
Dapur
Seulas senyum terlihat tak henti hentinya muncul di wajah Novela, kala ia berhasil membuat sebuah menu makanan kesukaan Alder yang tentu saja agak susah menurut Novela, selain bukan masakan yang berasal dari negara Indonesia namanya juga aneh kala diucapkan oleh lidah Novela.
"Yei akhirnya jadi lalasananya..." teriak Novela dengan riang gembira.
"Bukan lalasana non lasagna." ucap Rina membetulkan pengucapan Novela yang salah.
"Eh apa iya ya... hehehe bukannya sama aja ya bi?" tanya Novela sambil tersenyum.
"Ya jelas beda non, non Ane ini bisa saja." jawab Rina sambil menggeleng geleng kepala melihat kelakuan aneh Novela.
"Baiklah apapun itu namanya yang penting aku telah berhasil membuatnya, beri tepuk tangan yang meriah bi.." teriak Novela kemudian.
"Ha?"
"Ayolah bi.." pinta Novela lagi.
Pada akhirnya mau tidak mau Rina lantas menuruti perkataan Novela dan mulai bertepuk tangan dengan meriah. Setelah acara penghargaan yang dadakan itu, Novela kemudian lantas mulai membawa hasil karyanya menuju ruang kerja Alder.
Tok tok tok
Tidak ada jawaban dari dalam ruang kerja, membuat Novela yang tangannya sudah mulai pegal lantas langsung membuka pintu dengan asal dan masuk ke dalam.
__ADS_1
"Kosong, tuan kemana ya?" ucap Novela sambil mengedarkan pandangan menyapu sekitar.
Novela lantas masuk ke dalam kemudian menaruh piring berisi lasagna tersebut ke meja Alder.
"Apa aku taruh di sini saja ya? mungkin tuan sedang di kamar mandi." ucapnya kemudian.
Disaat Novela tengah bimbang akan menaruh makanannya atau tidak, pandangannya lantas terhenti pada sebuah laci yang dibiarkan terbuka begitu saja. Ada rasa penasaran yang muncul dalam diri Novela kala melihat ada sebuah foto dengan posisi terbalik dengan tulisan "my love" di sudut pojok kiri foto tersebut.
"Kalau aku melihatnya tuan tidak akan marah bukan?" tanya Novela pada diri sendiri mencoba menimbang nimbang keputusan apa yang akan Novela ambil. "Semoga saja tidak." imbuhnya lagi kemudian.
Dengan tekad yang kuat Novela mulai mengambil foto foto tersebut. Novela cukup dibuat terkejut kala melihat dirinya yang sekarang, tengah berpose cukup manis di sana. Awalnya Novela mengira itu adalah dirinya namun setelah dipikir pikir lagi, bagaimana mungkin foto ini ada jika sejak operasi itu selesai Novela bahkan tidak pernah melakukan pemotretan sama sekali. Selain itu terdapat tanggal di foto tersebut di buat yang lantas membuat Novela semakin tercengang.
"Tujuh tahun yang lalu, bagaimana mungkin? jika umur tuan Alder saat ini 30 tahun, satu tahun ke belakang adalah tahun di mana tuan Alder membantuku, berarti tersisa enam tahun lagi... berarti saat itu usia tuan Alder sekitar 23 tahunan." ucap Novela menerka nerka kejadian demi kejadian.
Novela lantas mulai berdebar kala melihat foto selanjutnya yang nampak adalah kebersamaan Alder dan juga Ane pemilik wajah yang ia gunakan sekarang. Ada banyak sekali foto kemesraan keduanya, hingga tangan Novela lantas terhenti kala melihat sebuah foto yang berisi kedekatan antara Alder, Ane dan juga Steven. Sungguh benar benar suatu kebetulan yang nampak mencengangkan bagi Novela.
Dengan buru buru Novel lantas berjongkok dan membereskan satu persatu foto yang berserakan di lantai, lalu memasukkannya kembali ke dalam laci dengan sembarangan.
