
Malam harinya
Novela yang baru saja selesai mandi di kejutkan dengan kehadiran Alder yang sudah rapi dengan setelan jas formalnya.
"Tuan mau pergi?" tanya Novela kala melihat Alder sudah rapi dan siap untuk pergi.
"Ya, cepatlah ganti baju mu aku akan menunggu di bawah." ucap Alder memberikan perintah, namun malah membuat Novela terbengong karena ajakan Alder yang tiba tiba itu.
"Mau kemana tuan? saya belum melakukan persiapan sama sekali." ucap Novela dengan tatapan wajah yang bingung sekaligus merutuki Alder yang selalu saja mengatakan segala halnya dengan mendadak.
"Kita akan menghadiri pembukaan galery seni rekan bisnis ku. Aku akan menunggu mu di bawah dan jangan terlalu lama karena aku benci menunggu!" ucap Alder datar kemudian melenggang pergi dari sana, membuat Novela menatap kepergian laki laki itu dengan kesal.
"Itulah perlunya kau mengatakan dari awal tuan! kau kira perempuan dengan laki laki itu sama? mereka dua hal yang berbeda! butuh waktu banyak bagi perempuan untuk mulai bersiap tuan... apa kau tidak tahu itu!" gerutu Novela dengan kesal setelah kepergian Alder dari sana.
Hanya saja, Novela yang mengira Alder sudah pergi jauh mendadak jadi salah tingkah kala ternyata Alder kembali lagi dan mengejutkannya.
"Apa kau mengatakan sesuatu?" tanya Alder sambil berdiri di ambang pintu karena ia seperti mendengar Novela mengatakan sesuatu barusan.
"Em... anu tuan tadi ada nyamuk, hehe nyamuk." ucap Novela mencari alasan agar Alder tak bertanya dan memintanya mengulang apa isi hatinya barusan.
"Kalau begitu cepatlah jangan membuang waktu lagi!" ucap Alder kemudian, sedangkan Novela lantas langsung berlari ke arah walk ini closet bergegas untuk bersiap, takut tiba tiba Alder kembali muncul dan mengejutkannya.
*****
Mobil yang dikendarai Alder melaju membelah jalanan ibu kota dengan nuansa malam hari yang begitu indah dengan kelap kelip lampu pencakar langit, yang menambah kesan keindahan di malam itu. Novela menatap takjub pemandangan yang disuguhkan gratis sepanjang jalan perjalanannya menuju tempat opening tersebut.
__ADS_1
Seulas senyum terbit dari wajah tampan Alder ketika mengetahui wajah polos Novela kala menatap kelap kelip cahaya lampu pada gedung gedung tersebut.
"Cantik" batin Alder kala melirik sekilas ke arah Novela kemudian kembali fokus menatap jalanan sekitar.
Setelah beberapa menit mengemudi, Alder memarkirkan mobilnya pada sebuah bangunan dengan halaman yang begitu luas dan di desain sangat cantik menghiasi halaman bangunan tersebut. Sepertinya acara sudah berlangsung kala Alder dan juga Novela datang ke sana.
Perasaan gugup mulai datang menghampiri Novela kala keduanya berjalan masuk ke dalam. Jika di hitung hitung ini adalah acara besar kedua yang dihadiri olehnya dan Alder, di mana acara pertama kala David papa dari Alder berulang tahun waktu itu.
"Selamat datang tuan Alder dan juga... em tidakkah kau ingin memperkenalkannya sendiri?" goda salah satu tamu undangan yang melihat kedatangan Novela dan juga Alder.
"Perkenalkan... my wife." ucap Alder dengan tersenyum bangga sedangkan wajah Novela lantas bersemu merah mendengar ucapan Alder barusan.
"Wah sejak kapan kau menikah, mana tidak kasih kabar lagi." ucap pria itu dengan kesal.
"was it an accident?" goda pria itu.
"Big no, jangan coba coba menyebar rumor." ucap Alder kemudian dengan nada mengancam.
"Santai saja bro." ucap pria itu kemudian.
