di lingkungan itu, maka hampir semua orang mengenal mereka.
Berbagai ekspresi wajah mereka dapatkan pagi itu. Ada yang tersenyum ala kadarnya, ada yang benar-benar menyapa, ada yang mengerutkan alisnya tanda mereka memikirkan sesuatu.
Sampai di rumah mereka tertawa terbahak-bahak membahas ekspresi wajah orang-orang yang mereka temui.
"Waduh.... anak gadis ketawanya sampai kedengaran RT sebelah. Ibu dibagi juga dong, ceritanya," ujar Ibu.
"Wah... ini cerita anak gadis bu. Bukan cerita ibu-ibu," sahut Rara.
"Ga papa kok bu, kita lg cerita tentang reaksi orang yang kita sapa di jalan tadi," jawab Athena.
__ADS_1
"Kalian sengaja gitu?" tanya Ibu.
"Iya bu, biar booming sekalian. Didiemin kelamaan malah kasian bu. berasa di PHP," tambah Rara.
"Good job girls...." ibu mengacungkan jempolnya. Disambut tawa kedua anak gadisnya.
"Ayok sarapan dulu, kembalikan lemak yang kalian bakar tadi. Biar impas." Ajak Ibu.
"Wah... ibu emang oye.... " seru Athena sambil mengacungkan 2 jempolnya.
"Nanti sore ada kenduren di rumah Bu Lik Yayuk, kita kesana bantu masak-masak ya." ujar Ibu.
"Siap..." sahut Athena dan Nadira berbarengan.
Sore hari di rumah bu Lik Yayuk.
"Wah.... Ada Nana, pulang kapan? lama ga kelihatan ya?" sapa Bu Wiwin yang baru datang.
"Iya bu, apa kabar?" ujar Athena.
"Makin subur ini...." jawab bu Wiwin sambil menunjuk lipatan perutnya disambut tawa orang sekitarnya.
__ADS_1
"Udah dapet pacar baru belum Na?" ujar seseorang di sudut ruangan.
Nah ada yang narik pelatuk nih, siap meledak.
"Alhamdulillah belum mba." sahut Athena kalem.
"Lagian calon suami ganteng dan mapan gitu dilepas...." ujar si mba lagi.
"Ganteng, mapan kalau selingkuh ya males. Cari yang ganteng, mapan, sayang keluarga, dan SETIA." Nadira membela kakaknya.
"Main - main aja kali, ga papa. Yang penting nikahnya sama kamu, Na. Daripada ga laku..."
"Ga dong mba, kalau udah bermasalah dari awal mendingan ga usah diterusin. Jadi penyakit seumur hidup nantinya..." jawab Athena.
"Cuek aja, kan suami masih pulang ke rumah masih nafkahin. Ga ada masalah lah... Daripada malu begini. Berita udah kesebar kemana-mana eh, batal. Kasihan pak Rosadi." sambung mba Sari.
"Lebih baik diputuskan sekarang, lebih sakit lagi buat Ayahku kalau melihat anak perempuannya tidak mendapatkan kebahagiaan atau hanya kebahagiaan semu dalam pernikahannya. Mungkin mba Sari bisa menerima kenyataan jika suatu hari mba menemukan suami mba selingkuh, bisa menerima kalau diduakan yang penting masih pulang masih nafkahin. Tapi aku ga bisa mba. Orang selingkuh kalau dimaafkan nantinya akan selingkuh lagi. Mendingan malu sekarang daripada sengsara seumur hidup," tegas Athena.
"Denger-denger kamu main hajar juga ya. Mentang-mentang atlit beladiri. Mana ada lelaki yang tahan," mba Sari masih ngotot.
"Mba Sari, tidak semua jalan mudah dilalui untuk mencapai tujuan. Bahkan di jalan yang sama bisa saja itu sangat mudah dilewati satu orang tapi sangat sulit dilewati orang lain. Bukan tidak berusaha loh... Aku rasa jalanku memang buntu dan harus melewati jalan lain. mba Sari yang sabar ya... in sya Allah akan ada jodoh yang lebih baik." jawab Athena memaniskan nada bicaranya menahan geram.
__ADS_1
Nadira tersenyum melihat mba - mba dipojokkan makin terpojok. Kakak gue dilawan...
to be continued...