Ku Sangka Kau Malaikat

Ku Sangka Kau Malaikat
Identitas baru


__ADS_3

Enam bulan kemudian


Seorang gadis cantik mengenakan dress selutut di padu dengan hells berwarna senada, nampak anggun tengah berjalan menuruni satu persatu anak tangga menuju ke arah ruang keluarga di sebuah mansion.


Tak tak tak tak


Suara ketukan demi ketukan yang berasal dari hells gadis tersebut terdengar jelas memenuhi ruangan mansion yang luas menambah kesan anggun melekat pada diri gadis tersebut.


Langkah gadis itu terhenti tepat di depan seorang pria yang tengah duduk di sofa dengan menghisap rokok di tangannya secara perlahan kemudian menghembuskan asapnya hingga mengepul ke area sekitaran pria tersebut.


" Bagaimana? apa kau suka penampilanmu saat ini?" ucap pria tersebut yang tidak lain adalah Alder.


" Saya menyukainya tuan." ucap gadis cantik tersebut yang tak lain adalah Novela, penampilan dan tingkah Novela berubah 360 derajat semenjak operasi plastik itu, tidak hanya wajah dan tubuhnya, bahkan tata bahasa dan semua gerak gerik tubuhnya berubah menjadi lebih anggun. Alder benar benar berhasil merubah setiap inci dari Novela.


Alder kemudian lantas melempar sebuah map yang berisi identitas lengkap Novela yang baru.


Novela yang menerima map tersebut lantas mengerutkan keningnya dengan bingung akan identitas baru yang di berikan oleh Alder.


" Apa ini juga di butuhkan tuan? mereka tidak akan mengenali wajahku tuan, jadi bukankah semua identitas ini tidak di butuhkan lagi tuan?" ucap Novela.


" Jika aku memberi mu perintah bukankah kau harus menurutinya tanpa pertanyaan, apa kau lupa tentang isi pasal di kontrak itu?" ucap Alder.


Novela yang mendengar hal tersebut lantas mulai memutar bola matanya jengah karena terus menerus di ingatkan tentang isi kontrak gila itu.


" Pasal 1 : Keputusan penuh berada di tangan pihak pertama.


Pasal 2 :Pihak pertama berhak melakukan apapun kepada pihak kedua.


Bukankah seperti itu tuan?" ucap Novela mengulang kembali isi kontrak tersebut dengan ogah-ogahan.

__ADS_1


" Bagus jika kau ingat tentang isi pasal tersebut, dan ingat satu hal lagi kini namamu adalah Ane Florensia apa kau paham? lupakan tentang Novela, kubur nama itu dalam dalam, apa kau mengerti?" ucap Alder.


" Baik tuan" ucap Novela.


Alder kemudian lantas bangkit dari tempat duduknya dan berlalu, namun berhenti dan berbalik menatap ke arah Novela yang masih berdiri di tempatnya sedari tadi.


" Persiapkan dirimu untuk nanti malam, kita akan pergi menghadiri sebuah acara." ucap Alder kemudian melangkah pergi meninggalkan Novela sendiri di sana dengan begitu banyak tanda tanya di kepalanya.


" Apa aku bisa menolaknya? aku bilang tidak pun dia tidak akan mendengar ku." ucap Novela dengan nada cemberut kemudian melangkah pergi ke kamarnya.


Novela bergegas masuk ke kamarnya kemudian menutup pintu dan langsung menguncinya.


Novela lantas mematut dirinya di depan cermin, tidak hanya bagian depan bahkan Novela berputar selama beberapa kali kemudian kembali menatap ke arah cermin.


" Aku bahkan merasa seperti mimpi kala tiba tiba diriku berubah menjadi bidadari seperti ini, kadang aku masih bertanya tanya, apa ini sungguh diriku? namun saat aku mencubit tangan ku sendiri dan merasakan sakit barulah aku sadar bahwa ini benar benar diriku" ucap Novela pada diri sendiri sambil meraba pelan area wajahnya.


