Ku Ingin Bahagia

Ku Ingin Bahagia
Bonscap 2


__ADS_3

"Lo tenang Syil, tarik nafas buang.. lakuin itu terus berulang kali" kata Kiren melirik sekilas pada Syila yang duduk di kursi penumpang sambil menahan sakit


"Uhh. Si Kenzo kenapa gak di angkat angkat si. Gue gibeng juga tuh anak" kesal Kiren sambil menekan tombol di airphone yang terpasang di telinganya


"Mungkin.. ma..sih meeting Ki" kata Syila terbata bata karna rasa sakit yang semakin menjadi


"Ferdi juga susah banget di hubungin lagi"


"Udah..Lo fo..kus nyetir aja, nanti kalo udah sampe rumah sakit Lo coba hubungin lagi mereka berdua" kata Syila


Kiren mengangguk dan menambah kecepatan mobilnya saat jalanan mulai lenggang. Sesampainya di rumah sakit keluarga Williams, Kiren segera memanggil beberapa perawat untuk membawa Syila.


Kiren menunggu di luar ruangan pemeriksaan. Syila belum di bawa ke ruangan bersalin karna sepertinya pembukaan nya belum sepenuhnya.


Ceklek


Kiren langsung berdiri dan menghampiri dokter yang keluar dari ruangan Syila "Gimana keadaan nya, Dok?"


"Masih pembukaan lima, kita masih harus menunggu. Lebih baik segera kasih tau Tuan Kenzo, Nona" kata Dokter sopan karna Dia tahu siapa dua wanita ini


Kiren mengangguk "Baik Dok, terimakasih"


Kiren masuk ke dalam ruangan Syila, mendekat ke arah ranjang pasien dimana Syila sedang berbaring dengan menahan sakitnya.


"Sabar Syil.. Lo kuat dan Lo pasti bisa berjuang bersama anak Lo" kata Kiren


"Lo tidurnya miring, biar Gue usapin pinggangnya" lanjutnya lagi


Asyila pun menurut, Dia memiringkan tubuhnya membelakangi Kiren. Dengan penuh kesabaran Kiren mengelus punggung sahabatnya itu. Dengan tangan yang satunya lagi sibuk menelpon Kenzo dan Ferdi.


"Laki Lo susah banget di hubungin Syil, Ferdi juga sama" gerutu Kiren


Dia terus menghubungi keduanya secara bergantian. Sementara Syila semakin meringis menahan sakit di perut dan pinggangnya.


Air mata sudah menetes dari pelupuk mata Syila "Sakit banget Ki"


"Sabar Syil, Lo harus kuat demi anak Lo" kata Kiren dengan ponsel yang sudah menempel di telinganya

__ADS_1


"Hallo, ahh akhirnya kau angkat juga telponnya"


"Ada apa?"


"Syila mau melahirkan, Dia udah ada di rumah sakit Will.Hospital"


"Apa? Oke aku segera kesana"


Kenzo langsung menutup sambungan telponnya tanpa menunggu lagi jawaban dari Kiren.


"Emang ngeselin laki Lo Syil, Gue belum selesai ngomong udah di matiin aja" kesal Kiren


...⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘...


Kenzo sudah seperti orang kesetanan. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Fikirannya sekarang hanya tertuju pada sang istri.


"Syila kamu kuat, kamu harys baik baik saja bersama bayi kita. Tuhan, kumohon selamatkan anak dan istriku"


Sesampainya di rumah sakit, Kenzo langsung keluar dari mobil dan berlari kencang memasuki rumah sakit.


"Tuan Kenzo" sapa kepala rumah sakit yang melihat Kenzo


"Ada di ruang VVIP, Tuan ayo ikut saya"


Kenzo pun mengikuti kepala rumah sakit itu. Dia langsung masuk ke dalam ruangan Syila saat sudah sampai di sana.


"Sayang"


Asyila menoleh ke arah suaminya yang berjalan tegap menghampirinya. Kenzo terlihat sangat cemas dan khawatir.


"Sayang" kata Asyila dengan kembali meringis


Kenzo mencium kening istrinya "Aku bilang juga apa? Kamu si selalu menyuruh aku untuk pergi kerja. Sekarang lihat'kan saat aku pergi kamu merasakan kontraksi"


"Aku gak papa kok, lagian aku juga gak mau ganggu pekerjaan kamu" lirih Asyila kembali meringis saat kontraksi kembali datang


"Mana yang sakit hmm? Mana dokter nya kok gak jagain kamu disini? Kalo sampe kamu kenapa napa gimana?" kata Kenzo marah bercampur rasa cemas

__ADS_1


"Tadi kata dokternya Syila masih harus menunggu beberapa jam lagi sampai pembukaan nya sempurna" jelas Kiren yang dari tadi hanya diam mendengarkan omelan Kenzo


Kenzo menoleh ke arah Kiren, sepertinya Dia tidak menyadari keberadaan Kiren di sana.


"Gila apa ya? Bagaimana mungkin aku harus menunggu selama itu saat melihat Syila sudah kesakitan begini" teriak Kenzo marah


"Panggilkan dokternya sekarang" bentaknya pada kepala rumah sakit yang hanya bisa diam. Mau menjelaskan pun sepertinya tidak akan mempan untuk Tuan Kenzo yang sedang di landa kekhawatiran.


"Baik Tuan" akhirnya Dia hanya bisa pasrah menuruti kemauan Tuannya ini.


"Ya ampun Kenzo, kalo kau mau Syila cepat cepat melahirkan ya harus dengan jalan operasi dong. Kalo mau dengan cara normal ya harus sabar menunggu sampai waktunya tiba" kata Kiren menggelengkan kepalanya heran


CEO kok Oon kalo udah berurusan tentang istri tercintanya.


"Gak usah ngatain suami Gue Ki" kata Syila yang melihat raut wajah sahabatnya itu


Kiren hanya terkekeh dengan mengangkat dua jarinya membentuk huruf V.


"Sayang, kamu tenang dulu ya. Aku gak papa kok nunggu sampe anak kita siap lahir ke dunia ini. Kamu jangan terlalu panik begini" kata Syila mencoba menenangkan suaminya


Ini sebenarnya yang mau lahiran siapa si? Kok malah si istri yang


menenangkan suami.


Kiren tersenyum geli melihat pemandangan di depannya


"Aku gak mungkin bisa tenang kalo liat kamu aja kesakitan begini" kata Kenzo


"Ini sud..ah kodratnya seorang wanita Sayang. Lagian mau kita memilih jalan operasi atau normal, sakitnya tetap sama" jelas Syila dengan meringis menahan sakit


Kenzo mengusap wajah kasr "Terus kamu mau ambil yang mana?"


Syila mencoba tersenyum "Alu sudah merasakan kontraksi dan kandungan ku juga baik baik saja. Jadi, aku memilih untuk melahirkan normal saja"


"Huh. Baiklah"


Akhirnya diam juga nih suami posesif. Kiren

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2