
Tok tok tok
"Masuk" ucap Alder dari dalam ruang kerja miliknya.
Mendapat persetujuan dari Alder barusan Novela lantas melangkahkan kakinya masuk ke dalam.
"Apakah tuan memanggil saya?" tanya Novela dengan raut wajah yang penasaran karena Alder sudah memanggilnya pagi pagi buta seperti ini.
Mendengar pertanyaan dari Novela, Alder lantas terdiam ia bingung harus memulainya dari mana, Alder takut lamarannya kali ini akan kembali di tolak oleh Novela, bukankah itu akan menjadi sangat memalukan bila lamarannya di tolak berkali kali? membayangkannya saja sudah membuat Alder bergidik ngeri apalagi jika benar benar terjadi.
"Aku...." ucap Alder dengan bingung, sampai kemudian ia terpikirkan sebuah ide cemerlang yang mungkin bisa ia gunakan untuk membuat Novela setuju dan mau menikah dengannya. "Sudah saatnya kau membalas semua jasa ku, aku ingin kamu melakukan sesuatu." ucap Alder dengan senyum iblis seakan akan seperti menyimpan sesuatu dalam senyumannya.
Mendengar hal itu tentu saja membuat Novela ketar ketir, apalagi jasa Alder hingga sekarang sangatlah besar dan tentu saja menghabiskan banyak uang, mana mungkin Novela sanggup membayarnya.
"Menikahlah dengan ku." ucap Alder dengan singkat.
Sementara Novela yang tadinya sudah di buat panas dingin mendadak hanya diam terbengong kala mendengar permintaan dari Alder barusan.
"Jangan bercanda tuan." ucap Novela dengan tawa yang garing.
"Ehem begini... saat ini aku tengah dalam posisi yang sulit, kau tidak perlu menjadi istriku cukup menikah saja dengan ku dan berakting di depan kedua orang tua ku bahwa kita adalah pasangan yang harmonis, bukankah itu mudah?" ucap Alder mencari alasan agar Novela mau menikah dengannya.
"Apalagi ini? kenapa permintaannya selalu saja aneh?" ucap Novela dalam hati.
"Jika kamu setuju kita akan menikah besok." ucap Alder lagi tapi dengan nada tidak ingin di bantah.
"Apa? besok? yang benar saja tuan, meski ini hanya sebuah akting setidaknya janganlah terlalu cepat seperti ini." ucap Novela yang setengah terkejut kala mendengar ucapan Alder barusan.
__ADS_1
"Aku sungguh tidak punya waktu banyak waktu luang, jika kamu tidak mau membantuku kamu boleh pergi, tapi kamu tidak akan pergi dengan tangan kosong tentunya." ucap Alder sambil menyerahkan sebuah map ke arah Novela.
Novela kemudian mengambil map tersebut dan membukanya perlahan, betapa terkejutnya ia ketika map tersebut terbuka di dalamnya berisi segala pengeluaran dan juga transaksi yang Alder gunakan untuk membantunya.
"Du... dua puluh miliar? ha? gila." batinnya dalam hati dengan mata yang melotot tak percaya.
Melihat ekspresi terkejut Novela membuat Alder lantas tersenyum penuh kemenangan, ia bersyukur atas kegabutan yang dilakukan oleh Haris yang memberikannya sebuah map yang berisi segala transaksi yang telah ia keluarkan untuk Novela, padahal tadinya Alder menganggap ini hanyalah sebuah pekerjaan yang sia sia namun nyatanya apa yang telah di lakukan oleh Haris sangatlah berguna untuk menjerat wanita di depannya ini.
"Bagaimana? bisakah kita untuk mulai berhitung sekarang?" ucap Alder dengan senyuman tipis.
Sedangkan Novela lantas menelan salivanya kasar mendengar ucapan Alder barusan, dari mana dia bisa mendapatkan uang sebanyak itu, bahkan aset berharga orang tuanya tidak akan mencapai nilai itu dan tentu saja Novela tidak akan tega untuk menjualnya di saat dia berjuang mati matian untuk mendapatkannya.
