
Ferdi hanya banyak diam dan sesekali tersenyum tipis saat ada yang mengajaknya bicara. Stengah jam yang lalu Ferdi dan kedua orang tuanya sampai di kediaman Wijaya. Anak gadis Tuan Andi Wijaya ternyata sangat cantik dan juga agresif. Dia bernama Fira Wijaya.
"Aku kira anak anak kita memang sangat cocok" kata Andi
Hardi mengangguk "Iya, jadi kapan kita langsungkan pernikahan nya?"
Uhuk Uhuk
Ferdi langsung terbatuk batuk, Dia tidak menyangka kalau ayahnya akan melaksanakan pernikahan mereka secepat ini.
"Aku si terserah pada mereka saja. Bagaimana Fira?" tanya Andi
"Fira mau ko kalau pernikahan nya di adakan secepatnya" kata Fira dengan senyum merekah dan terus bergelayut manja di tangan Ferdi.
Benar benar wanita murahan.
"Yah, Tuan saya meminta untuk saling mengenal dulu sama Fira. Jadi saya minta waktu untuk saling mengenal dan memahami satu sama lain dulu" kata Ferdi menolak secara halus
"Ohh ayolah Ferdi, jangan memanggilku Tuan. Panggilah aku Om atau Papa" kata Andi menepuk bahu Ferdi
"Baiklah Om"
"Oke kalau kalian mau saling mengenal terlebih dahulu Ayah dan Om Andi akan menyetujuinya" kata Hardi
Ferdi tersenyum tipis, sementara Fira hanya tersenyum di paksakan karna sejujurnya Dia sangat ingin segera menikah dengan Ferdi.
Ahh sudahlah, lebih baik aku mengalah dulu. Aku yakin Ferdi akan jatuh ke pelukan ku.
"Baik Pa, Om Fira setuju" kata Fira
Ferdi tersenyum tipis, kini Dia tinggal menjalankan rencana nya. Menyelidiki keluarga Wijaya lewat putri kesayangan nya.
...⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘...
"Terus lo izinin Ki?"
Asyila sedang menelpon Kiren, dan Kiren pun menceritakan semuanya tentang perjodohan Ferdi dengan adik tirinya. Asyila cukup mengerti perasaan Kiren saat ini.
"Iya. Ferdi bilang kalau Dia mau menyelidiki kelyarga ayah dan ya gue belum ngerti si apa tujuan Dia sebenarnya"
Asyila menghela nafas "Ya udah sekarang lo hanya perlu percaya aja sama Ferdi. Gue yakin kalau Dia pasti bisa mengatasi semua ini"
"Iya Syil, makasih ya lo udah mau dengerin curhatan gue"
__ADS_1
"Iya Ki, lo kaya sama siapa aja. Dulu juga lo kan yang selalu dengerin curhatan gue. Sekarang gantian dong"
Setelah menelpon Kiren, Syila kembali masuk ke dalam kamar. Dia melihat suaminya sedang duduk di pinggir tempat tidur.
"Yank" panggil Kenzo
Syila tersenyum dan berjalan mendekati suaminya. Asyila duduk di pangkuan Kenzo.
"Habis telpon siapa hmm?" Kenzo memeluk pinggang Syila
"Kiren, Dia abis cerita kalau ternyata Ferdi di jodohkan sama adik tirinya" kata Syila
"Ohh" Kenzo hanya bersikap biasa saja karna Dia sudah tahu semuanya.
"Kamu udah tau ya?" kata Syila menyipitkan matanya
"Hahaha. Apa si sayang, iya aku udah tau" Kenzo mencubit gemas pipi istrinya
"Ihh ko gak cerita sama aku" Syila memukul kesal bahu suaminya.
"Lah kamu gak nanya" kata Kenzo santai
"Ishhh. Ngeselin"
Syila langsung turun dari pangkuan suaminya dan naik ke tempat tidur. Berbaring dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut, hanya rambutnya saja yang terlihat.
"Jangan marah dong sayang" Kenzo memeluk Syila yang membelakanginya.
"Maaf ya karna aku gak cerita " tambahnya lagi.
Lagian kenapa aku harus minta maaf coba? Tapi ya udahlah kalau sama bumil emang harus mengalah.
"Hmmmm" hanya itu yang keluar dari mulut Syila.
Kenzo tersenyum lucu, Dia terus memeluk istrinya dan mengusap perut buncit Syila.
"Jangan marah dong, kan aku udah minta maaf sayang" kata Kenzo lagi
"Iya, udah ah aku mau tidur ngantuk" kata Syila
Kenzo bernafas lega saat sang istri sudah berbicara lagi padanya.
Bisa gawat kalau bumil marah lama lama.
__ADS_1
...⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘...
Kiren merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Menatap langit langit kamarnya. Memikirkan apa yang akan terjadi kedepan nya. Sampai saat ini Kiren tidak tahu wajah adiknya yang mungkin sudah dewasa.
Seandainya ayah tidak melakukan ini semua. Mungkin aku tidak akan membencimu.
Jujur saja Kiren sangat menyayangi ayahnya. Sewaktu kecil ayahnya memang sangat menyayangi Kiren. Tapi ternyata semua itu hanya sandiwara semata agar orang tuanya mempercayakan semua aset keluarga besar Wijaya padanya.
Setidak berarti itukah Kiki untuk ayah? Apa ayah pernah mengingatku sedikit saja?
Kiren menghapus air mata yang mengalir begitu saja. Membayangkan hidupnya selama ini tanpa sosok seorang ayah. Benar benar sangat berat dan Kiren harus menjalaninya demi ibunya.
Jika boleh, aku ingin menyerah saja. Lelah jika terus menghadapi hidup ini yang terlalu jahat padaku.
Dret...Drettt
Kiren menghapus air matanya, mengambil ponsel yang di letakan di sampingnya. Senyum samar saat melihat Ferdi menelpon nya.
"Hallo"
"Hallo sayang, kenapa dengan suaramu?"
Ferdi sangat peka dengan suara Kiren yang terdengar parau seperti habis menangis.
"Sayang kau menangis?" sudah tidak sabar karna Kiren hanya diam saja.
"Ekhem.
Enggak ko, aku gak papa"
"Jangan bohong sayang, kenapa hmmm?"
"Gak papa, oh ya gimana pertemuan mu dengan adik ku? Apa Dia cantik? Siapa namanya?"
Sayang kenapa kau masih saja menganggapnya adikmu. Ferdi
"Namanya Fira, tentu saja lebih cantikkan dirimu"
"Hemmm. Fira ya, aku sangat ingin melihat wajahnya"
"Sudah sayang, jangan fikirkan itu. Sekarang kau tidur ini sudah malam"
"Hmmm. Baiklah, selamat malam sayang"
__ADS_1
"Selamat malam sayang ku"
Bersambung