
"Siapa kamu sebenarnya?" ucap Steven kemudian yang membuat Novela lantas terkejut mendapat pertanyaan tiba tiba tentang jati dirinya.
"Aku? Ane Florensia, apa lagi yang kau tanyakan?" ucap Novela berpura pura tidak mengerti akan ucapan Steven.
"Ayolah jangan berpura pura denganku, katakan saja aku tidak akan membocorkannya." ucap Steven.
"Apaan sih, kalau kamu hanya ingin membicarakan hal yang tidak penting, sebaiknya kita sudahi saja pembicaraan ini." ucap Novela hendak bangkit berdiri.
" Maafkan aku An, aku tahu aku serakah tapi aku terpaksa melakukannya, aku sungguh tidak tahu jika kamu pemilik wajah ini, awalnya bahkan aku mengira wajah ini hanyalah hasil dari imajinasi Alder namun nyatanya seiring berjalannya waktu aku mulai menyadari bahwa aku melakukan sebuah kesalahan terutama terhadapmu, aku benar benar minta maaf An." ucap Novela dengan tulus sambil menatap foto Ane yang tengah tersenyum ceria di sana.
Mendengar hal itu Novela lantas menghentikan langkahnya dan menatap ke arah Steven dengan tatapan tajam.
"Bagaimana dia bisa mendapatkan rekaman itu?" tanya Novela dalam hati, namun detik selanjutnya ia baru menyadari satu hal penting yang ia lewatkan. "Bodoh kau Vela, jangan bilang rekaman itu di ambil waktu dia mengurungku di kamar, sial." ucapnya lagi dalam hati.
"Apa kamu masih bisa mengelak lagi?" ucap Steven dengan nada yang percaya diri.
"..."
"Kenapa diam? mendadak bisu?"
"Ayolah jangan mempersulit ku Steve, lagi pula tidak ada untungnya juga kan? lebih baik sampai di sini saja, masih banyak urusan yang harus aku selesaikan." ucap Novela dengan nada memohon kemudian berlalu pergi agar Steven tidak lagi mencercanya.
Melihat Novela yang buru buru pergi Steven lantas mengejarnya lalu menarik tangan Novela agar ia berhenti.
"Katakan dulu yang sebenarnya!" ucap Steven dengan kekeh.
"Gak bisa, ini privasi dan aku harap kamu mengerti." ucap Novela sambil mencoba melepaskan pegangan tangan Steven.
"Aku tidak akan melepaskannya sebelum kamu mengatakannya."
"Oke oke aku ngaku, aku bukanlah Ane puas kamu! sekarang lepaskan aku."
"Aku tidak menanyakan hal itu, kalau itu aku sudah tahu, yang ingin aku tahu siapa kamu sebenarnya?"
"Jangan aneh aneh deh, malu tahu dilihatin orang dari tadi." ucap Novela sambil melirik ke kanan dan ke kiri.
"Tidak sebelum kamu memberitahuku."
"Baiklah, dengan satu syarat kamu harus bisa merahasiakannya."
__ADS_1
"Deal"
******
Sementara itu di mansion utama.
Angelina melangkahkan kakinya dengan membawa nampan berisi secangkir kopi dan juga beberapa biskuit kesukaan David. Dengan senyuman yang mengembang ia memulai aksinya untuk mempengaruhi David agar mengikuti kemauannya.
"Pa kopinya." ucap Angelina sambil menaruh secangkir kopi dan juga biskuit tersebut di meja.
"Makasih ma." ucap David kemudian kembali fokus kepada surat kabar yang ia baca sedari tadi.
"Pa..." panggil Angelina.
Mendengar panggilan istrinya David lantas menaruh surat kabar yang ia pegang dan langsung menatap ke arah Angelina.
"Ada apa?"
"Gini loh pa, menurut mama nih Alder kan sudah cukup umur untuk menikah, apa gak sebaiknya kita sebagai orang tua menuntunnya dan membujuknya ke jenjang yang lebih serius." ucap Angelina.
"Maksudmu menikahkan Alder dengan Ane?" tanya David dengan perasaan yang aneh karena tidak biasanya Angelina seperhatian ini dengan Alder.
