
Syila mengantar suaminya sampai ke depan rumah. Kenzo memang sudah siap untuk berangkat ke kantor.
"Baik baik di rumah, jangan kelelahan ingat kau sedang hamil"
Kenzo selalu saja mengungatkan pada Syila agar selalu memperhatikan kesehatan dan keselamatan nya. Apalagi sekarang kandungan Syila sudah memasuki bulan ke tujuh membuat Kenzo semakin posesif.
"Iya Sayang, aku akan baik baik di rumah. Udah sana cepetan pergi ihh. Udah siang juga" kata Syila mulai kesal karna suaminya selalu mengatakan itu hampir setiap hari.
"Iya aku pergi ya" Kenzo mencium kening istrinya sebelum pergi dan masuk ke dalam mobil.
Syila menatap mobil suaminya sampai mobil itu keluar dari gerbang rumah nya. Baru Syila kembali masuk ke dalam rumah.
Syila duduk di balkon kamar nya. Menatap ke arah taman yang tepat berada di bawah kamarnya.
'Aku masih belum menyangka kalau sekarang aku bisa hidup bahagia dengan suamiku yang dulunya sangat membenciku. Bahkan mertua dan adik iparku kini menerima kehadiranku di keluarganya. Rencana mu sungguh tidak bisa di tebak. Terima kasih Tuhan karna sudah memberikan kebahagiaan ini padaku'
Syila tersenyum sambil mengelus perut buncitnya. Merasakan tendangan tendangan kecil dari bayi yang sedang di kandungnya.
"Sayang apa kau tahu, dari dulu hanya satu harapan Mama. Ku ingin bahagia, itulah yang selalu Mama ucapkan dalam setiap doa. Kini Mama sudah bahagia karna kehadiran mu dan Papa mu yang begitu menyayangi kita"
Ku Ingin Bahagia.
Itulah kata yang selalu Syila ucapkan. Harapan nya selama ini hanya ingin merasakan bahagia dalam hidupnya. Cukup dari kecil sampai Dia dewasa Dia menderita. Dan sekaranh Syila sudah merasakan kebahagiaan berkat kesabaran nya selama ini.
...⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘...
Kiren masuk ke dalam kantornya dengan senyuman bahagia. Hari ini Dia tidak membawa motornya karna sang kekasih tiba tiba sudah berada di depan rumah untuk menjemputnya.
__ADS_1
'Kenapa sebahagia ini? Ohh inikah yang di rasakan Syila dulu?'
Kiren mengingat dulu kalau Dia selalu meledek Syila karna di nilainya terlalu lebay ketika menceritakan Kenzo. Padahal waktu itu Kenzo hanyalah berpura pura saja. Tapi Syila tidak menyadarinya.
Kiren mulai mengerjakan pekerjaan nya. Dia selalu fokus dalam bekerja, bahkan Dia sering lupa makan jika sedang banyak pekerjaan.
Jam makan siang semua teman teman karyawan yang lain sudah pergi ke kantin. Sementara Kiren masih berkutat dengan laptop di depan nya dan beberapa berkas yang harus Dia periksa.
"Sudah ku duga kalau aku tidak kesini pasti kau tidak akan makan siang lagi"
Kiren mendongakan wajahnya saat mendengar suara yang tidak asing lagi. Ferdi sudah berdiri di depan meja kerja Kiren dengan tatapan tajam dan juga wajah datar nya.
"Eh ko disini? Bukannya udah gak kerja di sini lagi?" tanya Kiren kaget
"Memangnya kenapa kalau aku kesini? Terserah dong aku mau datang kesini walaupun aku udah gak kerja di sini lagi" kata Ferdi datar
"Oh iya juga ya" kata Kiren, bingung harus menjawab apa
"Sekarang jam berapa?" tanya Ferdi masih dengan ekspresi datarnya.
Kiren melihat jam tangan nya "Jam 1 siang"
"Berarti sekarang waktunya ?" tanya Ferdi lagi
"Makan siang" jawab Kiren santai masih menatap pada jam tangan nya
"Terus kenapa kamu masih berada disini?" tanya Ferdi kesal
__ADS_1
"Hah? Aku masih punya kerjaan, nanggung nanti aja makan siang nya" kata Kiren
"Ck makan siang dulu, kerjaan bisa nanti"
Tanpa aba aba Ferdi langsung menarik tangan Kiren dan membawanya ke parkiran. Kiren hanya menurut saja, bahkan tas nya pun tidak Dia bawa karna Ferdi menariknya begitu saja. Kiren masuk ke mobil Ferdi setelah laki laki itu membukakan pintu mobilnya.
Mobil telah melaju meninggalkan Will.Group. Tapi keduanya masih diam saja, sesekali Kiren melirik ke arah Ferdi yang menatap lurus ke jalanan di depan nya. Masih dengan wajah datar dan kesal nya.
'Dia ini kenapa si? Ko begitu amat mukanya'
"Ferdi" panggil Kiren pelan
"Hmmm" masih fokus menyetir tanpa menoleh ke arah Kiren.
"Kau kenapa? Ko kaya kesel gitu?" tanya Kiren menatap Ferdi
"Kau fikir aku kenapa hah? Pleass lah Ki, aku itu tidak selalu berada di dekatmu. Aku tidak akan selalu mengawasimu. Apa kau tidak bisa menjaga kesehatanmu hah? Kau bisa sakit kalau terus terusan mengabaikan makanmu, kau selalu saja mementingkan pekerjaan. Aku tidak mau kau sakit"
Penjelasan Ferdi membuat Kiren terharu. Ternyata ada yang sangat mengkgawatirkan nya selain ibunya. Kiren sangat bahagia di perhatikan oleh kekasihnya itu.
"Maaf, aku janji tidak akan mengulangi lagi"kata Kiren
Kiren memberanikan diri menyandarkan kepalanya di bahu Ferdi. Dia menatap sekilas pada wajah Ferdi yang masih fokus menyetir. Tapi raut wajah kesalnya sudah menghilang.
"Maaf ya, jangan marah lagi" kata Kiren lagi
"Hmm. Jangan ulangi lagi, aku sayang sama kamu. Jangan membuatku khawatir dengan kebiasaan burukmu itu" kata Ferdi mengecup kepala Kiren yang menyandar di bahunya dan kembali fokus menyetir.
__ADS_1
Bersambung