" Aku benar benar bahagia, kini tidak akan ada lagi yang merendahkan ku, aku bisa hidup dengan bebas." ucap Novela dengan bahagia sambil merebahkan dirinya ke ranjang empuk yang sudah ia tempati selama 6 bulan belakangan ini.


" Tapi tunggu, bagaimana caraku membayar semua hutang pada tuan Alder? apa yang harus ku lakukan? ah bodoh lah yang penting aku bebas dulu dari bullying, kini tidak akan ada lagi Novela si korban bullying yang tersisa kini hanyalah Ane, Ane Florensia." ucap Novela dengan tertawa riang.


*****


Klub milik Richard


Alder nampak duduk di bartender dengan suasana hati yang buruk, niat hati ingin membalas dendam akan kematian kekasihnya malah Alder sendiri yang goyah ketika melihat wajah Ane berada di wajah Novela.


" Sial ada apa ini? kenapa aku jadi begini? harusnya aku bahagia karena tujuanku sebentar lagi akan tercapai, lalu apa lagi ini?" ucap Alder dengan kesal kemudian meneguk wine di gelasnya.


" Wait wait wait ada apa ini? kenapa tuan Alder yang terhormat siang bolong seperti ini sudah berada di sini?" goda Richard kala melihat Alder sudah bertengger di klubnya sedari tadi.

__ADS_1


" Hentikan tawa konyol mu itu, aku geli mendengarnya." ucap Alder dengan mendengus kesal.


" Come on Al lo berteman dengan gue gak hanya sehari dua hari, lalu apa ini? lo kata geli? hello Al apa gue gak salah denger?" ucap Richard sambil terkekeh geli.


" Sialan lo" ucap Alder sambil meneguk kembali wine di gelasnya.


" Ada apa lagi kali ini Al? Ane lagi?" tanya Richard dengan menebak, karena Richard tahu tidak ada hal lain yang membuat Alder segalau ini kalau bukan perihal tentang Ane.


" Gak perlu gue jawab sekarang, karena lo akan tahu nantinya." ucap Alder sambil tertawa sinis menatap ke arah Richard namun malah membuat Richard semakin bingung karena tidak mengerti akan ucapan dari Alder.


" Maksud lo Al?" tanya Richard tidak mengerti.


" Lo nanti malam dateng kan ke acara itu?" tanya Alder sambil tersenyum miring.


" Dateng, emangnya ada apa sih? jangan bikin penasaran deh?" ucap Richard yang semakin di buat bingung akan ucapan Alder.


" Sudahlah jangan terlalu kepo, lo cukup dateng dan lihat kejutan apa yang gue siapkan nantinya." ucap Alder lagi lagi memberi teka teki pada Richard.


" Kebiasaan lo, kejutan ekstrem apa lagi yang lo siapin buat bokap lo? damai aja lagi Al kan lumayan warisannya mengalir bebas." ucap Richard memberikan nasihat kepada Alder.


" Selagi nenek sihir itu masih ada, gue gak akan sudi berdamai dengan lelaki itu." ucap Alder tidak ingin di bantah.


" Ye udah kali Al lagian nih ya tuh nenek nenek kan gak bisa punya anak juga kan? hanya ada anak angkat doang, jadi otomatis semua harta warisan bokap lo akan jatuh ke tangan lo, ya gak?" ucap Richard dengan cengengesan.


" Persetan dengan harta itu, gue gak tertarik dengan harta warisan itu, karena gue masih bisa berdiri sendiri tanpa sepeser pun harta dari laki laki itu." ucap Alder dengan ketus.


Melihat Alder sudah naik pitam pada akhirnya Richard memilih untuk diam, karena jika di teruskan maka yang ada Alder akan mengobrak abrik seluruh tempatnya hanya karena rasa amarah yang memuncak.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2