Ku Sangka Kau Malaikat

Ku Sangka Kau Malaikat
Turunlah, dan lakukan tugasmu sekarang!


__ADS_3

Suasana di dalam mobil keluaran terbaru milik Alder.


Sedari pagi Haris sudah memberitahukan kepada Novela agar berdandan layaknya kaum sosialita sebelum pergi, tidak ada penjelasan secara detail yang di ucapkan oleh Haris selain menyuruhnya untuk berdandan.


" Sebenarnya mau kemana sih? mana suasananya hening banget, kalau tiba tiba aku kelepasan kentut kan gak lucu." ucap Novela dalam hati sambil melirik Alder yang duduk dengan tenang di sebelahnya sambil menatap ke arah ponsel pintarnya sedari tadi, sedangkan Haris di depan fokus dengan jalanan.


Sampai beberapa menit kemudian mobil yang di kendarai Haris berhenti di sebuah galeri seni yang lantas membuat tanda tanya besar di benak Novela.


" Galeri seni? apa ia menjadi tamu undangan di sini?" ucap Novela dalam hati bertanya tanya.


" Turunlah dan lakukan tugas mu!" ucap Alder dengan singkat yang langsung membuat Novela menatap bingung ke arah Alder.


" Tugas? tugas apa yang ada maksud tuan?" ucap Novela dengan tatapan bingung ke arah Alder mencari jawaban di sana.


" Apa kau tidak menjelaskan padanya ris?" tanya Alder kala melihat muka bingung Novela.


Mendengar ucapan tuannya Haris lantas langsung menoleh ke arah kursi penumpang sambil tersenyum garing ke arah Alder.


" Maaf tuan saya tadi lupa." ucap Haris sambil tersenyum garing.


" Kau benar benar ya." ucap Alder dengan nada kesal.


" Bukankah kau ingin membalas dendam? ya lakukan sekarang! bukankah galeri seni ini tidak asing untukmu?" ucap Alder memberi penjelasan namun dengan nada dan penjelasan yang lebih mirip teka teki.


Mendengar hal itu Novela lantas terdiam dan menarik kesimpulan dari ucapan Alder barusan.


Bayangan masa lalu tentang masa di mana ia begitu mencintai Putra hingga Novela rela setiap harinya datang ke galeri seni ini demi melihat Putra walau hanya dari jauh.


Novela lantas menatap ke arah Alder, keduanya saling tatap selama sepersekian detik sampai kemudian Novela mulai berbicara meski ia ragu.


" Tuan apakah ini?" ucap Novela dengan nada menggantung yang lantas di balas senyuman tipis oleh Alder.

__ADS_1


" Bukankah kau ingin membalas mereka? dekati Putra kalau perlu rebut dia dari Ranti, setelah Ranti hancur tinggalkan Putra, bukankah kau dapat dua kebahagian sekaligus dalam sekali dayung?" ucap Alder sambil memasang senyum iblis di wajahnya yang lantas membuat Novela bergidik geli melihatnya.


" Apa kah ini jalan yang benar bu?" ucap Novela dalam hati sambil tetap menatap ke arah Alder.


" Ada apa? apa kau ingin mundur setelah sampai sejauh ini? come on, kau bukan orang bodoh yang akan selalu tertindas bukan? lakukan dan balas kan semua rasa sakit mu." ucap Alder memberikan bumbu bumbu agar Novela bangkit dan mau membalaskan dendamnya.


Cukup lama Novela terdiam sampai kemudian.


" Anda benar tuan, saya harus membalaskan dendam orang tua saya." ucap Novela dengan nada yakin.


" Bagus" ucap Alder karena ternyata bumbu bumbu yang ia tambahkan sudah meresap sampai ke dalam.


" Saya permisi tuan, terima kasih atas motivasinya." ucap Novela kemudian melangkah keluar dari mobil.


" Apa kita kembali ke mansion tuan?" tanya Haris sambil menatap ke arah kaca spion.


" Tidak perlu kita tunggu saja di sini, aku ingin lihat apakah perempuan itu berhasil atau tidak." ucap Alder kemudian kembali membuka ponselnya dan mengecek beberapa hal tentang perusahaannya.


