
Suasana di dalam mobil yang di kendarai Alder terasa sangat menegangkan, bahkan Novela yang berada di sisinya sedari tadi tampak menelan ludah secara kasar berulang kali. Jika bertanya soal Haris, author tahu kalian pasti mencarinya bukan? jawabannya adalah tentu saja Haris di tinggal dan di suruh pulang sendiri tanpa di berikan ongkos untuk naik taksi sepesar pun oleh Alder (berasa perempuan panggilan apa pakai ongkos naik taksi segala wkwkwk).
" Kenapa aku merasa seperti tengah melakukan kesalahan sih? aku kan gak ngapa ngapain, tapi rasanya aku seperti akan dieksekusi saja." ucap Novela dalam hati sambil sesekali melirik ke arah Alder yang tengah fokus menatap jalanan.
" Kenapa kau hanya pasrah dan diam saja ketika dia membawa mu?" ucap Alder dengan nada yang datar dan dingin.
" Sebenarnya dia lagi perhatian atau lagi marah sih? kenapa aku bahkan tidak bisa membedakannya?" ucap Novela dalam hati yang mendapat pertanyaan dari Alder.
" Aku sudah berusaha bahkan sudah mengancamnya dengan melompat dari dalam mobil dan hampir jatuh jika aku tidak berpegangan dengan kuat, tapi dia tetap saja tak menggubris ku." ucap Novela dengan lirih namun masih bisa terdengar oleh Alder.
Alder yang mendengar hal itu spontan langsung menginjak remnya secara mendadak, untung saja mereka berdua tengah berada di jalan tol dengan waktu yang masih terbilang malam menjelang subuh sehingga jalanan masih sepi dan belum ada mobil lewat.
" Ada apa? kenapa tuan menginjak rem secara mendadak?" tanya Novela dengan bingung sambil mengusap perlahan dahinya yang terbentur sedikit.
Tidak ada jawaban apapun dari Alder yang membuat Novela semakin bingung. Yang Alder lakukan hanya menatap Novela dari atas hingga bawah dan memperhatikan setiap detail bagian tubuh Novela.
" Apa kau wanita bar bar? bagaimana kalau kau benar benar jatuh lalu mati ha? dasar otak dangkal." ucap Alder dengan sinis kemudian kembali melajukan mobilnya.
Novela yang mendengar cibiran Alder hanya terbengong tidak tau lagi harus mengatakan apa, karena sikap Alder benar benar membuat Novela bingung. Entahlah akhir akhir ini sikap Alder sangatlah aneh kadang marah, kadang manis, kadang perhatian, namun kadang juga menyebalkan dan bertindak semaunya.
Kerucuk kerucuk
Mendengar bunyi itu Novela lantas menutup perutnya dengan erat berharap Alder tidak mendengarnya.
" Benar benar memalukan." ucap Novela dalam hati sambil menepuk jidatnya pelan.
" Kau lapar?" tanya Alder sambil melirik ke arah Novela sekilas.
__ADS_1
" Enggak kok." ucap Novela berkelit. " Banget" imbuhnya dalam hati.
Setelah pembicaraan tersebut tidak ada lagi pembicaraan antara keduanya, mobil yang di kendarai Alder terus melaju membelah kesunyian pagi hari itu. Cukup lama keduanya melintasi jalan tol hingga setelah keluar dari jalan tol Alder tiba tiba saja menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Novela yang tidak tahu alasannya lantas menatap Alder dengan bingung sedangkan Alder kemudian membuka pintu mobilnya perlahan dan turun dari sana.
" Apa kau tidak ingin turun? bukankah kau lapar?" ucap Alder dengan datar.
" Ha?" ucap Novela yang masih tidak mengerti dengan ucapan Alder barusan.
" Kalau kau tidak ingin makan ya sudah aku makan sendiri." ucap Alder kemudian membanting pintu mobilnya.
Melihat Alder yang marah Novela lantas bergegas keluar dan menyusul langkah Alder yang mulai menjauh.
