Ku Sangka Kau Malaikat

Ku Sangka Kau Malaikat
Andaikan dulu ada seseorang yang membantuku


__ADS_3

Novela menghentikan langkah kakinya di depan wastafel, sebenarnya Novela tidak ada niatan sama sekali untuk pergi ke kamar kecil hanya saja ia tak suka dengan pandangan Rival, pandangannya seperti seakan akan melecehkannya.


" Sebenarnya siapa Ane? dan siapa Rival?" ucap Novela sambil menatap wajahnya ke arah cermin yang terpasang di dinding toilet tersebut.


Di saat Novela tengah menerka-nerka segala hal yang terjadi padanya, Novela tiba tiba saja mendengar suara pintu di buka dengan keras hingga membuatnya terkejut.


Novela kemudian lantas berjalan ke arah pintu depan toilet untuk memastikan suara apa barusan, namun sialnya ketika ia sampai di pintu depan toilet ia malah melihat Rival di sana dengan senyum yang menyeringai di wajahnya.


" Apa yang kamu lakukan di sini? ini toilet wanita." ucap Novela sambil mengambil langkah mundur perlahan untuk menghindari Rival karena jujur saja perasaannya benar benar tidak enak kali ini.


" Kau sungguh selalu saja bersikap jual mahal padaku." ucap Rival dengan senyum mengembang di wajahnya sambil berjalan maju perlahan untuk mendekat ke arah Novela.


" Ini sudah tidak lucu, silahkan kamu pergi dari sini ku mohon." ucap Novela sambil menoleh ke arah belakangnya mencoba mencari tempat untuk kabur dan yang terlihat olehnya hanyalah beberapa bilik kamar mandi di sana.


" Ayolah kita selesaikan ini dengan cepat, apa kau tidak lelah bermain main selama ini sayang?" ucap Rival dengan santainya.


" Bagaimana ini? bilik, ya aku harus berusaha masuk ke sana kemudian menguncinya." ucap Novela dalam hati.


Novela lantas bersiap untuk berlari memasuki bilik namun sayangnya gerakan Novela terlalu terbaca oleh Rival sehingga ketika Novela hendak berusaha kabur, Rival dengan gerakan cepat menjambak rambut Novela yang memang saat itu sedang mengenakan gaya rambut fishtail braid sehingga bisa langsung di tarik ujungnya oleh Rival.


" Aw sakit lepaskan." ucap Novela sambil mencoba melepaskan jambak kan tangan Rival pada rambutnya.


" Layani dulu aku, baru kau akan ku lepaskan." ucap Rival tepat di telinga kiri Novela.


" Melayani mu? cuih aku tidak akan pernah sudi melayani mu!" ucap Novela tanpa gentar sedikitpun.


Mendengar hal itu Rival lantas menjadi tersinggung, Rival kemudian melepaskan cengkraman tangannya di rambut Novela dan langsung menampar Novela dengan kasar hingga membuatnya terhuyung dan jatuh tersungkur di lantai.

__ADS_1


Tidak ada sedikit pun air mata yang keluar dari mata Novela, bukan tanpa alasan melainkan Novela bahkan pernah mendapatkan yang lebih daripada hanya di tampar pada saat di bully dulu, itulah mengapa Novela hanya diam dan malah menatap tajam ke arah Rival tanpa menangis seperti kebanyakan gadis gadis lainnya jika mendapat tamparan keras seperti tadi.


" Wah wah wah kau benar benar sesuatu ya? bahkan kau tidak menangis meski aku sudah menampar mu seperti itu, apakah masih kurang?" ucap Rival sambil berjalan mendekat ke arah Novela.


Rival kemudian lantas langsung memegang kedua tangan Novela dengan erat kemudian mencoba berusaha untuk mencumbunya.


" Lepaskan aku, sialan kau, lepas lepaskan aku." ucap Novela setengah berteriak sambil berusaha mencoba menghindari Rival yang mulai bermain dan menjilati lehernya.


Novela berusaha sekuat tenaga untuk bisa lolos dari jeratan Rival namun sayangnya kedua tangannya di kunci oleh Rival tidak hanya itu kakinya bahkan juga di kunci dengan erat oleh Rival agar tidak bisa menendang daerah sensitif Rival.


