Ku Sangka Kau Malaikat

Ku Sangka Kau Malaikat
Aku sangat merindukanmu


__ADS_3

Pagi itu Novela sudah disibukkan dengan persiapan Alder yang akan pergi ke luar negeri untuk meninjau anak cabang perusahaan yang ada di sana.


Sebenarnya tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan Novela, tapi entah kenapa Alder seperti sengaja untuk mengerjainya dan menyuruh Novela untuk ikut mengantarnya ke bandara dengan berbagai perlengkapan yang menyusahkan Novela.


Alder melangkah dengan langkah kaki yang angkuh memimpin di depan, sementara dibelakangnya Haris dan juga Novela setia mengikuti kemana langkah kaki Alder melangkah pergi.


" Em bolehkan aku bertanya sesuatu ris?" tanya novela dengan nada setengah berbisik agar tidak terdengar oleh Alder.


" Iya" ucap Haris singkat sambil tetap fokus menatap punggung tuanya.


" Bukankah biasanya kalau orang kaya punya pesawat pribadi untuk mereka tumpangi di kala berpergian seperti di novel novel yang pernah ku baca itu, tapi kenapa tuan malah mengambil kelas bisnis untuk perjalanannya kali ini?" ucap Novela dengan penasaran.


Mendengar hal itu Haris lantas langsung menatap ke arah Novela dengan mengerutkan keningnya karena mendengar pertanyaan absurd dari Novela.


" Maksud mu jet pribadi?" ucap Haris.


" Iya semacam itu lah." ucap Novela dengan tersenyum cerah ke arah Haris.


" Tuan memang memilikinya, hanya saja tuan tidak terlalu menggunakannya jika tidak dalam urusan genting." ucap Haris menjelaskan.


" Halah bilang aja pelit, pakai acara gaya gayaan lagi." ucap Novela dengan cukup keras membuat Alder lantas menghentikan langkahnya kemudian berbalik badan menatap ke arah Novela.


" Dasar mulut gadis ini benar benar tidak bisa di jaga sama sekali." ucap Haris dalam hati sambil menghentikan langkahnya karena mengetahui Alder tengah menatap tajam ke arahnya dan juga Novela.


" Lagi pula kan harusnya ..." ucap Novela terhenti karena tiba tiba ia seperti menabrak sesuatu.


Novela mengusap jidatnya yang terasa sakit karena benturan barusan, kemudian perlahan mendongak ke atas untuk melihat benda apa yang ditabraknya.


" Tu ... an." ucap Novela terbata karena benda yang ditabraknya ternyata adalah Alder yang berdiri tegak sambil menatap tajam ke arahnya.


" Apakah mulut mu itu tidak bisa diam? ini tempat umum tidak perlu berteriak teriak seperti itu!" ucap Alder dengan nada dingin.


Novela yang mendengar hal itu lantas langsung menunduk karena ia takut akan tatapan tajam dari Alder.


" Apa ucapan ku terlalu keras? perasaan juga tidak, kenapa dia selalu saja tau sih?" ucap Novela dalam hati sambil terus menunduk.


" Selamat pagi, boardingĀ untuk Maskapai ABC dengan nomor penerbangan 46K96 tujuan New York akan segera dimulai. Para penumpang dimohon untuk menuju gerbang B2 dan persiapkan pas naik dan identifikasi Anda. Terima kasih"

__ADS_1


" Huft setidaknya aku selamat kali ini." ucap Novela dalam hati mendengar pemberitahuan itu.


" Kau pergilah dulu menuju parkiran ada yang harus aku bicarakan dulu pada Haris." ucap Alder kemudian.


Novela yang mendengar hal itu lantas langsung mendongak dengan tatapan bingung.


" Loh Haris tidak ikut?" tanya Novela spontan yang lantas membuat senyum tipis di bibir Alder terlihat.


" Ada apa? apa kau tidak jadi senang karena masih ada Haris yang mengawasi mu di sini?" ucap Alder sambil tersenyum tipis.


" Tidak tuan bukan begitu, aku ..." ucap Novela menggantung karena nyatanya apa yang di ucapkan Alder adalah kebenaran.