Novela menghentikan langkahnya ketika melihat tulisan Warung pecel lele pada spanduk dengan ukuran yang lumayan besar terpasang di tenda warung kaki lima.
" Makan disini? tuan Alder? sungguh? aku tidak mimpikan?" ucap Novela dalam hati sambil diam mematung di tempat.
" Iya aku masuk" ucapnya sambil mengikuti langkah kaki Alder.
***
Setelah pesanan Alder datang keduanya lantas mulai menyantap makanan mereka dengan hening dan nikmat. Novela sesekali melirik Alder yang tengah lahap memakan pecel lele dengan tatapan masih tidak percaya bahwa seorang tuan muda Alder Jared William makan di pinggir jalan dengan menu pecel lele.
" Apa kau masih akan terus menatapku seperti itu? tidakkah kau lelah? " ucap Alder namun tetap dengan memakan makanannya.
" Ti ... dak tuan saya dari tadi sedang makan sungguh." kelit Novela yang merasa telah tertangkap basah.
" Memangnya kenapa? apa kau heran orang seperti ku makan di pinggir jalan? memang apa salahnya? selagi itu enak dan mengenyangkan kenapa tidak." ucap Alder menjelaskan tanpa perlu Novela bertanya.
__ADS_1
" Anda benar, hanya saja saya tidak menyangka anda masih mau makan di pinggir jalan dengan status anda sebagai pebisnis yang ternama." ucap Novela.
" Saya juga lapar kali, emang kamu doang yang boleh makan di sini." ucap Alder dengan maksud bercanda namun malah terdengar garing di telinga Novela.
" Terserah" ucap Novela sambil memutar bola matanya jengah.
********
Rumah sakit medical utama
Ranti berjalan dengan tergesa gesah setelah mendapat telpon bahwa Putra masuk UGD tadi malam, pikiran pikiran buruk mulai berkecamuk di benak Ranti ketika mendapat telpon tersebut.
Ranti menyusuri setiap lorong lorong rumah sakit menuju ke ruang UGD, rasa khawatir yang begitu memuncak seketika menjadi sirna kala melihat Putra sudah melangkah dengan baju yang sudah awut-awutan dan luka lebam di sekitar area wajahnya.
" Apa kau itu seorang preman? ada apa dengan dirimu? aku bahkan tidak pernah melihatmu berkelahi sampai seperti ini? apa kau kecopetan? atau sedang ikut tawuran?" ucap Ranti dengan merepet sedangkan Putra hanya diam dan enggan menyahuti ucapan Ranti.
" Putra! kamu denger aku ngomong gak sih? berhenti gak!" ucap Ranti setengah berteriak yang membuat Putra mau tidak mau menghentikan langkahnya.
" Bisakah kamu untuk diam dan hanya berjalan saja, aku benar benar lelah, apa kamu tidak lelah pagi pagi buta seperti ini sudah cerewet seperti itu, apa kamu seekor burung?" ucap Putra dengan nada datar namun terdengar menyakitkan bagi Ranti.
" Apa yang kamu katakan? ada apa dengan mu sebenarnya ha? kamu benar benar berubah tahu gak!" ucap Ranti dengan tatapan bingung ke arah Putra.
" Aku tidak pernah berubah, yang berubah itu kamu, kamu sekarang terlalu berlebihan, terlalu over thinking, terlalu protektif aku muak tau gak terus terusan seperti ini! bisa gak sih kamu lebih dewasa lagi?" ucap Putra dengan nada kesal sedangkan Ranti hanya terdiam mendengarkan ucapan Putra.
" Aku ... aku hanya ingin terus berada di sisi mu, apa menanyai kabar juga termasuk berlebihan Put? sebaiknya kamu mengaca terlebih dahulu sebelum mengatakan sesuatu, aku melakukan semua itu ada alasannya, dan kamu mau tahu alasannya apa? Ane! kau kira aku gak tahu bahwa kamu sering diam diam keluar bersama Ane?" ucap Ranti pada akhirnya sambil menunjuk dada Putra berkali kali karena saking kesalnya.
Bersambung
__ADS_1