
Ferdi, Hani dan Andi sedang duduk di kursi tunggu depan UGD. Dokter belum juga keluar dari ruang pemeriksaan Kiren.
Hani sudah menangis terisak, sementara Andi hanya diam dengan perasahaan campur aduk. Dia tidak menyangka kalau anaknya akan mengalami shock sampai Dia pingsan.
Tak lama kemudian dokter keluar dari ruang rawat Kiren. Semua orang langsung berdiri dan menghampiri dokter.
"Bagaimana keadaan anak saya dokter?" tanya Hani
"Pasien mengalami shock, tapi sekarang sudah lebih baik" jelas Dokter
Semuanya bernafas lega saat mendengar penjelasan dokter. Setelah dizinkan untuk melihat Kiren, mereka pun langsung masuk ke ruangan Kiren.
"Ki, bangunlah Nak"
Ibu Hani duduk di kursi samping ranjang pasien. Menggenggam tangan Kiren sambil terus menatap ke arah wajah anaknya. Berharap mata itu akan segera terbuka.
Ferdi berdiri di belakang Hani, menatap cemas pada kekasihnya yang belum sadar juga.
Bangunlah sayang, jangan membuat aku khawatir. Jika aku tahu kau akan seperti ini, aku tidak akan menemukan mu dengan Ayahmu.
Andi berdiri mematung, berdiri dengan jarak agak jauh dari Ferdi dan Hani. Andi menatap sendu pada putrinya yang terbaring dengan wajah pucat.
Maafkan Ayah Nak, maafkan Ayah.
Tak lama kemudian Kiren mengerjapkan matanya. Membuka matanya perlahan, menatap langit langit kamar rumah sakit.
Kiren teringat apa yang terjadi padanya tadi. Tak terasa air mata menetes dari sudut matanya.
"Ki, kamu sudah sadar. Ini Ibu Nak" Hani tersenyum tapi air mata tetap mengalir di pipinya.
__ADS_1
"Bu" terdengar sangat lirih Kiren memanggil Ibunya.
"Iya Sayang, ini Ibu. Ibu ada disini" Hani bengun dari duduknya dan mengelus kepala putri kesayangan nya.
"Bu, maafkanlah Ayah"
Semua orang terkejut mendengat ucapan Kiren yang terdengar sangat pelan. Andi menatap penuh haru pada anaknya. Sementara Ferdi dan Bu Hani menatap tidak percaya pada Kiren.
"Istirahatlah Ki, jangan bicara aneh aneh" kata Ibu Hani
Terlihat jelas kemarahan di mata Bu Hani. Andi tahu apa yang Hani rasakan, Dia bisa mengerti jika Hani bersikap seperti itu. Andi pun tidak menyangka kalau Kiren akan mengucapkan kata kata itu.
"Bu, sebaiknya Ibu ke kantin. Beli minum supaya Ibu lebih tenang. Biar Ferdi yang bicara sama Kiren" kata Ferdi
Hani mengangguk, Dia rasa saat ini memang butuh waktu untuk menenangkan diri. Hani keluar dari ruangan Kiren.
"Terimakasih Ki"
Andi langsung keluar menyusul Hani yang sudah lebih dulu pergi ke kantin. Andi menarik nafas dalam lalu menghembuskan nya. Melihat Hani duduk di kursi pojok dengan segelas minuman di mejanya.
Andi merasa sangat gugup, Dia tahu dan sadar kalau perbuatan nya sangat menyakiti dua wanita itu.
Andi berjalan ke arah dimana Hani berada. Duduk di depannya meskipun mendapat tatapan tajam dari wanita itu.
"Mau apa kamu kesini Hah?" kata Hani sinis
"Maaf" hanya itu yang mampu keluar dari mulut Andi.
"Maaf? Kau fikir semuanya akan bisa terobati dengan kata maaf Hah? Semua rasa sakit anak ku saat teman temannya mengejeknya karna punya Ayah. Apa semua itu akan terobati dengan kata maaf?" teriak Hani emosi, air mata kembali mengalir begitu saja.
__ADS_1
"A...aku tahu Hani, tapi tolong beri aku kesempatan kedua untuk memperbaiki semuanya. Izinkan aku menebus segala kesalahanku pada Kiren" kata Andi
"Memperbaiki kesalahanmu? Tidak ada yang perlu di perbaiki lagi, pergilah! Jangan pernah datang menemui kami lagi. Aku dan Kiren sudah biasa hidup tanpamu. Jangan merusak kebahagiaan kami" Hani berdiri dan langsung pergi meninggalkan Andi.
Sesakit itukah kau dulu Han, maafkan aku Hani. Kiren maafkan Ayah.
...⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘...
Di ruang rawat Kiren, Ferdi terus menggenggam tangan kekasihnya. Dia benar benar khawatir dengan ke adaan Kiren.
"Apa kamu yakin dengan apa yang kamu katakan tadi sayang?" tanya Ferdi
Kiren menghembuskan nafas kasar "Mungkin aku terlihat baik baik saja di depan semua orang bahkan di depan Ibuku. Tapi jika boleh jujur aku rapuh, aku lelah dengan hidup ini. Jika boleh aku ingin menyerah saja"
"Dulu aku selalu berharap kalau Ayah akan datang kembali menemuiku dan Ibu. Tapi sampai aku besar pun Ayah tidak lagi datang menemuiku. Saat itulah aku sadar kalau Ayah tidak akan menemuiku lagi" air mata telah mengalir di pipi Kiren.
"Sungguh aku tidak menyangka kalau hari ini aku akan bertemu lagi dengan Ayah. Jika boleh jujur, aku sangat benci, marah dan kecewa pada Ayah. Tapi hatiku tetap merindukan sosok nya. Sebesar apapun kesalahan yang telah di perbuatnya, tetap saja Dia adalah Ayahku"
Ferdi memeluk kekasihnya yang sudah menangis sesenggukan.
Kenapa hidupmu begitu menderita sayang. Aku janji akan membahagiakan mu mulai saat ini dan seterusnya.
"Jika saja Ayah dan Ibu bisa kembali seperti dulu. Mungkin aku akan sangat bahagia. Tapi setidaknya Ibu mau memaafkan Ayah sudah cukup untuk ku" kata Kiren di dalam pelukan Ferdi.
"Iya aku tahu, sudah ya sekarang kamu jangan sedih lagi" Ferdi mengelus punggung kekasihnya yang bergetar
Dua pasang mata dan telinga mendengar dan melihat adegan itu. Keduanya diam mematung baru menyadari kalau disini Kiren lah yang menjadi korban nya.
Bersambung
__ADS_1