Ku Sangka Kau Malaikat

Ku Sangka Kau Malaikat
Dia bukan Ane!


__ADS_3

" Aku ingin pulang Steve! sungguh aku benar benar ingin pulang." ucap Novela kemudian sambil menatap manik mata Steven dalam dalam.


Melihat tatapan itu membuat Steven tertegun ia sedikit tersentak karena baru menyadari ada yang berubah dari manik mata milik Ane.


" Bukankah Ane memiliki manik mata berwarna hazel yang unik? tapi kenapa kini berganti menjadi warna kecoklatan? memang agak mirip jika di perhatikan sekilas namun jika di perhatikan dengan seksama ini benar benar jauh berbeda, apakah Ane sedang menggunakan softlens?" ucap Steven dalam hati bertanya tanya.


" Steve aku ingin pulang." ulangnya lagi karena Steven tidak menanggapi ucapannya.


" Sebaiknya kamu tidur ini sudah malam." ucap Steven datar kemudian melangkah hendak keluar dari kamar tersebut.


Novela yang merasa Steven tidak mengindahkan ucapannya lantas berusaha mengejar Steven namun sayangnya Steven terlebih dahulu keluar sambil mengunci pintu kamar membuat Novela terkurung di sana.


" Buka pintunya Steve! apa yang sebenarnya kamu inginkan? buka pintunya!" ucap Novela sambil menggedor gedor pintu berusaha untuk membukanya namun tetap saja tidak bisa.


" Benar benar kurang ajar laki laki itu, apa sebenarnya maunya? kenapa harus mengurungku di sini?" ucap Novela dengan kesal karena usahanya berteriak dari tadi hanya sia sia dan tidak membuahkan hasil.


Sementara itu setelah meninggalkan kamar Steven duduk berdiam diri di ruangannya, ia memikirkan satu persatu kemungkinan yang ada kemudian mencoba menyusunnya menjadi satu bagian.


" Aku merasa ada yang aneh dengan Ane, aku merasa asing dengannya padahal kami sudah bersahabat lebih dari 10 tahun harusnya kami berdua saling mengenal dan tahu karakter masing masing, tapi entah mengapa aku seperti tidak mengenali Ane sama sekali." ucap Steven.


Steven mengetuk ketukan buku buku jarinya ke meja sambil berpikir akan kemungkinan yang bisa saja terjadi.


Setelah cukup lama berpikir Steven kemudian lantas mulai membuka layar komputernya dan melihat rekaman pengawas di kamar yang di tempati oleh Novela.

__ADS_1


" Apa yang dia lakukan di pojokan seperti itu? bukankah di sana terdapat kasur atau sofa? kenapa malah meringkuk di bawah?" tanya Steven pada diri sendiri sambil fokus menatap ke arah layar komputernya.


Ketika Steven sedang fokus menatap ke arah layar komputer tanpa sengaja ia menjatuhkan pulpen miliknya hingga menggelinding dan jatuh ke bawah, Steven lantas berdecak kesal karena kecerobohannya, Steven kemudian berusaha sedikit menunduk untuk bisa menjangkau pulpen tersebut dengan posisi tangan kiri di atas meja untuk menopang tubuhnya, entah suatu kebetulan atau apa? tanpa Steven sadari tangannya memencet keyboard yang mengarahkan ke rekaman pengawas pada waktu sebelumnya atau mundur. Steven samar samar mendengar suara tak asing dari sana yang lantas membuat Steven diam terpaku mendengarnya.


" Maafkan aku An, aku tahu aku serakah tapi aku terpaksa melakukannya, aku sungguh tidak tahu jika kamu pemilik wajah ini, awalnya bahkan aku mengira wajah ini hanyalah hasil dari imajinasi Alder namun nyatanya seiring berjalannya waktu aku mulai menyadari bahwa aku melakukan sebuah kesalahan terutama terhadapmu, aku benar benar minta maaf An." ucap Novela dengan tulus sambil menatap foto Ane yang tengah tersenyum ceria di sana.


