Ku Sangka Kau Malaikat

Ku Sangka Kau Malaikat
Bodoh teriak bodoh


__ADS_3

Dari balik pintu tampak Alder yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan mengenakan handuk kimono dan penampilan rambut yang basah, bukan tanpa alasan Alder memilih mandi lagi setelah tadi pagi mandi masalahnya adalah karena ia tidak bisa menahan gejolak dalam dirinya ketika melihat Novela tadi dan alhasil jadilah Alder harus melanjutkan hasratnya di kamar mandi sendirian, ya kalian tahulah 🤭.


Alder menatapi tubuhnya di cermin dengan raut wajah yang kesal, bagaimana bisa ia dengan mudahnya tergoda hanya karena Novela yang mengenakan baju se*y, itu terlalu biasa apalagi jika Novela tanpa sehelai benang apapun yang melekat pada tubuhnya, mungkin bisa dipastikan Alder akan melahap habis sampai ke tulang tulangnya (oh bukankah itu terlalu sadis 🤔).


"Benar benar sialan! aku harus mandi dua kali pagi ini, bisa telat aku ke kantornya." ucap Alder dengan kesal kemudian melangkahkan kakinya menuju walk in closet untuk mengambil setelan jas yang baru.


****


Alder menuruni anak tangga satu persatu dengan mood yang sudah terlanjur hancur, di sebelah ruang tengah tepatnya di dekat sofa terlihat Haris sudah berdiri dengan tegap menunggu Alder selesai dengan urusannya.


" Apa kau sudah menyiapkan segala berkasnya ris?" tanya Alder sambil melangkahkan kakinya mendekat ke arah Haris yang sudah menantinya sejak tadi.


"Sudah tuan 15 menit lagi acara pembukaan peluncuran game kita di mulai." ucap Haris singkat.


Mendengar ucapan Haris, Alder hanya bisa mengangguk karena ia tahu 15 menit bahkan sudah sangat molor bagi seorang Alder, tapi setidaknya masih ada 15 menit untuk pergi ke sana sebelum acara itu dimulai. Keduanya lantas melangkahkan kakinya hendak pergi meninggalkan mansion, namun baru beberapa langkah Alder berhenti ketika ia baru menyadari sesuatu penting yang terlewatkan.


"Kemana gadis itu?" tanya Alder dalam hati.


Alder kemudian lantas berbalik dan melangkah mendekat ke arah dapur membuat Haris yang memang berada di belakangnya sedari tadi menatap tuannya dengan bingung.


"Apa tuan belum sarapan? yang benar aja? mau berangkat jam berapa kalau begini." ucap Haris dalam hati namun masih tetap setia membuntuti di belakang Alder.


"Bi dia kemana?" tanya Alder.


"Pergi tuan muda." jawab Rina dengan singkat.


"Pergi kemana?"


"Nona tidak mengatakan secara spesifik hanya saja tadi dia meninggalkan pesan bahwa hari ini nona akan mendapatkannya." ucap Rina sambil mengingat ingat pesan dari Novela tadi.

__ADS_1


Mendengar ucapan Rini, Alder nampak berpikir sejenak mencerna maksud dari ucapan Rina barusan.


"Sialan! dia tidak akan benar benar melakukannya bukan?" ucap Alder dengan kesal kemudian berlari menuju ke arah parkiran.


Sedangkan Haris yang melihat langkah terburu tuanya hanya bisa mengikutinya dari belakang tanpa tahu arah dan tujuan, yang dilakukannya sedari tadi hanya bisa menerka nerka tanpa bisa menebak secara akurat ataupun bertanya secara langsung kepada Alder.


*****


Ketika sampai tepat di depan mobilnya yang terparkir di garasi, tiba tiba saja Alder menghentikan langkahnya kembali, yang membuat Haris langsung mengerem secara mendadak agar tidak menabrak tubuh Alder.


"Hhhhhhhhhhhhhhh ada apa tuan lari lari?" tanya Haris dengan nafas yang terengah-engah.


"Tapi kemana aku harus mencari gadis itu?" tanya Alder yang lantas membuat Haris mengerutkan keningnya bingung akan arah ucapan Alder barusan.


