Ku Sangka Kau Malaikat

Ku Sangka Kau Malaikat
Siapa Rival?


__ADS_3

"Loh hei cuman begini doang? apakah dia sedang berakting? kenapa David yang ini berbeda sekali dengan David yang ada di deskripsi yang Haris jabarkan?" ucap Novela dalam hati bertanya tanya.


Tepat setelah itu lampu ballroom kembali bercahaya dengan alunan musik yang berganti dengan musik santai.


" Terima kasih atas partisipasinya selamat menikmati acara yang kita sajikan selanjutnya." ucap presenter tersebut diiringi dengan riuh tepuk tangan tamu undangan yang hadir di sana.


" Saya permisi dulu." ucap Novela dengan sopan sambil tersenyum yang di balas anggukan oleh David.


Novela lantas bergegas menuju ke meja minuman dan mengambil minuman non alkohol di sana kemudian langsung meneguknya dengan tergesa.


" Apa sebuah tarian kecil membuat mu begitu haus?" ucap Richard dengan tiba tiba yang langsung membuat Novela menoleh ke arahnya.


" Waduh siapa lagi ini? kenapa dia kemarin tidak ada di buku yang di berikan Haris? mati aku kalau sampai salah jawab." ucap Novela dalam hati sambil membalas perkataan Richard dengan senyuman.


" Ini sungguh kau An?" tanya Richard sambil memandangi Novela dari atas hingga bawah dengan tatapan seperti tak percaya bahwa yang di depannya benar benar Ane.


Mendengar hal itu lagi lagi Novela hanya membalasnya dengan senyuman tanpa ingin mengatakan sepatah kata apapun kerena Novela takut ia akan salah bicara jika membuka mulutnya.


Ketika Richard tengah di landa penasaran akan sosok Ane yang tiba tiba muncul di depannya, dari arah kejauhan Ranti dan Putra berjalan mendekat ke arah Novela yang lantas membuat Novela menjadi tegang ketika melihat mereka.


" Hai An lama kita tidak bertemu." ucap Ranti sambil mengalunkan tangannya ke tangan Putra dengan erat.


" Oh hai" ucap Novela mencoba bersikap setenang mungkin di hadapan Putra dan juga Ranti.


Richard yang melihat perubahan ekspresi dari Novela lantas di buat semakin curiga dengan wanita yang berwajah Ane di depannya ini.


" Aku yakin ada sesuatu yang telah terjadi, dan kunci dari semua rasa penasaranku hanya Alder, ya hanya Alder yang akan bisa menjawab segalanya." ucap Richard dalam hati sambil masih terus menatap ke arah Novela.


" Kemana saja kau selama ini?" pancing Ranti mencoba mencari celah dari sosok Ane di hadapannya.

__ADS_1


Mendapat pertanyaan itu dari Ranti, Novela berusaha untuk tetap tenang dan menjalankan sandiwaranya dengan sempurna. Untung saja Haris sudah membuat semua biodata Ane dan juga orang orang di sekitarnya dengan lengkap, hanya saja Novela tidak pernah menduga bahwa ia akan kembali berhubungan dengan Ranti maupun Putra lagi secepat ini.


" Aku melanjutkan kuliahku yang sempat tertunda karena beberapa masalah yang pernah terjadi, terima kasih banyak sudah memperhatikan ku, bukankah begitu Ranti?" ucap Novela dengan senyuman sinis yang ia ukir di wajahnya.


" Boleh juga gadis ini." ucap Richard yang masih senantiasa memperhatikan seluruh gerak gerik Novela.


Ranti yang mendapat sindiran itu lantas terdiam, Ranti mengira Ane akan bersikap lemah lembut seperti biasanya namun sayangnya Ane yang ini benar benar berubah.


" Baiklah kami permisi dulu, selamat menikmati pesta ini nona." ucap Putra kemudian yang mengetahui suasana mulai tidak enak di sana sambil sengaja mengerlingkan sebelah matanya kepada Novela.


" Dasar mata keranjang." ucap Novela dalam hati kala melihat kerlingan mata Putra.


Setelah kepergian Ranti dan juga Putra, Novela lantas menoleh ke arah Richard yang menyapanya tadi namun sayangnya Richard sudah pergi dari sana.


