
Galeri Seni milik Putra
Setelah puas berkeliling melihat lihat ke setiap sudut lukisan dengan di temani langsung oleh Putra, Novela lantas berpamitan undur diri kepada Putra.
" Terima kasih atas waktunya, aku sungguh terkesan dengan pelayanan mu malam ini, aku akan segera menghubungi mu untuk lukisan yang membuat hatiku tertarik." ucap Novela berbasa-basi padahal jangankan lukisan untuk membeli kerak telor saja ia tidak punya uang sama sekali, semua biaya serta beban hidupnya di tanggung oleh Alder selama setahun belakangan ini, mana berani jika ia meminta Alder membeli sebuah lukisan hanya untuk balas dendamnya, bukankah itu terlalu serakah?
" Tidak perlu sungkan, aku juga sangat terkesan dengan nona cantik seperti anda, aku tidak menyangka bahwa anda begitu berwawasan tentang lukisan aku banyak belajar dari anda malam ini, em btw bagaimana jika aku mengantar anda pulang?" tawar Putra.
Mendengar hal itu Novela lantas terdiam karena ia tidak tahu harus menjawab apa tawaran Putra barusan mengingat rumah besar atau mansion yang di tempati nya selama ini adalah milik Alder, lalu harus kemana Novela memberikan alamat rumahnya?
" Apa yang harus aku jawab? ya kali aku kasih alamat Alder, yang ada tuan nanti bisa marah, apa aku tolak saja ya? em mungkin itu solusi terbaik untuk saat ini sambil aku menyusun kembali strategi selanjutnya." ucap Novela dalam hati dengan kebingungan mencari solusi.
Di saat Novela sedang kebingungan mencari solusi atas pertanyaan Putra barusan, suara deringan ponsel miliknya terdengar nyaring menyadarkan Novela dari lamunannya.
" Sebentar ya." ucap Novela meminta izin Putra untuk mengangkat panggilan ponselnya yang di balas Putra dengan anggukan kepala.
" Halo" ucap Novela setelah mengusap ikon berwarna hijau pada layar ponsel miliknya.
" Katakan ya untuk ajakannya." ucap Alder dengan singkat.
Novela yang mendengar hal itu lantas mengerutkan keningnya dengan bingung, Novela kemudian menjauhkan ponselnya untuk mengecek panggilan barusan dan ia dengan yakin bahwa di sana tertera nomor baru.
" Apakah orang ini salah sambung?" tanya Novela dalam hati.
" Apakah kau tidak mendengarkan ku?" ucap Alder dengan kesal karena hanya keheningan yang terdengar setelah ucapannya sedari tadi.
" Galak amat nih orang." ucap Novela dalam hati sambil sedikit menjauhkan ponselnya dari telinga karena suara barusan terdengar nyaring hingga memekakkan telinga Novela.
__ADS_1
" Maaf ini siapa ya? anda mungkin salah sambung." ucap Novela dengan sopan
Alder yang mendengar hal itu lantas semakin kesal karena bisa bisanya Novela malah menganggap panggilan darinya adalah salah sambung, bukankah itu menjengkelkan?
" Apa kau sudah bosan hidup ha? apa aku perlu mengingatkan mu segalanya?" ucap Alder dengan nada yang kesal.
Mendengar suara teriakan khas barusan lantas membuat Novela terdiam karena ia seperti mengenali suara teriakan ini.
" Tuan" ucap Novela pelan karena menyadari kebodohannya.
" Apa kau sudah mengingatnya sekarang?" ucap Alder dengan nada menyindir.
" Maafkan saya tuan." ucap Novela lirih yang tentu saja hanya bisa di dengar oleh Alder yang tengah berbicara padanya sedari tadi.
" Ikuti saja segala kemauannya, dan bilang kau sudah mentransfer sejumlah uang untuk pembayaran lukisan abstrak yang kau lihat tadi." ucap Alder dengan nada datar namun langsung membuat Novela terperanjat kaget dan tak percaya akan apa yang baru saja ia dengar.
