Ku Sangka Kau Malaikat

Ku Sangka Kau Malaikat
Menikahlah dengan ku


__ADS_3

Alder menghentikan mobilnya tepat di halaman mansion miliknya, Novela yang menganggap semua baik baik saja langsung membuka pintu mobil hendak masuk ke dalam, namun malah terkunci membuat Novela langsung menatap ke arah Alder dengan tatapan yang bingung.


"Tuan pintu mobilnya masih terkunci." ucapnya dengan polos.


"Apa kau tidak punya pikiran ha?" ucap Alder tiba tiba.


"Maksudnya tuan?" tanya Novela dengan raut wajah yang bingung.


"Sebenarnya kau bodoh atau oon sih?"


"Maksudnya tuan?"


"Kau itu seorang gadis, bagaimana mungkin kau mau begitu saja di bawa ke hotel? bagaimana kalau aku tadi tidak datang?" ucap Alder.


"Kalau anda tidak datang saya pasti sudah berhasil menjalankan misi tuan, saya kan hanya tinggal membuka kancing dan bajunya Putra saja lalu..." ucap Novela dengan santai namun malah mendapat tatapan tajam dari Alder.


"Apa kau akan melanjutkan membuat anak begitu?" sindir Alder.


"Tuan bukankah itu terlalu kasar?"


"Lalu? apa kau tidak lihat leher mu itu ha?" ucap Alder sambil menunjuk ke area leher Novela yang memang terdapat bekas merah merah meski tidak terlalu terlihat.


"Tapi tuan..."


Cup

__ADS_1


Tiba tiba saja bibir Alder mendarat di bibir Novela tanpa peringatan, membuat Novela yang tidak siap lantas hanya bisa terdiam dengan mata yang melotot bingung akan berbuat apa. Alder terus mel*mat bibir Novela meski tanpa reaksi atau bahkan balasan sama sekali.


Alder kemudian mengikis jarak diantara keduanya sambil memegang tengkuk Novela agar ia sedikit terpancing dan tidak kaku. Alder menggigit bibir bawah Novela agar ia memberikan Alder akses untuk masuk dan menjelajah lebih dalam lagi. Lum*tan demi lum*tan Alder dan Novela lakukan meski sebetulnya hanya Alder lah yang mendominasi permainan sedari tadi, puas dengan area bibir Alder perlahan turun dan menjelajahi area leher milik Novela karena sedari tadi inilah tujuannya mencium Novela dengan tiba tiba, ia ingin menghapus setiap jejak bekas ciuman Putra dari tubuh Novela lebih tepatnya hampir sama istilahnya dengan mereset ulang, namun bedanya Alder melakukannya atas persetujuan Novela tanpa adanya paksaan.


Novela benar benar hanyut dalam cumbuan Alder, ini adalah ciuman pertama bagi Novela sehingga ia begitu menikmati setiap sentuhan yang di berikan oleh Alder bahkan sesekali terdengar ******* kecil dari mulut Novela tanpa ia sadari yang membuat Alder semakin tidak bisa menahannya, hingga kemudian di saat posisi Alder sudah semakin turun dan hendak menjelajahi aset kembar miliknya akal sehat Novela perlahan kembali dan sadar apa yang dilakukannya dengan Alder kali ini sudah keterlaluan.


" Tu... an hentikan!" ucap Novela namun dengan nada yang sensual membuat Alder berpikir bahwa Novela menginginkannya.


Melihat Alder tak kunjung menghentikan aksinya dan semakin brutal dengan menahan gejolak yang mulai menjalar dalam dirinya Novela mendorong sedikit tubuh Alder agar menghentikan aksinya.


"Tuan hentikan, ini sudah kelewatan!" ucap Novela sambil merapikan bajunya yang berantakan kemudian membuka pintu mobil hendak melarikan diri dari sana.


"Menikahlah dengan ku!" ucap Alder tiba tiba yang lantas menghentikan langkah kaki Novela yang hendak pergi.


"Oh ****! kenapa aku malah mengatakan hal itu? apa aku sudah gila?" ucap Alder dengan sedikit frustasi mengingat mulutnya yang tidak bisa ia kontrol sama sekali.


