Ku Sangka Kau Malaikat

Ku Sangka Kau Malaikat
Apa kali ini aku salah lagi?


__ADS_3

Ruang tengah mansion milik Alder.


Setelah Alder selesai mengembalikan posisi tulang kaki Novela yang sedikit terkilir, suasana di ruang tengah mendadak menjadi hening membuat kecanggungan mulai datang dan menyapa keduanya.


" Kamu ..." ucap keduanya secara bersamaan membuat Novela dan juga Alder tak jadi melanjutkan ucapannya.


" Tuan dulu" ucap Novela kemudian.


" Tidak kau dulu." ucap Alder sambil menggelengkan kepalanya.


" Tidak perlu tuan, lagi pula saya juga lupa akan mengatakan apa barusan." ucap Novela dengan polosnya yang membuat Alder langsung menatap tak percaya kepada wanita di hadapannya ini.


" Apa yang membuatmu risau hingga seperti setrikaan tadi?" tanya Alder sambil memalingkan pandangannya ke arah lain.


" Saya tadi hanya sedang berpikir tuan." ucap Novela dengan ragu.


Mendengar hal itu Alder lantas kembali menoleh dan menatap ke arah Novela dengan tanda tanya.


" Tentang?"


Terdengar helaan nafas dari Novela hingga kemudian, " Ternyata selama ini tante Neta tengah mencari keberadaan ku untuk menandatangani surat surat penting untuk pemindah tanganan hak waris." ucapnya kemudian dengan nada lirih namun masih bisa di dengar oleh Alder.


Mendengar ucapan Novela lantas membuat Alder tersenyum sinis seakan menandakan ia sudah menebak dan mengetahui tentang hal ini.


" Aku sudah menebaknya, mengambil segalanya dari ahli waris yang sesungguhnya tidak akan semudah membalikkan telapak tangan." ucap Alder dengan senyum tipis di sudut bibirnya.


" Lalu saya harus bagaimana tuan?"

__ADS_1


" Rayu Putra cari cara apapun untuk bisa membuat Putra menyerahkan surat itu secara sukarela." ucap Alder dengan tersenyum.


" Tuan itu terlalu sulit, anda tahu bukan pikiran Putra tidak jauh jauh dari kata mesum dan anda meminta saya menggunakan segala macam cara itu benar benar mengerikan." ucap Novela dengan kesal karena ide Alder sama gilanya.


" Come on, kamu tidak harus melakukannya bukan? ada banyak cara yang bisa kau pakai, mengapa harus repot?" ucap Alder kemudian bangkit beranjak pergi meninggalkan Novela yang masih bingung dengan ucapan Alder.


" Maksudnya tuan ?" ucap Novela lagi namun dengan nada setengah berteriak membuat Alder langsung menghentikan langkah kakinya.


" Bukankah kau sering menonton serial drama?" ucap Alder seperti memberikan kode kemudian melangkahkan kakinya kembali menuju ruang kerjanya.


Novela yang mendapat jawaban ambigu itu lantas langsung menyengir kuda dan menatap kembali ke arah televisi yang telah mati. Seperti mendapat angin segar yang membawa sebuah solusi, Novela lantas bangkit berdiri kemudian berlari menuju ke kamarnya.


Sementara itu Alder yang sudah berada di dalam ruang kerja lantas membuka kembali pintu ruangannya, ketika mendengar langkah kaki Novela dengan sedikit mengeluarkan tubuhnya sambil melihat ke mana arah perginya Novela barusan sambil tersenyum. Ditatapnya punggung Novela dengan senyum yang lebar ia seperti tengah tersengat sesuatu di jantungnya yang membuatnya selalu berdebar ketika melihat tingkah lucu yang di lakukan oleh Novela.


" Dia benar benar mengerti kode dariku? bukankah dia menggemaskan?" ucap Alder dalam hati sambil geleng geleng kepala kemudian kembali masuk ke ruang kerja dengan senyum yang masih terlukis di wajahnya.


****


Steven melonggarkan dasi yang ia kenakan kemudian melemparnya ke sembarang arah, setelah itu ia langsung merebahkan dirinya di ranjang empuk miliknya. Steven membalikan tubuhnya dan memandangi langit langit kamarnya yang gelap tanpa adanya penerang lampu sama sekali, hanya cahaya rembulan yang masuk melalui dinding kaca yang langsung terhubung ke balkon kamarnya.