"Apa mama yakin itu tidak akan membuat Alder marah?"
"Kita kan belum mencobanya pa, lagi pula Ane itu gadis yang tidak jelas asal usulnya mana bisa kalau harus disandingkan dengan keluarga William." ucap Angelina dengan nada ketus.
"Jangan begitu ma, status dan pangkat orang itu sama ma, hanya hati mereka yang membedakan." ucap William.
"Hati itu nomor dua pa, yang penting sekarang itu ya bebet, bibit dan bobotnya pa." ucap Angelina dengan kekeh.
"Terserah mama lah, nanti papa akan coba bicarakan dengan Alder."
Mendengar hal itu Angelina lantas tersenyum karena David mudah sekali untuk dipengaruhi.
*****
Kediaman Alder.
Hampir seharian Novela berada di kamar merenungi mulutnya yang sama sekali tidak bisa menyimpan rahasia, kini Steven sudah mengetahui segala rahasianya, dan bodohnya lagi Novela bahkan memberitahunya secara gamblang tentang segalanya, itulah sebabnya seharian ini Novela berdiam diri di kamar karena takut Alder akan mengetahuinya, tapi bukankah keluar sekarang atau besok sama saja?
__ADS_1
Krucuk
Suara cacing di perut Novela benar benar tidak bisa dikondisikan, mereka sama sekali tidak mengerti jika tuannya enggan untuk keluar.
"Aku laparrrrrrrrr." teriak Novela dengan gemas.
Setelah cukup lama menimbang dan berpikir pada akhirnya Novela memilih untuk keluar dari pada harus membiarkan cacing cacing diperutnya kelaparan. Ditatapnya sekeliling dengan intens memastikan tidak ada Alder di sana, setelah memastikan kosong dan aman dengan mengambil langkah seribu Novela bergegas menuju ke dapur untuk mengisi perutnya yang keroncongan.
"Eh sepi tumben?" ucap Novela lirih karena tidak melihat batang hidung Alder di manapun.
"Eh nona ku kira tadi siapa, ngomong ngomong nona dari mana saja kok bibi baru kelihatan?" tanya Rina yang muncul dari arah gudang penyimpanan.
"Ada di kamar bi baru bangun hehehe." ucap Novela dengan senyum cengengesan.
"Tuan kemana bi?" tanya Novela penasaran.
"Ada di ruang kerjanya sedang menemui tuan besar, boleh bibi tanya sesuatu?" ucap Rina dengan hati hati yang di balas Novela dengan anggukan.
"Oh ada bokapnya." ucapnya dalam hati sambil menatap ke arah ruang kerja milik Alder.
"Kalau boleh bibi tahu kenapa non memanggil pacar non dengan sebutan tuan? bukankah itu agak aneh?" tanya Rina dengan nada yang penasaran.
Novela yang memang sedang dalam posisi minum lantas tersedak kala mendengar pertanyaan dari Rina barusan.
Uhuk uhuk
"Maafkan saya nona, saya lancang!" ucap Rina sambil membantu Novela yang sedang tersedak.
"Tidak apa bukan karena itu kok, aku hanya kurang hati hati." ucapnya sambil membersihkan air yang tumpah di bajunya. "Soal panggilan itu aku hanya terlalu nyaman saja, memang kesannya aneh tapi menurutku itu malah terdengar lucu." ucapnya dengan tawa garing yang sengaja ia pasang agar terlihat lucu namun nyatanya malah membuat situasi mendadak aneh.
"Oh begitu rupanya." ucap Rina sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal kala mendengar jawaban absurd dari Novela barusan.
"Hahahaha iya, makanannya enak bi..." ucap Novela kemudian mengalihkan pembicaraan.
"Terimakasih atas pujiannya nona, saya permisi." ucapnya kemudian melenggang pergi meninggalkan Novela sendiri di sana.
"Memang benar benar bodoh kau Novela, kenapa sifat ceroboh mu tidak bisa diubah sama sekali?" ucapnya kemudian setelah kepergian Rina dari sana sambil memasukkan donat ke mulutnya.
Bersambung
__ADS_1