" Apa tuan?" ucap Novela setengah berteriak yang langsung membuat Putra menoleh dan menatap ke arahnya, Novela yang sadar ucapannya mengundang orang orang melihatnya lantas mengangkat tangan dengan sedikit tersenyum menatap ke arah Putra yang lagi lagi dibalas anggukan oleh Putra.
" Apa kau tuli! laksanakan saja apa yang baru saja aku katakan." ucap Alder kemudian terdengar nada sambung di putus oleh Alder sebelum Novela menanggapi ucapannya.
" Waduh makin menumpuk lah hutangku, nasib nasib harus bayar pakai apa ini? ya kali aku harus jual ginjal." ucap Novela dalam hati sambil sesekali menepuk jidatnya karena sadar akan kebodohannya.
Setelah selesai mengangkat telponnya Novela lantas melangkahkan kembali kakinya kepada Putra.
" Apakah sebuah telpon penting?" tanya Putra dengan penasaran.
" It's oke, oh ya aku sudah mentransfer sejumlah uang padamu untuk pembelian lukisan yang tadi ku lihat, sedangkan untuk lukisannya kamu bisa mengantarkannya ke rumahku lusa." ucap Novela dengan anggun yang lantas langsung membuat Putra kagum akan sosok perempuan di hadapannya ini yang ia kenal dengan nama Ane Florensia.
__ADS_1
" Sungguh suatu kehormatan bisa bekerja sama dan memberikan pelayanan terbaik kepada anda." ucap Putra dengan senyum mengembang yang mungkin ketika dulu Novela masih begitu mencintai Putra, pasti ia akan langsung meleleh dan terbang akan senyuman Putra, namun sayangnya kini semua berbeda, jangankan untuk kagum melihatnya saja sudah membuat Novela mual dan sangat menggelikan.
Mendengar ucapan Putra yang lebai Novela hanya menanggapinya dengan senyuman terpaksa.
" Lalu bagaimana? apa kah aku bisa mengantarmu pulang." tanya Putra dengan ragu ragu.
" Ya tentu saja kenapa tidak." ucap Novela sambil berusaha tersenyum senatural mungkin.
" Baiklah kalau begitu mari." ucap Putra lagi sambil menuntun jalan menuju mobil miliknya.
***********
Sementara itu di dalam mobil milik Alder yang terparkir di depan galeri seni sedari tadi. Alder nampak begitu kesal setelah menelpon Novela barusan.
Haris sedari tadi hanya memperhatikan gerak gerik tuannya melalui kaca spion yang mengarah langsung pada kursi penumpang, benar benar ini baru yang pertama kalinya Haris melihat Alder bisa naik turun seperti ini emosinya, kadang sedikit sedikit tertawa, sedikit sedikit kesal, dan kadang kadang tersenyum, benar benar sebuah momen langkan bagi Haris.
" Aku baru kali ini melihat sisi lain dari diri tuan, bahkan dulu waktu nona Ane masih hidup kisah mereka hanya berjalan datar dan hambar setidaknya menurut ku, tuan tidak pernah seperti ini nona Novela ternyata benar benar sesuatu." ucap Haris dalam hati sambil terus memperhatikan perubahan ekspresi tuannya melalui kaca spion di dalam mobil yang mengarah ke kursi penumpang.
" Lalu kita harus bagaimana sekarang tuan?" tanya Haris kepada tuanya
" Tentu saja pulang, kenapa kau masih saja bertanya?" ucap Alder dengan kesal karena pertanyaan dari Haris.
" Sensi amat sih." ucap Haris dalam hati yang mendengar ucapan Alder barusan.
" Kita pulang tapi usahakan kita datang setelah Putra pergi." ucap Alder lagi
" Baik tuan" ucap Haris
__ADS_1
Setelah mendapat perintah dari Alder, Haris lantas mulai melajukan mobilnya membelah jalanan ibu kota dengan kecepatan yang pelan.
Bersambung