Mendengar hal tersebut Steven lantas membeku pertanyaannya langsung terjawab tanpa perlu menunggu waktu. Steven mengurungkan niatnya untuk mengambil pulpen itu dan langsung memutar kembali rekaman tersebut, tidak cukup sekali bahkan Steven memutarnya berkali kali dengan gambar yang di zoom berulang kali demi memastikan bahwa apa yang didengar dan terlihat di dalam kamera pengawas tersebut bukanlah halusinasinya saja.


" Jadi dia sungguh bukan Ane? awalnya aku sangat bahagia ketika mengira bahwa Ane selamat dari maut di saat mommy mengatakan bahwa Ane telah tiada, namun nyatanya yang ku temui bukanlah Ane melainkan orang lain!" ucap Steven sambil terus menatap layar komputer yang menyajikan rekaman itu secara berulang.


*******


Sementara itu jet pribadi yang di tumpangi Alder mendarat di Indonesia tepat pukul 3 pagi, Haris berdiri menanti kedatangan tuannya di bandara dengan sigap sedari tadi.


" Kemana dia membawa gadis itu?" tanya Alder sambil terus melangkah menuju ke arah mobilnya yang sudah terparkir di bawah.


" Nona Novela di bawa ke mansion tuan Steven." ucap Haris sambil terus mengikuti langkah kaki tuannya.


" Kita pergi ke sana sekarang!" ucap Alder dengan singkat tanpa ingin di bantah.


" Tumben tuan perduli? biasanya apapun yang di lakukan gadis itu tuan tidak pernah memperdulikannya." ucap Haris dalam hati.


****

__ADS_1


Beberapa menit kemudian mobil Alder terparkir tepat di halaman mansion Steven, dengan langkah kaki yang cepat Alder menuruni mobil dan langsung menggedor pintu mansion milik Steven (padahal terdapat bel di sebelahnya, mungkin karena emosi atau terburu Alder sampai melupakan hal itu).


" Bukankah ini masih larut? tuan terlalu tidak sabaran kali ini." batin Haris namun tidak berani mengutarakannya.


" Buka pintunya Steve!" teriak Alder.


Alder terus menerus menggedor pintu mansion berulang kali dengan sesekali berteriak. Untung saja ini adalah perumahan elit di mana halaman mansion yang luas membuat jarak atara tetangga cukup jauh, sehingga meskipun Alder berteriak sekalipun tidak akan terlalu menimbulkan kebisingan bagi tetangga sekitarnya.


Entah ke berapa kalinya Alder menggedor pintu tersebut hingga pada akhirnya terlihat Steven mulai membukakan pintu tersebut secara perlahan.


" Apa yang kamu lakukan pagi pagi buta begini kak?" tanya Steven dengan nada yang polos seakan akan tidak mengetahui apa maksud kedatangan Alder (padahal Steven sudah menduga bahwa Alder pasti akan datang untuk menyusul Novela).


Tidak ada kata kata yang keluar dari mulut Alder melainkan hanya dorongan fisik setelah itu Alder berusaha masuk dengan paksa ke dalamnya.


" Santai lah sedikit kak, apa kakak mau minum kopi dulu?" tanya Steven dengan santainya.


" Hentikan lelucon mu itu! aku benci dengan basa basi mu, katakan di mana kamu menyembunyikannya?" ucap Alder dengan kesal sambil menatap tajam ke arah Alder.


" Untuk apa kakak mencarinya? lagi pula bukannya kakak menjadikannya disisi kakak, hanya karena ingin membalas ku bukan? jadi lepaskanlah dia kak." ucap Steven yang malah sengaja memancing kemarahan Alder.


" Tutup mulutmu dia milikku! jangan pernah sekali kali menyentuhnya." ucap Alder penuh dengan penekanan di setiap ucapannya.


" Cih aku bahkan mengenalnya lebih dulu dari kakak, tapi kakak seakan akan sudah merasa memilikinya jauh jauh hari sebelum aku, bukankah kakak sedikit serakah?" sindir Steven yang lantas membuat Alder menatapnya dengan tajam.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2