Ku Sangka Kau Malaikat

Ku Sangka Kau Malaikat
Biar Haris yang menyelesaikan segalanya


__ADS_3

Bruk...


Suara pintu kamar di buka dengan kasar oleh Putra, membuat Novela sedikit menggigit bibir bawahnya karena ia tidak menyangka bahwa laki laki di hadapannya ini sangatlah brutal ketika dalam mode ingin. Putra menutup pintu hotel dengan senyum menyeringai ke arah depan, membuat Novela lantas menelan salivanya kasar melihat wajah Putra dan tatapannya yang seperti itu.


"Let's go baby..." ucap Putra sambil melempar jas yang ia kenakan dan mencopoti kancing kemejanya satu persatu dengan kasar.


"Tu..nggu sebentar! bukankah malam ini akan lebih enak jika kita melakukannya sambil minum wine?" ucap Novela dengan ragu membuat Putra menatapnya dengan bingung.


"Kenapa harus wine? kita bisa memulainya secara langsung bukan?" ucap Putra dengan raut wajah yang cemberut persis dengan seorang anak kecil yang tengah ngambek.


Mendengar hal itu Novela lantas berjalan mendekat ke arah Putra dan membisikkannya sesuatu sambil memegang tengkuk Putra dengan gerakan sensual membuat hasrat Putra semakin di ujung.


"Aku tidak terlalu pro dan butuh pemanasan, setelah wine kau bisa mencicipi yang lainnya juga." ucap Novela dengan nada sengaja dilembutkan agar Putra mengiyakan ajakannya, entah dapat dorongan dari mana Novela mampu melakukannya sejauh ini, padahal ia benar benar tidak tahu sama sekali tentang urusan antara laki laki dan perempuan, jangankan untuk pacaran, baru menyukai saja ia sudah di tolak mentah mentah oleh Putra karena fisiknya yang memiliki kekurangan waktu itu.


Putra yang seperti mendapat pancingan sekaligus angin segar langsung mengiyakan ucapan Novela barusan, Novela kemudian lantas menuntun Putra ke atas ranjang agar duduk dan menunggunya di sana, sedangkan Novela kemudian melangkahkan kakinya menuju mini bar dan mulai meracik minuman untuk keduanya.


Novela memutar gelas wine di sebelah tangan kanannya dengan senyuman tipis mengembang di bibirnya, setelah kedua minuman siap Novela kembali melangkahkan kakinya ke arah Putra kemudian memberikan gelas wine tersebut kepada Putra.


"Bersulang" ucap keduanya secara bersamaan.


Putra yang memang sudah diliputi perasaan ingin kepada Novela lantas langsung meminum wine tersebut dengan sekali tegukan, sedangkan Novela hanya bisa berteriak dalam hati karena kali ini umpan benar benar telah masuk ke dalam perangkap.


Setelah gelas wine itu kosong Putra menaruh gelas tersebut secara sembarangan, hingga pecah dan mengenai karpet bulu milik hotel namun acuh dan langsung memeluk Novela dengan erat tanpa ingin melepaskannya barang sedetik pun.


"Wow wow wow santai Put, apa kamu tidak lihat gelasnya sampai pecah begitu?" ucap Tazkia sambil sedikit membuang muka karena jarak keduanya terlalu dekat.


"Bagaimana bisa aku membiarkan gadis secantik dirimu terlalu lama." ucap Putra.


Setelah mengatakan hal itu Putra kemudian dengan brutalnya menyerang area leher milik Novela, hingga dirinya sedikit meringis sambil menahan suara agar tidak keluar dan semakin memancing hasrat laki laki di hadapannya kini.

__ADS_1


"Sial, sampai kapan aku harus menunggu? bukankah seharusnya obat itu bereaksi? atau jangan jangan pak Udin memberikan obat yang salah lagi, oh no mati aku kalau memang benar benar salah." ucap Novela dalam hati.


Selama beberapa menit Putra mengekspos setiap inci bagian leher Novela hingga perlahan lahan gerakannya mulai melambat dan kemudian...


