Ku Sangka Kau Malaikat

Ku Sangka Kau Malaikat
Dia benar benar berbeda


__ADS_3

Mansion milik Alder


Di ruang tengah nampak Novela sedang mondar mandir memikirkan ucapan Putra di telpon tadi, benar benar sebuah fakta baru yang Novela temukan ketika ternyata baik Putra, Neta dan juga Ranti kini tengah mencari keberadaannya untuk sebuah tanda tangan ahli waris tersebut.


Novela terus berputar dan melangkahkan kakinya ke kanan dan ke kiri sambil memikirkan solusi untuk masalah yang di hadapinya.


" Lalu aku harus apa sekarang? aku harus cari cara untuk mengatasinya." ucap Novela pada diri sendiri sambil tanpa sadar menggigiti kukunya sedari tadi.


Ketika Novela tengah di buat bingung dari arah belakang ruang kerja milik Alder, Alder baru saja keluar namun ia langsung mengerutkan keningnya dengan bingung kala melihat kelakuan Novela yang hanya mondar mandir seperti setrika dari tadi. Alder lantas mempercepat langkahnya mendekat ke arah Novela dan berhenti tepat di sebelahnya dengan bersendekap dada.


" Apa kau sedang menyetrika lantai sekarang!" ucap Alder setengah berteriak.


Mendengar suara Alder yang mengejutkannya, lantas membuat gerakan Novela sedikit tidak imbang dan condong ke samping seperti akan jatuh. Kali ini Novela benar benar seperti melayang dengan posisi menyamping, Novela yang awalnya sudah pasrah akan merasakan dinginnya lantai menyentuh pantatnya, namun siapa sangka itu hanya perkiraannya saja, nyatanya Alder dengan sigap menarik tangannya lalu memegang dengan erat pinggang Novela hingga menempel kepada tubuh Alder.


Novela yang tak kunjung merasakan sakit di pantatnya, lantas mulai membuka matanya perlahan dan yang terlihat di depannya malah wajah tampan milik Alder yang menatap lurus ke arahnya, dengan jarak yang cukup dekat dan berhasil memacu jantung Novela berdetak dengan kencang.


Kejadian tersebut berlangsung cukup lama hingga kemudian ...


Tak!


Suara sentilan cukup keras mendarat tepat di kening Novela, mendapat sentilan itu tentu saja Novela langsung mengadu kesakitan. Seiring dengan hal itu Alder melepas pegangannya perlahan dan lagi lagi Novela mengadu kesakitan, kali ini bukan karena dahinya melainkan kakinya yang seperti terkilir.


" Ada apa?" tanya Alder yang menatap ke arah Novela dengan bingung.


" Kaki ku sakit!" ucapnya dengan mata yang sudah berair siap untuk tumpah.


Mendengar hal itu Alder hanya menarik nafasnya dengan panjang, kemudian tanpa aba aba menggendong Novela ala bridal style dan membawanya menuju sofa di ruang tengah.

__ADS_1


" Dasar ceroboh!" hanya kata kata itu yang terucap dari mulut Alder tidak ada perlawanan apapun dari Novela, ia hanya terdiam dan bringsut di dalam gendongan Alder karena ia juga menyadari bahwa yang di ucapkan Alder adalah sebuah kebenaran.


Alder meletakkan Novela perlahan di sofa kemudian berjongkok untuk melihat seberapa parah kaki Novela.


" Ini hanya sedikit terkilir, bersiaplah aku akan meluruskannya sedikit, mungkin akan agak sakit." ucapnya dengan santai.


Sedangkan Novela yang mendengar hal itu langsung menelan salivanya dengan kasar, karena ia yakin sedikit yang di maksud Alder pasti akan jadi berkali kali lipat dari ucapannya.


Kretek!


Benar saja rasanya begitu sakit hingga tanpa sadar Novela meremas pundak Alder dengan kencang sedangkan air matanya sudah mengalir begitu saja tanpa suara.


" Kau menangis? apa terasa sakit? kenapa tidak berteriak saja?" ucap Alder yang melihat air mata Novela.


Mendengar ucapan Alder barusan tentu saja seperti perintah dan tanpa di duga Novela langsung berteriak sekencang mungkin hingga membuat telinga Alder berdenging karena berada tepat di depannya.


