
Kiren sedang di sibukan dengan pekerjaan nya. Sebentar lagi adalah jam makan siang dan Dia harus segera menyelesaikan laporan yang sedang di kerjakan nya saat ini.
"Udah belum Ki? Udah jam makan siang ni" kata Tika teman satu devisi dengan nya
"Bentar dikit lagi ni" Kiren masih fokus pada layar laptop di depan nya
"Gue duluan deh kalo gitu ya, lama nungguin lo selsai mah"kata Tika
"Iye lo duluan aja sana, kaya yang gak makan satu tahun aja" kata Kiren masih fokus pada layar di depan nya
"Yee gua gak sempet sarapan tadi" Tika membantah ucapan Kiren
"Ahh elo mah sarapan gak sarapan sama aja"kata Kiren
"Udah ah gue duluan ya. Bye" Tika pun berlalu pergi
Kiren kembali fokus pada pekerjaan nya. Terdengar suara langkah kaki mendekat ke arahnya. Kiren tak memperdulikan nya Dia berfikir mungkin orang yang mau ke kantin. Tapi langkah kaki itu berhenti tepat di depan meja kerjanya. Kiren mendongak dan melihat malas pada orang di depan nya.
"Kenapa kau belum makan siang?" tanya Ferdi
"Kerjaan saya belum selesai Pak, nanggung" kata Kiren fokus pada laptopnya tanpa memperdulikan keberadaan Ferdi.
"Kan bisa nanti, makan itu lebih penting biar kita semangat bekerjanya" kata Ferdi
"Ck"
'Ni orang kenapa jadi banyak ngomong si'
"Bapak duluan saja, saya nanti nyusul" kata Kiren
"Siapa juga yang mau ngajakin kamu makan. Percaya diri sekali kamu" kata Ferdi berlalu pergi
"Huu dasar orang aneh, terus ngapain nyamperin coba kalau gak ngajak makan siang. Eh tapi kenapa gue ngarep banget Dia ajakin makan siang ya. Aduh Kiren lo kenapa si" gerutu Kiren sambil menggeleng gelengkan kepalanya
"Saya mendengarnya" kata Ferdi yang memang belum berjalan jauh dan Dia mendengar semua yang Kiren ucapkan.
"Hah" Kiren mendongak dan matanya langsung terbelalak karna ternyata Ferdi masih berada disana.
"Nanti kapan kapan saya ajakin kamu makan siang" Ferdi berbalik lalu tergelak tanpa suara
__ADS_1
"Ishhh" Kiren mengepalkan tangan nya karna kesal juga merasa malu
Setelah semuanya selesai Kiren pun segera menuju kantin untuk makan siang. Dilihat teman teman nya sudah pada selesai makan. Sekarang mereka hanya mengobrol sambil menghabiskan minuman yang mereka pesan.
"Kenapa tuh wajah kusut banget kaya gorengan keinjek" kata Rega
"Lagi kesel gue" jawab Kiren sambil terus memakan makanan yang tadi sudah Dia pesan.
"Kesel sama siapa?" tanya Rega
"Siapa lagi? Pasti sama Pak asisten. Hahaha" kata Tika tertawa mengejek
"Maksudnya Pak Ferdi?" tanya Rega ada nada tidak suka dari nada bicaranya
"Ya siapa lagi asisten paling nyebelin di dunia ini kalau bukan asisten bermuka datar itu" kata Kiren kesal
"Shuttt" Tika menggerakan bibirnya seolah memberitahu Kiren kalau ada seseorang di belakangnya
"Apaan si" Kiren tidak mengerti kode dari Tika
"Itu " kali ini Tika melirikan matanya ke arah belakang Kiren
"Haduhh" Tika menunduk kan kepalanya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal
"Ki udah" Rega membekap mulut Kiren yang akan mengeluarkan kata kata lagi.
Rega dan Tika tahu betul bagaimana Kiren kalau lagi kesel pasti akan ngomel ngomel gak jelas sampai Dia puas.
"Ekhem" Ferdi berdehem bukan karna omelan Kiren tapi karna melihat tangan Rega yang membekap mulut Kiren.
Mata Kiren melotot dan langsung melepaskan tangan Rega yang masih membekap mulutnya. Kiren menoleh ke belakang benar saja Ferdi berdiri dengan wajah datarnya. Tapi sorot mata nya sangat tajam mengintimidasi.
"Kenapa lo berdua gak bilang si" lirih Kiren sambil menunduk
"Gue udah ngasih lo kode tadi, lo nya aja gak peka" kata Tika pelan
"****** gue" kata Kiren lirih
"Kirena Saputri ikut ke ruangan saya" kata Ferdi tegas
__ADS_1
"Ba..baik Pak" Kiren segera bangkit dari duduk nya dan mengikuti langkah Ferdi
"Semangat Ki" kata Tika tanpa suara sambil mengepalkan tangan ke atas memberi semangat pada Kiren yang menoleh ke arah nya.
Kiren hanya menunduk dan mengikuti langkah kaki Ferdi menuju lif.
Kini Ferdi dan Kiren sudah berada di dalam ruangan Ferdi. Kiren hanya diam menunduk di depan meja kerja Ferdi.
'Kenapa tatapan nya sangat menakutkan si'
Ferdi duduk di kursi kebesaran nya sambil bersidekap dada. Menatap tajam pada Kiren. Terlihat Dia sangat marah dari tatapan matanya.
"Kamu tau apa kesalahan mu?"
Setelah cukup lama saling diam akhirnya Ferdi membuka mulutnya memulai pembicaraan.
"Iya Pak, maafkan saya karna sudah membicarakan bapak di belakang" kata Kiren semakin menunduk
'Cih Dia benar benar tidak tahu apa alasanku marah padanya'
Ferdi berdiri dan berjalan ke arah Kiren. Dia menyandar pada meja kerjanya masih dengan bersidekap dada menatap pada Kiren yang hanya menunduk.
"Kenapa menunduk ? Mana Kiren yang berani mengomeli ku tadi" kata Ferdi sinis
"Maafkan saya Pak" kata Kiren mendongak menatap pada Ferdi
"Berani kau menatap ku setelah apa yang kau lakukan tadi" kata Ferdi setengah berteriak
'Cih tadi katanya kenapa menunduk. Di saat aku menatapnya Dia malah bicara seperti itu. Dasar manusia aneh '
"Kau harus menjadi budak ku selama satu bulan karna kesalahan kau sangat fatal" kata Ferdi tegas
Kiren mendongak dan membelalak kan matanya "Tapi Pak saya...."
"Berani kau melotot padaku, tidak ada penolakan atau negosiasi apapun. Mulai sekarang kau harus menuruti apa yang ku katakan" kata Ferdi tegas
Kiren hanya bisa menelan salivnya membayangkan selama sebulan Dia akan terus terikat dengan Ferdi lelaki yang selalu membuatnya kesal.
Bersambung
__ADS_1