"Siapa yang anda maksud tuan?" tanyanya dengan bingung.


"Ya dia siapa lagi, aku gak mau tahu cari dia sekarang juga sampai ketemu!" ucap Alder dengan nada yang kesal.


"Terserah mau kau apakan acara itu, yang jelas cari di mana gadis itu berada sekarang!" ucap Alder namun kali ini dengan nada penekanan membuat Haris mau tidak mau suka tidak suka harus menuruti perkataan tuannya.


"Baik tuan secepatnya saya akan memberikan letak akuratnya." ucapnya kemudian dengan pasrah.


*****


Sementara itu di salah satu restoran ternama Novela dan Putra sedang menikmati makanannya, Novela sengaja mengenakan sebuah blazer yang ia kaitkan dengan melilitkan ikat pinggang di pinggangnya, sehingga buah dadanya yang nampak menjembul sedikit karena pakaian yang ia kenakan sekarang tidak terlihat. Novela berpikir dengan keras bagaimana cara memulainya sampai kemudian sebuah ide gila muncul dipikirannya.


Perlahan Novela membuka ikat pinggang yang melilit tubuhnya kemudian melepaskan blazer yang ia kenakan, sehingga mengekspos dua aset berharga miliknya, sebenarnya Novela tidak menginginkan hal ini namun demi ayah dan ibunya Novela harus bisa melakukannya.


"Semoga saja kali ini berhasil." ucap Novela dalam hati. "Ehem Put..." panggil Novela kemudian.

__ADS_1


Mendengar panggilan itu Putra lantas mendongak dan melihat ke arah Novela. Bagai melihat hidangan nikmat di depannya Putra langsung menatap Novela dengan perasaan yang ingin.


"Bagaimana kalau aku membantu mu menemukan gadis itu?" ucap Novela ragu ragu, namun bukannya menjawab Putra malah hanya fokus menatap dua aset kembar milik Novela.


Novela memutar bola matanya jengah melihat kelakuan Putra seperti itu, dengan ogah ogahan Novela lantas menjentikkan tangannya tepat di depan Putra agar Putra kembali fokus dan mendengarkannya.


"Bagaimana Put?" tanya Novela.


"Boleh, kalau kamu mau... aku membawa berkasnya sekarang, asalkan..." ucap Putra menggantung dengan senyum menyeringai.


Mendengar hal itu tentu saja membuat Novela bahagia seakan jalannya benar benar direstui sekarang.


"Asalkan apa?" tanya Novela pura pura tidak tahu padahal ia mengerti akan arah pembicaraan Putra.


"Pulang dari sini kita mampir ke hotel." ucap Putra sambil mengerlingkan matanya sebelah.


"Target sudah masuk ke dalam perangkap! saatnya beraksi." ucap Novela dalam hati dengan riang gembira. "Boleh, asal berikan dulu berkasnya anggap saja kita melakukan barter, bukankah begitu?" ucap Novela sambil mengerlingkan matanya juga.


Melihat aksi Novel tentu saja membuat Putra tersenyum puas, ia kemudian lantas merogoh tas kerjanya kemudian mengambil map yang berisi berkas sesuai permintaan Novela. Novela membuka perlahan berkas tersebut dan benar saja itu berkas yang asli bukan hanya sekedar tiruan atau hanya tipuan saja.


"Bagaimana berkas ini bisa ada padamu? bukankah kamu tidak ada sangkut pautnya dengan mereka?" tanya Novela yang penasaran.


Putra memutar gelas wine miliknya perlahan kemudian tersenyum simpul.


"Ranti itu sangatlah bodoh, aku hanya memberikannya janji manis soal ikatan pernikahan dan dia memberikan segalanya termasuk sertifikat rumah itu hahaha." ucap Putra dengan gelak tawa.


"Harusnya aku yang mengatakan hal itu, bukankah dia dan Ranti sama bodohnya? lalu siapa di sini yang bodoh berteriak bodoh?" ucap Novela dalam hati sambil menatap sinis.


"Jadi well kita pergi sekarang?" tanya Putra sambil menaikkan kedua alisnya.

__ADS_1


"Sure"


Bersambung


__ADS_2