" Sudah pergi ya, apa yang harus aku lakukan sendiri di sini sekarang? mana pernah aku datang ke pesta beginian, nyesel aku dulu kudet banget." ucap Novela dalam hati sambil mengambil gelas keduanya namun kali ini tidak langsung Novela teguk melainkan hanya sebagai pegangannya saja agar nampak seperti beberapa orang di sekitarnya dalam kata lain hanya untuk berbaur dengan sekitarnya.


" An" ucap seseorang.


" Ane" ucap pria itu lagi sambil menepuk bahu Ane pelan namun tetap saja membuat Novela tersentak kaget.


" Astaga" ucap Novela.


" Apa aku mengejutkanmu?" ucap pria tersebut.


" Loh ini siapa ya? kok sepertinya tidak ada di dalam daftar orang terdekat atau orang orang penting? apa aku melewatkannya? sepertinya tidak mungkin deh aku bahkan sudah membacanya berulang kali." ucap Novela dalam hati.


" Hai kenapa kamu melamun? jangan bilang kamu melupakan ku." ucap pria tersebut namun dengan tangannya yang memegang kedua bahu Novela yang terekspos sambil mengelus pundak Novela seperti sengaja di lakukan.


Novela yang merasa risih lantas mundur perlahan menjauh dari pria tersebut.

__ADS_1


" Aku Rival, bukankah kita pernah lebih dari sekedar bersentuhan? kenapa reaksi mu sampai seperti itu An? jangan bilang kau melupakannya?" ucap pria tersebut yang memperkenalkan namanya Rival.


Mendengar hal itu Novela lantas hanya tersenyum dan enggan menanggapi ucapan Rival barusan.


" Ayolah An jangan jual mahal seperti itu...." ucap Rival sambil berusaha memegang tangan Novela namun berhasil di tepis oleh Novela secara terang terangan yang lantas membuat mimik muka Rival berubah menegang.


" Maaf sepertinya kita bicara lain waktu saja saya mau permisi ke toilet." ucap Novela dengan nada yang sopan namun penuh penekanan.


Novela lantas berjalan meninggalkan Rival menuju ke arah toilet, yang tanpa Novela sadari Rival mengikuti langkah Novela hingga ke toilet.


Sementara itu setelah Richard berbincang sebentar dengan Novela yang berwajah Ane, Richard kemudian pergi ke bartender tempat disajikannya segala jenis minuman beralkohol di pesta itu.


" Di sini lo rupanya setelah membuat kehebohan, santai banget ya lo malah duduk duduk di sini sementara Ane kebingungan mencari lo." ucap Richard dengan nada menyindir Alder


" Biarkan saya dia beradaptasi, lagi pula aku selalu memantaunya dari sini." ucap Alder sambil meneguk minuman miliknya.


Richard yang mendengar hal itu lantas mengerutkan kening dan bingung karena tidak mengerti akan ucapan Alder.


" Beradaptasi dengan apa? apa yang sebenarnya aku lewatkan Al?" tanya Richard yang tidak mengerti tentang arah pembicaraan Alder.


" Bukankah kau baru saja berbicara dengan Ane?" tanya Alder dengan senyum di ujung bibirnya.


" Ya, lalu?" tanya Richard


" Apa kau masih tidak menyadari satu hal tentang Ane?" tanya Alder balik kepada Richard


" Aku tahu Al, tapi masalahnya aku bingung harus mengatakannya bagaimana, aku sungguh tahu bahwa dia bukan Ane tapi seluruh penampilan yang melekat padanya hingga wajahnya adalah Ane, aku seakan akan tahu tapi juga tidak tahu." ucap Richard dengan putus asa.


Mendengar hal itu Alder lantas tersenyum namun detik berikutnya senyuman itu menghilang kala mengetahui Novela seperti tidak nyaman karena kehadiran seseorang, Alder awalnya hanya diam dan memperhatikan namun semakin diperhatikan pria itu semakin tidak tahu diri, Alder kemudian lantas bangkit dan melangkah menuju ke arah Novela pergi.

__ADS_1


" Hei Al, lo belum jelasin semua, main kabur aja Al." ucap Richard setengah berteriak karena melihat Al yang tiba tiba saja pergi.


Bersambung


__ADS_2