" Sudah sana pergilah, jangan terlalu bersenang senang di belakangku." ucap Alder memberikan lelucon namun bagi Novela yang mendengar hal itu dari mulut Alder lebih mirip seperti ancaman.


" Bagaimana bisa bersenang senang? kalau fotocopy.annya ada di sini?" ucap Novela dalam hati.


Novela kemudian melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Alder dan juga Haris di sana.


" Apa anda yakin saya tidak perlu ikut tuan?" tanya Haris setelah Novela pergi dari sana.


" Apa? kalau tahu begitu lebih baik aku ikut saja." ucap Haris dalam hati.


" Baik tuan." ucap Haris pada akhirnya hanya bisa pasrah akan perintah tuannya.


********


Sementara itu Novela melangkah dengan kesal menuju ke arah parkiran, Novela benar benar merasa dikerjai oleh Alder.


" Lalu untuk apa aku jauh jauh mengantar dia ke sini jika ujung ujungnya di usir juga? benar benar absurd banget kelakuannya? untung saja aku punya utang kalau tidak udah minggat aku dari dulu." gerutu Novela dengan kesal sambil terus berjalan tanpa melihat di depannya.


Bruk


Karena tidak melihat jalan Novela lagi lagi menabrak sesuatu hingga terhuyung jatuh kebelakang dengan cukup keras.


" Aw" teriak Novela." Maafkan saya tuan saya benar benar teledor hingga tidak melihat jalanan sekitar." sambung Novela setelah ia menyadari telah menabrak seseorang.


Tidak ada jawaban dari orang itu namun dia perlahan mengulurkan tangannya untuk membantu Novela berdiri, Novela yang melihat uluran tangan tersebut lantas menggapainya kemudian bangkit perlahan.

__ADS_1


" Terima kasih banyak tuan." ucap Novela sambil menatap ke arah orang itu.


Tatapan Novela terhenti ketika melihat manik mata yang membeku terkunci menatap ke arah Novela namun masih diam seribu bahasa.


" Ada apa dengan pria ini? benar benar aneh." ucap Novela dalam hati.


" Sekali lagi saya minta maaf tuan, saya permisi." ucap Novela ingin melangkah pergi namun tiba tiba saja langkahnya terhenti di saat mendengar panggilan pria tadi.


" Ane?" ucap pria tersebut yang lantas menghentikan langkah kaki Novela.


" Mati aku! siapa pria ini?" ucap Novela dalam hati yang mendengar panggilan pria itu.


" Ane itu benar benar kamu kan?" ucap pria tersebut lagi memastikan.


Novela kemudian perlahan menoleh sambil tersenyum kaku ke arah pria tersebut.


Pria tersebut lantas langsung memeluk Novela dengan spontan sambil sesekali mengecup puncak kepala Novela yang membuat Novela langsung terdiam kaku di tempat menerima perlakuan pria tersebut padanya.


" Apa ini?" ucap Novela dalam hati.


" Aku merindukan mu An, apa kamu tidak merindukan ku?" tanyanya yang semakin membuat Novela kebingungan harus memberi respon seperti apa pada pria yang tengah memeluknya.


Merasa tidak ada respon apapun dari Novela, pria itu lantas kemudian melepas pelukannya dan menatap Novela dengan raut wajah bingung.


" Apa kamu tidak mengenaliku An? ini aku Steven apa kamu tidak ingat?" tanya Steven karena Novela sedari tadi hanya diam tanpa menanggapi dirinya.


" Oh Steve, apa kabar?" tanya Novela dengan tersenyum kaku. " Steven siapa lagi ini? kenapa sama sekali tidak ada di buku panduan?" tanya Novela dalam hati.


Ketika keduanya sedang saling pandang dengan kedua tangan Steven yang masih memegang tangan Novela, dati arah belakang terdengar deheman cukup keras yang lantas mengejutkan keduanya.


" Maaf mengganggu, tapi sepertinya anda sudah harus pulang nona tuan Alder pasti sedang menunggu anda." ucap Haris sambil menekan setiap kalimatnya.


" Alder?" ucap Steven dalam hati.


" Bukankah tadi ..." ucap Novela namun terpotong karena tatapan tajam dari Haris yang membuat Novela langsung terdiam.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2