Sementara itu setelah turun dari mobil Novela mulai melangkahkan kakinya memasuki galeri seni tersebut.


Novela mencoba mengatur nafasnya sedari tadi, ia benar benar gugup kali ini.


" Huft kau bisa Novela." ucap Novela dalam hati sambil terus melangkah dengan anggun seperti yang telah diajarkan guru etika yang di datangkan langsung dari keraton untuk mengajari Novela.


Semua mata menatap ke arah datangnya Novela yang lantas membuatnya semakin salah tingkah.


Novela menghentikan langkah kakinya tepat di sebuah lukisan abstrak yang terpajang di dinding untuk mengatur nafasnya serta debaran jantungnya yang berdebar kencang sedari tadi.


" Permisi nona ada yang bisa saya bantu?" ucap Putra dari arah belakang Novela.


" Mangsa sudah masuk ke dalam perangkap, saatnya untuk berakting, kau bisa Novela kau bisa." ucap Novela dalam hati sambil mengambil nafas beberapa kali kemudian baru berbalik dan tersenyum ke arah Putra.

__ADS_1


Putra lantas diam terpaku melihat wajah cantik dengan tubuh yang indah di depannya.


" Tidak hanya cantik bahkan dia juga berkelas, benar benar keindahan yang sangat sayang untuk di biarkan begitu saja." ucap Putra dalam hati sambil terus menatap ke arah Novela.


" Apa kau pemilik galeri seni ini?" tanya Novela ber basa basi mencoba mencari cara agar dapat menarik Putra.


" Bagaimana kau tahu nona." tanya Putra sambil tersenyum menatap ke arah Novela.


" Panggil saja aku Ane, Ane Florensia." ucap Novela memperkenalkan mamanya sambil mengangkat tangannya.


Niat hati ingin bersalaman malah di balas hal yang mengejutkan oleh Putra, perlahan tangan Novela di pegang kemudian punggung tangan Novela di kecup cukup lama oleh Putra membuat Novela lantas tersentak akan apa yang di lakukan Putra saat ini.


" Saya Putra" ucap Putra sambil mengecup punggung tangan Novela kemudian mengangkat kepalanya dan memberikan senyum semanis mungkin kepada Novela.


" Iyu jijik banget aku lihat wajah sok manisnya itu, benar benar menggelikan." ucap Novela dalam hati namun masih dengan menampilkan senyuman termanisnya agar Putra tidak curiga.


" Senang berkenalan dengan mu." ucap Novela sambil menarik tangannya dan mengarahkannya ke belakang menggosoknya perlahan di baju bagian belakangnya untuk menghilangkan bekas ciuman Putra.


" Terima kasih banyak nona sudah meluangkan waktunya berkunjung ke sini." ucap Putra.


" Tentu dengan senang hati." ucap Novela.


" Bukankah lukisan ini sangat indah? bagi sebagian orang yang melihatnya tentu akan menganggapnya hanya sebuah coretan, namun bagiku lukisan ini sungguh sebuah karya yang di ciptakan dengan penuh perasaan di dalamnya, tidak hanya itu bahkan pelukis menaruh semua rasanya serta kehancuran yang sedang ia rasakan di dalam dirinya, bukankah pelukisnya sangat pandai mencampur semua perasaan ke dalamnya menjadi satu wadah yang indah untuk di nikmati?" ucap Novela menjelaskan panjang lebar.


Mendengar penjelasan Novela lantas membuat Putra begitu kagum akan sosok wanita cantik di depannya.


" Benar benar sempurna, ia benar benar tipeku." ucap Rival sambil tersenyum mendengar hal itu.


Karena Putra yang tidak kunjung menanggapi ucapannya, Novel kemudian langsung menatap ke arah Putra yang ternyata sedang terpaku menatap ke arahnya.


" Bukankah dia gampang sekali berpindah hati? baguslah, setidaknya aku tidak perlu terlalu bekerja keras untuk mengait nya." ucap Novela dalam hati yang melihat tatapan Putra yang seperti terpesona akan segalanya tentangnya, mungkin lebih tepatnya tentang Ane.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2