" Jika Alder tahu dia bukan Ane, lalu kenapa Alder sampai membelanya seperti itu?" ucap Steven di sela sela dirinya menatap langit langit. " Pasti ada sesuatu dalam diri gadis itu yang membuat Alder tertarik padanya." ucapnya lagi dengan yakin.


Steven kembali mengingat ingat tentang pertemuannya pertama kali dengan gadis berwajah Ane itu, satu persatu ingatan itu mulai terlintas layaknya sebuah kaset yang tengah di putar ulang oleh pemiliknya, senyuman nampak terukir sekilas di sana kala mengingat kembali tentang hari itu, hingga tanpa terasa perlahan kelopak matanya mulai menutup dan membawanya menuju ke pulau impian.


*****


Keesokan harinya Alder terlihat tengah sarapan dan bersiap untuk berangkat ke kantor lengkap dengan setelan jasnya, kali ini Alder memang sengaja datang ke kantor karena ada launching game baru yang mengharuskannya untuk meninjau secara langsung.

__ADS_1


Alder memakan sarapannya dengan santai karena memang acaranya masih di mulai pukul 9 pagi nanti sehingga ia masih ada waktu sedikit sebelum berangkat ke kantor. Ketika sedang asyik memakan sarapannya Alder mendengar suara berisik langkah kaki yang seperti tengah berlari dengan terburu buru menuju ke arah meja makan, ya bisa Alder tebak dengan pasti bahwa itu adalah Novela, sambil memutar bola matanya dengan jengah Alder mulai menyeruput kopi di gelasnya.


" Tuan!" ucap Novela dengan excited ketika jarak antara dirinya dan meja makan hanya tinggal beberapa langkah lagi.


Alder yang memang tengah meminum kopinya lantas hanya melirik ke arah Novela, melihat penampilan Novela yang berbeda lantas langsung membuat Alder tersedak dan memuncratkan kopinya hingga membasahi kemejanya.


Uhuk uhuk


Novela yang melihat hal itu lantas dengan spontan berlari mendekat ke arah Alder dengan sedikit membungkukkan tubuhnya untuk melihat keadaan Alder sambil menepuk punggung Alder perlahan agar meredakan batuknya.


Bukannya malah lega mata Alder lantas menjadi melotot karena melihat sebuah pemandangan dua gunung kembar menjembul dari baju bagian atas mini dress yang dipakai oleh Novela.


" Apakah dia sedang mengujiku dengan penampilannya saat ini? benar benar sialan!" ucap Alder dalam hati dengan kesal namun masih tetap menikmati pemandangan yang disuguhkan dihadapannya.


" Tuan apakah anda baik baik saja ?" ucap Novela dengan khawatir karena Alder terus terbatuk sambil menatap ke arah bawah tanpa bersuara sedikit pun.


Novela yang tidak mendapat respon apapun lantas membungkukkan tubuhnya lebih rendah lagi untuk melihat kondisi Alder dan memastikan semua baik baik saja, posisi tubuh Novela yang semakin membungkuk membuat dua gunung kembar yang tadinya hanya terlihat menjembul kini malah nampak melebar dan saling berhimpitan satu sama lain membuat jiwa laki laki Alder meronta melihat keindahan yang tersuguh dihadapannya.


" Hentikan gerakan mu dan jangan menunduk lagi!" ucap Alder kemudian dengan suara menggelegar sambil memejamkan matanya menahan hasrat yang terus menerus menggebu dalam dirinya.


Mendengar ucapan Alder bukannya berhenti Novela malah semakin menunduk untuk melihat wajah Alder, namun sedetik berikutnya ia kembali terkejut karena suara menggelegar milik Alder lagi lagi menggema memenuhi seluruh pendengarannya.


" Ku bilang hentikan! apa kau tuli?" ucap Alder kemudian sambil sedikit mendorong tubuh Novela agar menjauh darinya dan langsung bangkit tanpa mengatakan apapun kemudian berlalu pergi meninggalkan Novela seorang diri dengan berbagai tanda tanya di benaknya.


" Apa kali ini aku salah lagi?" tanya Novela pada diri sendiri sambil menatap punggung Alder hingga menghilang dari pandangannya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2