Ku Sangka Kau Malaikat

Ku Sangka Kau Malaikat
Aku ingin pulang Steve!


__ADS_3

Novela memutuskan untuk tidak mengganti pakaiannya dengan pakaian yang sudah di sediakan oleh Steven tadi, bukannya tidak ingin hanya saja Novela perlu waspada terhadap Steven karena ia sungguh tidak tahu dan tidak mengenal karakter Steven sedikitpun.


" Aku tidak akan berganti pakaian, siapa tahu kan di pakaian itu sudah di semprotkan alkohol atau apapun itu yang bisa membuat ku pingsan, setelah aku pingsan nanti bisa saja kan di menjual semua organ organ dalam ku seperti di film film itu, hi benar benar mengerikan." ucap Novela pada diri sendiri.


Novela menatap sekeliling kamar menelisik setiap sudut dari kamar tersebut. Kamar tersebut benar benar berukuran luas dan juga cantik, ukurannya hampir sama dengan yang ia tempati di mansion Alder, ketika Novela menatap sekeliling pandangannya terhenti pada salah satu dinding yang di penuhi banyak foto, samar samar Novela menajamkan pandangannya menebak siapa orang di foto tersebut.


Karena rasa penasaran yang memuncak Novela lantas bangkit berdiri dan melangkahkan kakinya menuju dinding tersebut.


" Foto ini ...? bukankah dia pemilik wajah ini?" ucap Novela sambil memegangi wajahnya dengan tatapan yang tetap intens menatap ke arah foto foto tersebut.


Novela menatap satu persatu foto yang berjajar cantik di sana, foto foto tersebut tersusun dengan sangat rapi bagaikan sebuah museum foto yang hanya ada Ane dan juga Steven sebagai pemeran utama dalam pameran itu. Keduanya nampak bahagia di dalam foto tersebut bahkan terdapat beberapa foto candid Ane yang menampilkan sosok cantik dengan mack up naturalnya, sungguh bagaikan seorang bidadari yang turun ke bumi tanpa celah sedikitpun, dengan tubuh yang tinggi nan langsing, kulit putih bersih, serta wajah yang cantik perpaduan atau wanita eropa dan juga asia yang terlihat natural dan menampilkan kesan tersendiri ketika menyelami semakin dalam pada wajah itu.


Novela kembali meraba area wajahnya dengan sendu, dari pantulan kaca foto itu samar samar Novela melihat bayangannya sendiri, tidak! lebih tepatnya bayangan wajah Ane di sana, entah mengapa hati Novela merasa tercubit ketika satu persatu tabir tentang Ane mulai terbuka, terkadang Novela merasa sangat tidak pantas jika harus memiliki dan memakai wajah ini namun lagi lagi rasa bersalah dan juga perasaan perasaan yang menumpuk di hatinya, terkalahkan dengan rasa dendam serta kebencian terhadap Neta yang membuat Novela kembali meyakinkan dirinya bahwa langkah yang ia ambil adalah langkah yang tepat.


" Maafkan aku An, aku tahu aku serakah tapi aku terpaksa melakukannya, aku sungguh tidak tahu jika kamu pemilik wajah ini, awalnya bahkan aku mengira wajah ini hanyalah hasil dari imajinasi Alder namun nyatanya seiring berjalannya waktu aku mulai menyadari bahwa aku melakukan sebuah kesalahan terutama terhadapmu, aku benar benar minta maaf An." ucap Novela dengan tulus sambil menatap foto Ane yang tengah tersenyum ceria di sana.


Cklek


Novela lantas sedikit terkejut kala mendengar suara pintu yang perlahan terbuka dan mulai menampilkan sosok Steven di sana sambil membawa segelas susu stroberi di tangannya.

__ADS_1


" Kamu belum ganti baju? ku kira kamu sudah mau tidur." ucap Steven kemudian menaruh gelas tersebut di atas nakas. " Minumlah, bukannya kamu tidak bisa tidur jika belum meminumnya?" imbuhnya lagi kemudian mendudukkan dirinya di sofa dengan pandangan yang tetap menatap Novela sedari tadi.