Alder menatap tak percaya ke arah Novela, gadis di depannya ini benar benar berbeda dari Ane, tidak! ini bahkan 360 derajat berbeda dari Ane, tapi entah mengapa Alder selalu saja di buat tenang dan terbawa suasana ketika bersamanya, benar benar seperti ombak yang terkadang pasang dan juga terkadang surut, yang terkadang tenang namun juga terkadang beriak, benar benar memberikan sensasi tersendiri bagi Alder yang baru pertama kali merasakannya.


" Dia benar benar berbeda, namun kenapa aku semakin hanyut terbawa ke arahnya?" ucap Alder dalam hati sambil terus memperhatikan Novela yang tak henti hentinya berekspresi menahan kesakitan sedari tadi.


*********


Sementara itu di kediaman orang tua Novela yang kini sudah di ambil alih oleh Neta dan Ranti, mereka berdua terlihat tengah berpikir dengan serius di meja makan. Neta dan Ranti seperti buntu tak bisa menemukan solusi dari masalah mereka kali ini.


" Bagaimana bisa anak itu tiba tiba hilang seperti di telan bumi?" ucap Neta dengan nada yang kesal karena tak kunjung menemukan Novela meski telah melakukan berbagai macam cara.


" Lagi pula kenapa mama tidak meminta tanda tangannya terlebih dahulu sebelum mengusirnya dulu, jika sudah begini kita harus bagaimana?" ucap Ranti yang tak kalah kesalnya merutuki kebodohan ibunya.

__ADS_1


" Mana mama tahu kalau kakak akan menyiapkan sebuah surat wasiat yang baru keluar 6 bulan setelah kematiannya, benar benar mengesalkan!" keluhnya.


" Kalau mama kesal cari caranya dong, jangan hanya diam saja."


" Kau menyalahkan mama? sedangkan kau sendiri hanya diam tak melakukan apapun." ucap Neta dengan kesal.


" Aku tak sebodoh mama, aku bahkan sudah menyerahkannya kepada Putra." ucap Ranti dengan bangga.


Neta yang mendengar hal itu lantas dibuat tercengang dengan kelakuan putrinya yang mengambil keputusan secara sepihak tanpa meminta pertimbangannya terlebih dahulu.


" Apa yang kau katakan barusan?" tanya Neta mencoba memastikan bahwa telinganya tidak salah dengar tadi.


" Aku sudah menyerahkan segalanya kepada Putra termasuk dengan mencari Novela dan juga surat surat itu." ucapnya dengan santai namun berhasil membuat Neta naik pitam.


Plak


Suara pukulan cukup keras terdengar mendarat di pundak Ranti, Ranti yang tidak siap lantas langsung kebingungan menerima serangan dari Neta dan berusaha bangkit untuk menghindarinya.


" Aw ma sakit!" ucap Ranti sambil menghindari pukulan dari Neta.


" Dasar anak bodoh, kenapa kau dengan gampangnya menyerahkan surat itu ha? kau kira Putra itu siapa? dia bahkan belum menjadi bagian keluarga ini tapi kau sudah menyerahkan surat surat penting! kemari kau anak bodoh!" ucap Neta setengah berteriak karena kesal dengan kelakuan anaknya itu.


" Mama hentikan! Putra sebentar lagi akan menjadi suami Ranti, tapi mama bilang Putra bukan siapa siapa? mama benar benar keterlaluan! Ranti benci mama." ucap Ranti sambil setengah berlari menuju ke arah kamarnya karena kesal dengan perkataan Neta.


" Hei kau benar benar bodoh ya! kemari kau Ranti! mama belum selesai bicara!" ucap Ranti setengah berteriak sambil menatap kepergian putrinya hingga menghilang dari pandangannya.


" Benar benar anak yang bodoh! harus bagaimana aku sekarang? sudah si Vela tidak bisa di temukan dan sekarang masalah bertambah lagi dengan semua surat surat penting yang berada di tangan Putra, dasar sialan! kenapa tidak ada yang berjalan dengan lancar? arg." ucap Neta dengan kesal pada diri sendiri.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2