****


Novela menutup pintu kamar dan menguncinya, kemudian berjalan dan berhenti tepat di depan cermin rias miliknya, di tatapnya riasan wajah dan juga rambut yang sudah berantakan dan tak berbentuk lagi. Novela menyentuh pelan bibirnya sambil mengingat kejadian yang baru saja ia alami ketika berciuman dengan Alder di mobil tadi.


"Tidak! jangan terlalu bermimpi Vela, kamu kira sultan seperti tuan Alder akan mencintaimu? tentu saja tidak, ciuman tadi hanya karena nafsu tidak lebih, jangan terlalu gr kamu jadi cewek." ucapnya pada diri sendiri sambil terus menatapi dirinya dari cermin rias di kamarnya.


Ia kemudian bangkit dan melempar sepatunya sembarangan lalu merebahkan dirinya di ranjang empuk miliknya, sambil menatap langit langit Novela terus membayangkan kejadian awal ia bertemu dengan Alder hingga kejadian di mobil yang baru saja terjadi.


"Bukankah kau terlalu bermimpi jika membayangkan kehidupan seperti seorang cinderella? itik berubah jadi angsa saja sudah lebih dari sekedar kebahagian, tapi ini... ada apa denganmu yang tiba tiba meminta lebih? bukankah kau terlalu serakah?" ucap Novela pada diri sendiri sambil terus menatap langit langit kamarnya. "Tentu saja aku harus sadar diri, yang tuan ajak berciuman adalah wajah ini bukan aku si gendut jelek yang selalu dikucilkan." ucapnya lagi.

__ADS_1


*****


Sementara itu Alder hanya terus merutuki kebodohannya di dalam mobil tanpa ingin beranjak sama sekali, ia terlalu malu untuk sekedar masuk ke dalam, dan alhasil jadilah Alder menunggu di dalam mobil dan enggan untuk turun.


"Apa yang aku pikirkan tadi? apa aku sungguh mengatakannya? tapi bagaimana mungkin? bukankah ia hanya seorang Novela tidak lebih, apa lagi yang kau harapkan Al?" ucap Alder pada diri sendiri.


Ketika Alder sedang merutuki kebodohannya suara deringan ponsel terdengar membuat Alder langsung menggeser ikon berwarna hijau di layar ponselnya.


"Saya sudah menyelesaikannya tuan, saya yakin Putra akan menganggap semuanya benar benar terjadi." ucap Haris memberikan laporan.


"Bagus, lanjutkan kerjamu." ucap Alder dengan senyum yang mengembang.


"Tentu tuan, sesuai dengan perintah anda." ucap Haris kemudian terdengar sambungan telpon di putus secara sepihak oleh Alder.


"Bagaimana kalau aku sungguh menikahinya saja? bukankah itu tidak terlalu buruk?" ucapnya dalam hati sambil mengulum senyum di bibirnya.


******


Sementara itu malam harinya di sebuah kamar hotel tempat Novela meninggalkan Putra sendiri.


Perlahan Putra mulai mengerjapkan mata, sinar lampu yang begitu terang menyilaukan matanya, entah mengapa kepalanya begitu terasa berdenyut. Putra kemudian bangkit dan menatap ke sekeliling mencari keberadaan Novela namun kosong, Putra kemudian melihat ke bawah selimut yang menyelimutinya dan ia melihat dirinya tanpa sehelai benang apapun yang melekat pada tubuhnya, senyuman kecil nampak terukir di wajah pria itu kala membayangkan wajah Novela dalam pikirannya, namun detik berikutnya senyuman itu perlahan pudar kala ia baru menyadari sesuatu hal yang menurutnya janggal.


"Kenapa aku tidak bisa mengingat pengalaman panas yang aku lakukan? harusnya aku mengingat setiap detailnya, tapi mengapa aku hanya mengingat ciuman itu? lalu... lalu apa yang terjadi selanjutnya?" tanya Putra pada diri sendiri namun hanya di jawab oleh kesunyian malam.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2