Mendengar obrolan keduanya yang cukup memakan waktu lama lantas mulai membuat Novela menjadi jenuh, apalagi rekan bisnis Alder terus berdatangan dan mengajaknya mengobrol. Membuat Novela kemudian memutuskan untuk melipir sebentar dari sana dan berpindah ke arah meja yang berisi makanan.
"Setidaknya aku bebas dari basa basi yang tidak aku mengerti itu." ucap Novela dengan acuh sambil mengambil beberapa cake dan mulai mencicipinya.
"Wah ternyata ada nyonya Alder juga di sini." ucap sebuah suara yang mengejutkan Novela.
__ADS_1
Seorang wanita paruh baya nampak mendekat dengan pakaian yang kasual. Novela yang kenal betul siapa wanita itu lantas langsung di buat kikuk takut kalau rahasianya terbongkar.
"Kau suka sekali dengan cake rasa pandan ya? selera mu sama dengan ponakan ku." ucap wanita itu yang tak lain adalah Neta, sementara Novela yang mendengar hal itu langsung diam mematung seketika. Keringat dingin mulai membasahi dahi Novela, membuat Neta yang berdiri di dekat Novela menjadi curiga.
"Bukankah di sini sangat dingin? tapi..." ucap Neta menjeda ucapannya sambil tangannya mendekat hendak ke arah dahi Novela. Hanya saja Novela yang memang memiliki trauma akan siksaan yang di lakukan oleh Neta, lantas bereaksi yang mungkin agak sedikit berlebihan membuat Neta bertanya tanya ada apa dengan Ane yang di hadapannya. "Ada apa? aku hanya ingin membantu mu mengelapnya. Apakah aku membuat mu takut?" tanya Neta kemudian dengan nada yang di buat buat.
"Maaf saya hanya terkejut." ucap Novela kemudian.
Alder yang memang sedang asyik mengobrol dengan rekan bisnisnya sambil menikmati beberapa lukisan yang dipajang di sana, lantas sedikit terkejut kala melihat Neta mengobrol bersama dengan Novela. Jika obrolan itu nampak santai dan menyenangkan Alder akan biasa saja melihatnya. Namun, entah mengapa Alder merasa Novela seperti tertekan kala berbicara dengan Neta.
Alder yang menyadari hal itu, lantas mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah Novela kemudian merangkul pinggangnya dengan erat.
"Apa yang sedang kalian bicarakan? sepertinya menarik." ucap Alder sambil mempererat tangannya di pinggang Novela seakan mengisyaratkan bahwa tidak akan terjadi apa apa.
"Tidak ada yang penting hanya basa basi biasa." ucap Neta sambil tersenyum.
"Oh ya seperti apa?" desak Alder dengan nada penuh penekanan.
"Hahahaha hanya hal hal sepele, aku mengatakan kepadanya bahwa Ane mirip sekali dengan keponakan ku, sayangnya ia tidak secantik dan seberuntung Ane. Mungkin sekarang ia sedang luntang lantung di jalanan kali ya? melihat perawakannya yang buruk rupa tentu tidak akan ada orang yang sudi menolongnya." ucap Neta dengan santainya seakan akan mengatakan hal tersebut tanpa beban, padahal Novela sudah sangat tersinggung dengan ucapannya.
Alder mengepalkan tangannya menahan amarah, ia ingin sekali rasanya menampar mulut wanita di hadapannya ini hanya saja sekarang bukanlah saat yang tepat. Alder kira dengan ia menjadi gelandangan kemarin akan membuat efek jera pada Neta, namun nyatanya malah semakin membuat wanita itu kini kian menjadi dan tak terkendali.
"Saya rasa tak sepatutnya mulut anda mengatakan hal demikian, saran saya hati hati dengan perilaku dan juga ucapan anda. Siapa tahu ada yang menaruh dendam dan bersiap menerkam anda kapan pun." ucap Alder yang lantas membuat raut wajah Neta berubah dan langsung pergi dari sana tanpa permisi.
Bersambung
__ADS_1