Bruk


Tubuh Putra jatuh dan menimpa tubuh mungil milik Novela di ranjang king size hotel tersebut. Novela yang belum sepenuhnya yakin akan reaksi obat tersebut lantas beberapa kali menepuk tepuk tubuh Putra di atasnya, sampai ia benar benar yakin bahwa obat tersebut telah bereaksi ia kemudian melempar tubuh besar itu agar minggir dari atas tubuhnya.


"Huft berat banget nih orang." ucap Novela sambil bangkit berdiri. "Mungkin agak kurang estetik kali ya kalau aku ninggalin dia begini aja." ucap Novela sambil menatap ke arah Putra yang sudah teler di atas tempat tidur setelah meminum wine yang di berikan oleh Novela.


Novela lantas naik ke atas ranjang perlahan kemudian menyeret tubuh Putra agar naik seutuhnya sedikit demi sedikit, butuh perjuangan yang ekstra bagi Novela untuk melakukannya dan menaruh tubuh Putra dengan posisi yang pas dan strategis (yailah pakai acara strategis, berasa kayak bangun ruko kali ya?).


Tok tok tok


Suara ketukan pintu dengan keras tiba tiba saja mengejutkan aksi Novela yang hendak membuka dengan sempurna kemeja Putra yang mana tadi hanya terbuka kancingnya saja.


"Hu benar benar mengejutkan saja, siapa sih? gak sabaran amat jadi orang." gerutu Novela namun sambil tetap bangkit berdiri menuju ke arah pintu.


Tok tok tok


Baru saja Novela berhasil membuka pintu sedikit, tiba tiba saja pintu di dorong dengan keras membuat Novela yang tidak siap lantas hampir tersungkur jika ia tidak dengan cekatan mencari sesuatu untuk ia genggam.


"Huft hampir saja gue jatuh." ucap Novela.


"Apa kau tidak ada tempat lain untuk di raih?" ucap suara berat yang ternyata adalah Alder.


Mendengar suara yang di kenalnya Novela lantas mendongak untuk memastikan bahwa pendengarannya benar, dengan spontan Novela langsung melepas genggaman tangannya setelah tahu yang sedari tadi ia tarik adalah dasi yang sedang di kenakan oleh Alder.


"Maaf tuan"

__ADS_1


"Kau... benar benar selalu saja membuat ku kesal! apa saja yang telah kau lakukan ha?" ucap Alder dengan nada setengah berteriak membuat Novela lantas mendadak terdiam gugup tidak bisa menjawabnya.


"Dimulai lagi nih dramanya? kenapa gak bilang cemburu aja sih? jadi kan gak perlu repot repot." ucap Haris dalam hati yang setia mengikuti langkah kaki Alder sedari tadi.


"Kenapa kau diam saja? apa kau benar benar melakukannya bersama pria bejat itu?" tanya Alder lagi dengan kesal.


"Ten.. tu tentu saja tidak." ucap Novela dengan gelagapan.


"Kau ya..." ucap Alder ingin berteriak namun urung. "Apa kau yakin tidak melakukannya?" tanyanya lagi memastikan.


"Iya tuan, sungguh" ucap Novela dengan yakin.


"Baguslah, good girl! kalau begitu sekarang kita pulang." ucap Alder sambil menarik tangan Novela agar mengikutinya.


"Tapi tuan"


"Apa lagi?"


"Saya belum menyelesaikan tugas saya." ucap Novela membuat Alder lantas menatapnya dengan tajam.


"Biar Haris yang melanjutkan sisanya." ucap Alder kemudian.


"Tapi tuan"


"Apa lagi sih kali ini?"


"Tas dan berkasnya masih ada di dalam." ucap Novela dengan cengengesan.


"Udah nanti biar Haris yang mengurus semuanya, kamu tinggal pergi saja dan kali ini tidak ada tapi tapian lagi." ucap Alder membuat Novela langsung terdiam dan tidak bisa membantah lagi, Novela pada akhirnya hanya bisa pasrah mengikuti langkah kaki Alder.

__ADS_1


"Hem di tinggal lagi kan, kebiasaan nih tuan, selalu saja aku yang membereskan sisanya, untung saja gajinya gede." ucap Haris setelah kepergian Novela dan juga Alder.


Bersambung


__ADS_2