Setelah memastikan semuanya kembali ke tempat semula, Novela lantas bergegas pergi dari sana dan menuju ke arah kamarnya.
***
Bruk
__ADS_1
Novela menutup dengan cukup keras pintu kamarnya lalu terduduk di depannya. Kilas balik kenangan demi kenangan dirinya bersama Alder mulai terlintas di benaknya. Satu hal yang Novela tangkap dari perilaku Alder padanya selama ini yaitu bayang bayang Ane yang tak pernah lepas dari nya seakan menjawab semua pertanyaan Novela. Alder tidak mencintainya, dalam hati pria itu hanya ada nama Ane Ane dan Ane bukan Novela.
Perlahan air mata mulai turun membasahi pipinya, padahal dari awal Novela sudah mencoba berusaha sekuat mungkin untuk tidak jatuh ke dalam pelukan Alder, namun sikap hangat dan juga perhatiannya membuat Novela luluh dan jatuh semakin dalam pada sosoknya. Kini Novela benar benar hancur kala mengetahui yang dicintai Alder sebenarnya bukanlah dia melainkan mantan kekasihnya.
"Bukankah selama ini aku bodoh? benar benar bodoh hiks hiks... pantas saja tuan Steve terlihat marah kala mengetahui aku bukanlah Ane, ternyata kenyataannya terasa berkali kali lipat menyakitkan kala aku mengetahui semuanya sendiri." ucap Novela dengan menangis tersedu. "Huaaa aku kira rasanya tidak akan sakit ternyata sangat sakit..." imbuhnya lagi dengan menangis tersedu.
******
Sementara itu di sebuah kafe terlihat Angelina tengah duduk menunggu seseorang di sana, tak beberapa lama Neta nampak melangkah mendekat ke arah Angelina duduk lalu menarik kursi di depan Angelina kemudian duduk di sana.
"Apa anda sudah menunggu lama nyonya?" tanya Neta dengan basa basi.
"Cepat katakan aku tidak suka basa basi!" ucap Angelina dengan ketus.
Mendengar hal itu Neta nampak tersenyum, "Sabarlah sedikit nyonya, terkadang kita perlu bersabar agar bisa mencapai tujuan utama kita!" ucap Neta kemudian sambil mengeluarkan sebuah map dan menyodorkannya kepada Angelina. "Cukup susah menggali informasi mendetail tentang Ane nyonya, mengingat putra anda mempunyai banyak sekali koneksi, sehingga membutuhkan kerja ekstra bagi saya untuk menggalinya." imbuh Neta namun kali ini dengan nada yang serius tidak seperti tadi.
"Aku suka dengan cara kerja mu. Ambillah itu bonus untuk mu." ucap Angelina kemudian sambil mendorong amplop coklat yang isinya sangat tebal.
Dengan tanpa malu Neta nampak mulai menarik amplop tersebut lalu mengintip isinya sebentar dan tersenyum.
"Terima kasih banyak nyonya, saya sangat senang berbisnis dengan anda." ucap Neta kemudian melenggang pergi dari sana meninggalkan Angelina yang masih sibuk membongkar dan melihat isi map yang di bawa Neta tadi.
Cukup lama Angelina mencermati setiap isi dari map yang di bawa Neta tadi, Angelina sungguh sangat senang dengan kerja Neta yang membawa data dengan lengkap tanpa harus di suruh. Bagaimana tidak lengkap? jika yang di selidiki adalah keponakan sendiri. Tentu saja itu sangatlah mudah, ditambah lagi dengan permainan Neta yang licik membuat semuanya tersusun rapi dalam satu map tersebut.
__ADS_1
"Rupanya anak itu ingin bermain main dengan ku, baiklah kita lihat saja siapa yang akan memenangkan permainan ini. Rasanya jiwa ku seakan tertantang dengan anak itu. Alder... Alder..." ucap Angelina dengan senyum mengembang sambil mengetuk ketukan jari tangannya pada meja secara berulang kali.
Bersambung