Mendapat perhatian dari Steven tentu saja membuat hati Novela menghangat, sejak kepergian kedua orang tuanya Novela sudah tidak pernah mendapat perhatian lagi dari siapapun, jangankan untuk segelas susu bahkan dia hidup atau tidak pun tidak ada yang perduli padanya.


Novela sebisa mungkin menepis perasaan kagum pada Steven, ia kemudian melangkah mendekat ke arah ranjang dan duduk di sana dengan memunggungi Steven yang tengah duduk di sofa.


" Aku sebenarnya lapar tapi kalau aku meminumnya mana mungkin aku kenyang? lagipula bagaimana kalau dia memberiku racun atau sejenisnya bisa metong akunya." ucap Novela namun dengan tatapan yang sangat ingin pada gelas itu.


Steven hanya memperhatikan gerak gerik Novela, seulas senyum mulai terlihat di wajah tampannya kala memperhatikan Novela.


" Kenapa aku seperti merasa dia Ane tapi bukanlah Ane, aku merasa seperti dekat namun juga jauh, ada apa ini? apakah dia sungguh Ane?" ucap Steven dalam hati bertanya tanya tanpa adanya jawaban yang pasti di sana.


" Ada apa an? aku ini sahabatmu mana mungkin aku menaruh sesuatu pada gelas susu mu? apa waktu telah mengubah mu menjadi curiga padaku?" ucap Steven sambil menahan tawa di wajahnya.


Novela yang mendengar hal itu lantas menoleh ke arah Steven yang berada di belakangnya kemudian menatapnya dengan tajam, setelah itu detik selanjutnya Novela kemudian memalingkan wajahnya dan menatap kembali gelas itu.


Novela menatap kembali gelas tersebut dengan ragu ragu, ia sungguh lapar saat ini, jika Novela tidak meminumnya tentu saja ia tidak akan bisa tidur, namun jika Novela meminumnya ia tidak tahu apa yang laki laki di belakangnya masukkan kedalam minuman itu ( bilang aja kurang kenyang ya kan Vela?).


Pada akhirnya Novela perlahan mulai mengambil gelas itu di nakas dan meminumnya.

__ADS_1


" Wek kenapa ini manis sekali, aku seperti mual ketika meminumnya, apa ini sungguh kesukaan Ane atau karena Steven yang tidak bisa membuat minuman enak?" ucap Novela dalam hati.


" Ada apa?" tanya Steven yang melihat punggung Novela seperti bergetar.


" Apa kamu masih menambahkan gula kedalamnya?" tanya Novela sambil menengok ke arah belakang dan mengangkat gelas tersebut tinggi tinggi.


" Bukan gula hanya madu, bukankah kamu menyukai minuman yang manis? kamu selalu menambahkan madu di gelas susumu bukan?" ucap Steven dengan heran menatap ke arah Novela.


" Pantas saja manis sekali." ucap Novela dalam hati. " Tidak kok aku hanya bertanya takut kamu melupakannya." ucap Novela kemudian berdalih agar Steven tidak curiga padanya.


Satu detik, dua detik, tiga detik, hingga satu menit hanya ada ekspresi datar yang tak terbaca di sana, Novela mulai berkeringat dingin ketika mendapat tatapan Steven, ia sudah benar benar pasrah jika Steven memang menaruh curiga padanya.


" Oh, tentu saja aku masih ingat, kau kira sahabatmu ini akan melupakannya begitu saja An." ucap Steven sambil kemudian mengalunkan tangannya spontan ke bahu Novela.


Novela yang menerima gerakan itu tentu saja langsung terkejut kemudian langsung menepis tangan Steven agar tidak menyentuhnya lagi, mendapat penolakan dari sosok yang berwajah Ane membuat Steven kebingungan dan merasa sedikit tersinggung.


" Aku ingin pulang Steve! sungguh aku benar benar ingin pulang." ucap Novela kemudian sambil menatap manik mata Steven dalam dalam.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2