
Siang itu Novela di antar oleh Haris menuju ke cafe seni tempat janjian antara Putra dan juga Novela.
Novela menatap jalanan sekitar sambil melamun mengingat kembali kejadian tadi sebelum berangkat, Novela kemudian mengeluarkan sebuah black card dari tasnya, di tatapnya black card itu cukup lama dengan perasaan yang campur aduk antara senang, bingung, dan juga takut karena yang jelas pasti hutangnya akan semakin menumpuk jika di tambah dengan black card ini.
" Sebenarnya apa yang diinginkan tuan?" ucap Novela dalam hati sambil terus memandangi black card tersebut.
Flashback on
Novela melangkahkan kakinya menuruni anak tangga bersiap untuk pergi ke cafe seni menemui Putra.
" Kemarilah sebentar." ucap Alder dari arah ruang tengah membuat Novela yang berjalan dari arah anak tangga melangkahkan kaki mendekat ke arah Alder begitu mendengar suara berat itu.
" Ya tuan ada apa?" ucap Novela berdiri tepat di sebelah Alder yang sedang duduk dengan posisi kaki kirinya naik dan di letakkan di atas paha sebelah kanannya.
" Pakailah ini, sandinya adalah tanggal ulang tahun mu." ucap Alder dengan singkat sambil melempar black card ke atas meja yang lantas membuat Novela terperangah karena Novela tahu kartu yang diberikan oleh Alder bukanlah kartu ATM biasa.
" Tu-an ini terlalu berlebihan saya tentu tidak memerlukan ini." ucap Novela berusaha menolak dengan nada sopan.
" Apa lagi ini?" ucap Novela dalam hati.
" Jika ku bilang ambil ya ambil, bukankah kau juga membutuhkan uang untuk biaya hidup mu? jadi tidak perlu berlagak seperti itu." ucap Alder dengan nada dingin.
" Sialan nih orang satu." ucap Novela dalam hati.
" Sungguh tidak perlu tuan ini terlalu berlebihan untuk saya." ucap Novela namun langsung di balas Alder dengan tatapan menghunus tajam yang seketika membuat bulu kuduk Novela lantas berdiri di buatnya.
" Sebaiknya aku ambil saja dari pada melihat dia mengamuk." ucap Novela dalam hati.
Pada akhirnya Novela mencari aman dan memilih mengambil kartu itu karena tatapan Alder membuatnya merinding.
Flashback of
" Semakin menumpuk lah hutang hutangku, ahhh ibu apa yang harus aku lakukan? apakah hanya menjual satu ginjal akan cukup untuk membayar segalanya? tentu saja jawabannya tidak!" ucap Novela dalam hati sambil mengetuk ketukan kartu tersebut ke keningnya berkali kali.
" Kita sudah sampai." ucap Haris yang lantas membuat Novela menghentikan gerakannya kemudian memasukkan kembali black card tersebut ke dalam tasnya.
" Baik terima kasih ris." ucap Novela sambil membuka pintu mobil bersiap untuk turun.
__ADS_1
" Tidak perlu sungkan." ucap Haris dengan tersenyum ramah.
Novela melangkahkan kakinya memasuki cafe seni, di tatapnya setiap sudut ruangan cafe untuk mencari keberadaan Putra di sana.
" Kakak Ane ya?" ucap salah satu pelayan cafe yang melangkah mendekat ke arah Novela.
" Iya" ucap Novela.
" Mari saya antar menuju ruangan VVIP, teman anda sudah menunggu di sana." ucap pelayan tersebut yang di balas anggukan oleh Novela.
Novela kemudian mengikuti arahan pelayan tersebut, ia di bawa ke sebuah lorong lorong dengan nuansa seni yang kental, di mana di setiap dinding sebelah kiri dan kanannya terdapat lukisan lukisan yang beragam serta ornamen ornamen seni yang lucu dan estetik membuat siapa saja yang melihatnya akan merasa kagum pada karya karya tersebut.
Novela menatap suasana sekitar yang begitu indah dan menyenangkan sampai kemudian langkah mereka terhenti pada sebuah ruangan VVIP yang tersedia di sana.
Perlahan lahan pintu ruangan tersebut mulai terbuka dan menampilkan sosok Putra yang tengah duduk menantinya di sana.
Senyuman lebar terpancar dari Putra kala melihat kedatangan Ane yang sudah ia tunggu sedari tadi.