"Baiklah tuan saya setuju asalkan..." ucap Novela menggantung karena takut Alder tidak akan menyetujuinya. "Setelah saya mengurus Ranti dan tante Neta keluar dari rumah orang tua saya." imbuh Novela.
"Setuju, kalau begitu kita berangkat sekarang." ucap Alder sambil bangkit berdiri membuat Novela menatap bingung ke arah Alder.
"Menendang parasit itu dari rumah ayah dan ibu mertua." ucap Alder dengan senyuman yang mengembang.
"Apa?" tanya Novela dengan spontan karena seperti mendengar sesuatu yang aneh barusan.
"Sudah ayo berangkat." ucap Alder lagi sambil menarik tangan Novela agar segera bergegas menyelesaikan segalanya kemudian menikah dan end (Oh tidak semudah itu Ferguso).
***********
Sementara itu di sebuah ruangan kerja milik Putra yang terletak di galeri seninya.
Terlihat Putra tengah membolak balik beberapa lembaran kertas yang ia pegang sedari tadi, Putra tampak bingung menatap ke arah lembaran demi lembaran di tangannya, bukan tanpa sebab kertas yang sekarang tengah Putra baca berisi tentang informasi mendetail Ane Florensia, seseorang yang telah memporak porandakan hatinya beberapa waktu lalu.
__ADS_1
Putra nampak sangat bingung, kala jelas jelas melihat sebuah foto pusara dengan tulisan nama Ane terlihat jelas pada batu nisan tersebut, padahal jelas jelas Putra melihat sendiri bahwa Ane masih hidup hingga saat ini, tidak hanya sampai di situ saja di sana jelas jelas tertulis bahwa Ane meninggal karena kecelakaan, namun setelah ia mengecek langsung ke rumah sakit yang di duga menjadi tempat di mana Ane menghembuskan nafas terakhirnya, di sana sama sekali tidak ada data yang menyatakan bahwa atas nama Ane Florensia dinyatakan telah meninggal.
Semakin bingunglah Putra di buatnya, Putra bahkan berkali kali terlihat memijat pelipisnya karena pusing dengan fakta yang baru saja ia terima.
"Jika Ane sudah meninggal, lalu siapa perempuan yang aku temui selama ini?" ucapnya bertanya tanya pada diri sendiri. "Apa aku sedang di bodohi? sial!" imbuhnya dengan kesal karena merasa telah di bodohi.
Di saat Putra tengah bingung akan apa yang terjadi deringan ponsel miliknya membuyarkan segala lamunannya, Putra lantas mengambil ponsel miliknya kemudian menggeser ikon berwarna hijau pada layar ponselnya.
"Halo, ada apa?" tanya Putra secara langsung kala melihat si penelpon adalah Ranti.
"Bisa kamu bawa surat surat yang aku berikan padamu Put, aku mohon posisi ku sekarang sedang sulit." ucap Ranti memelas.
Sedangkan backsound yang terdengar di telpon Ranti begitu gaduh seperti suara ribut ribut dan juga beberapa barang di lempar dengan keras, membuat Putra lantas bertanya tanya apa yang sedang terjadi di sana.
"Ada apa sebenarnya?" tanya Putra kemudian namun kali ini dengan nada yang sedikit melembut karena mendengar sepertinya Ranti tengah dalam masalah.
"Tolong bantu aku Put.. kami di usir dari rumah, katanya kami tidak ada berhak untuk tetap tinggal di rumah ini." ucap Ranti dengan nada seperti menahan tangisnya.
"Bagaimana ini? aku bahkan tidak bisa menemukan di mana Ane dan kini masalah baru bertambah lagi." ucap Putra dalam hati bingung harus mengatakan apa kepada Ranti.
"Put apa kamu mendengar ku? Put?" panggil Ranti karena suasana di seberang sana mendadak hening seketika.
"I... iya aku masih di sini." ucap Putra lagi.
"Ku mohon Put.." ucap Ranti lagi.
"Tenanglah aku akan segera ke sana." ucap Putra kemudian sambil memutus sambungan telponnya.
__ADS_1
Bersambung