Ketika kaki Novela dihimpit oleh Rival, Novela merasakan ada sesuatu yang keras berusaha keluar dari celana milik Rival seperti sudah tidak tahan lagi.


" Sial aku tidak bisa jika harus hanya diam seperti ini, Tuhan tolonglah aku, ku mohon." ucap Novela dalam hati berharap ada yang datang dan menolongnya.


Ketika Novela sudah berada di titik pasrah akan nasibnya tiba tiba saja ada seseorang yang menarik jas milik Rival dari belakang kemudian melemparnya hingga Rival tersungkur cukup jauh dari tempat semula.


" Tuan" ucap Novela tanpa suara sambil menatap ke arah Alder yang tengah berdiri menatapnya.


" Pakailah untuk menutupi bajumu yang sudah berantakan itu." ucap Alder sambil memberikan jasnya pada Novela.


" Sialan kau, berani sekali mengganggu kesenanganku." ucap Rival setengah berteriak sambil bangkit berdiri.


Mendengar hal itu Alder lantas berbalik badan dan menatap ke arah Rival dengan tajam.


" Kau lagi, kenapa selalu saja ada kau di mana mana." ucap Rival dengan tersenyum miring


" Sudah cukup semuanya val, rupanya selama ini aku terlalu sabar menghadapi mu ha." ucap Alder dengan nada yang tegas

__ADS_1


" Hei jaga bicaramu jangan sok berlagak kau Al apa yang mau kau banggakan hanya dengan perusahaan game seperti itu, apa kau seorang anak kecil yang suka sekali dengan game?" ucap Rival dengan nada menyindir kepada Alder.


Alder yang mendengar ucapan Rival tersebut lantas tersenyum miring.


" Kita lihat saja apa yang akan datang pada perusahaan mu esok pagi." ucap Alder.


Tepat setelah mengatakan hal itu Alder lantas langsung memberikan tendangan tepat di perut Rival hingga membuatnya kembali tersungkur karena serangan mendadak dari Alder.


" Itu balasan karena kau telah menyentuh Ane ku, hadiah kecil selanjutnya dari ku akan segera datang kepada mu." ucap Alder kemudian berbalik dan langsung menggandeng tangan Novela mengajaknya pergi dari sana.


" Benar benar keparat kau Al." ucap Rival sambil menendang tong sampah di sebelahnya setelah kepergian Alder dan Novela.


Sementara itu Alder dan Novela bergegas pergi dari toilet tersebut, sedari tadi di toilet Alder terus saja menggenggam tangan Novela hingga memasuki lift.


" Andai saja ketika aku di bully dulu datang seorang penyelamat seperti tuan Alder, aku gak minta seperti tuan Alder karena aku yakin dia akan sulit sekali di gapai namun seenggaknya minimal adalah seorang pahlawan yang nolong aku waktu itu, sayangnya dulu aku hanya bisa halu walau menangis darah sekalipun tidak akan ada yang pernah mau sudi menolong ku." ucap Novela dalam hati dengan wajah sendu yang lantas membuat Alder yang menatap Novela lewat pantulan pintu lift mengerutkan dahinya karena bingung.


" Ada apa?" tanya Alder sambil berbalik dan menatap ke arah Novela.


Novela yang mendengar hal itu lantas tersentak bingung karena yang ia lamun kan sedari tadi hanyalah kenangan masa lalunya yang kelam, tentu tidak mungkin kan kalau Novela menceritakan semuanya pada Alder.


" Tidak ada apa apa tuan." ucap Novela dengan tergugup serta suara yang lirih.


Alder bahkan tidak mendengar suara Novela barusan Alder hanya terfokus pada sudut bibir Novela yang terdapat noda darah yang mengering sedangkan pipinya terdapat bekas merah karena tamparan.


" Apa ini sakit?" ucap Alder sambil mendekatkan wajahnya ke arah wajah Novela untuk mengecek seberapa parah luka di sudut bibir Novela.


Deg deg deg deg

__ADS_1


" Adegan apa ini? bukankah ini terlalu romantis untuk diriku yang hanya seorang kentang." ucap Novela dalam hati.


Bersambung


__ADS_2