" Saya permisi dulu." ucap pelayan tersebut setelah memastikan Novela masuk ke dalam kemudian menutup pintu ruangan tersebut.
" Silahkan duduk An." ucap Putra sambil tersenyum yang lantas membuat Novela menatap bingung ke arahnya.
" Tentu saja." ucap Novela sambil tersenyum semanis mungkin ke arah Putra.
Setelah cukup lama keduanya berbasa basi detik selanjutnya obrolan demi obrolan mulai mengalir di antara keduanya, benar benar suatu percakapan yang saling menyambung antara satu sama lain.
Keduanya benar benar terhanyut akan pembahasan yang mereka lakukan sedari tadi tidak hanya tentang hal personal bahkan keduanya juga bertukar pikiran tentang seni, bukankah sebuah komunikasi yang sangat menyenangkan?
Novela menatap dalam dalam Putra yang sedang asyik menceritakan perjalanannya ke jogja demi melakukan reset untuk galeri seninya.
" Andaikan kau juga pria yang baik, pasti siapapun yang memiliki mu akan merasa seperti orang yang paling beruntung di dunia ini, sayangnya kamuflase mu begitu sempurna hingga membuat semua gadis yang berada di dekatmu akan terpesona melihat kharisma yang melekat di dalam dirimu." ucap Novela dalam hati sambil terus menatap ke arah Putra yang masih asyik bercerita.
" Hei apa kamu mendengar ku?" ucap Putra sambil menggoyang perlahan tangan Novela karena sedari tadi hanya diam sambil menatap ke arahnya.
" Oh sorry sorry aku tadi melamun." ucap Novela sambil tersenyum ke arah Putra.
" Sampai mana tadi kita?" tanya Novela memecah kecanggungan yang terjadi.
__ADS_1
" Sudahlah, apa ceritaku terlalu membosankan sampai kamu melamun seperti itu." ucap Putra.
" Tidak, bukan itu aku hanya terlalu terpesona dengan tutur kata mu." ucap Novela kikuk.
Putra yang mendengar ucapan Novela lantas tersenyum dengan cerah namun beberapa saat kemudian senyuman tersebut tiba tiba hilang kala mendengar deringan ponsel miliknya.
" Kau bisa mengangkatnya terlebih dahulu jika itu memang penting." ucap Novela karena melihat raut wajah Putra yang gelisah.
" Oh tidak apa, bukanlah sesuatu yang penting." ucap Putra sambil menekan tombol di ponselnya untuk mematikan deringan ponsel tersebut agar tidak terlalu berisik.
" Baiklah, sampai di mana tadi kita?" ucap Novela lagi karena ia juga sebenarnya tahu siapa penelpon tersebut.
Novela lantas tersenyum melihat sikap Putra yang lebih mementingkan dirinya ketimbang Ranti.
" Dasar cowok playboy." ucap Novela dalam hati.
" Oh ya tadi ..." ucap Putra namun lagi lagi terhenti karena deringan ponsel miliknya kembali berbunyi.
" Sepertinya itu penting, angkatlah dulu." ucap Novela.
" Baiklah tunggu sebentar ya." ucap Putra kemudian bangkit berdiri dan berjalan menuju sudut ruangan tersebut untuk mengangkat telpon.
" Halo kamu di mana sayang? bukankah kamu janji akan menjemput ku untuk makan siang bersama?" ucap Ranti merengek setelah sambungan ponselnya di angkat oleh Putra.
" Aduh kenapa aku bisa melupakannya?" ucap Putra dalam hati kala mendengar rengekan Ranti.
" Oh maaf sayang, aku sedang ada meeting penting saat ini, lain kali saja ya? aku janji akan mengajakmu makan siang." ucap Putra mencoba membujuk Ranti.
Hening sesaat setelah Putra mengatakan hal tersebut.
" Apa kamu tidak bisa membatalkannya?" tanya Ranti lagi dengan nada memelas.
" Tidak bisa sayang, klien ku kali ini adalah investor besar yang tertarik akan galeri seni ku, aku mohon kali ini saja ya cobalah untuk mengerti." ucap Putra lagi.
" Tapi ..." ucap Ranti namun di potong terlebih dahulu oleh Putra.
" Sudah ya sayang nanti aku hubungi lagi." ucap Putra.
__ADS_1
" Tapi" ucap Ranti namun kembali terpotong karena Putra yang tiba tiba memutuskan sambungan telponnya secara sepihak.
Bersambung