
Pagi harinya Novela bangun pagi hendak pergi lari pagi atau sekedar jalan jalan santai di taman komplek. Entahlah semenjak ajakan menikah itu Novela menjadi tidak bisa tidur karena memikirkannya semalaman, sepertinya ia benar benar membutuhkan jalan jalan untuk merefresh ulang pikirannya.
Novela menuruni anak tangga satu persatu, di ujung anak tangga ia melihat Haris sudah berdiri dengan tegap di sana.
"Tumben" ucapnya dalam hati.
Novela yang menganggap bahwa Haris tidak ada urusan dengannya lantas hanya berjalan melewati Haris tanpa menyapa. Sedangkan Haris yang di lewati lantas terbengong karena rencananya bisa gagal jika Novela pergi begitu saja sekarang.
Ehem
Deheman pertama Haris lakukan berharap Novela akan berhenti dan menatap ke arahnya namun sayangnya Novela bukanlah gadis sepeka itu, ia terus saja berjalan tanpa menghiraukan deheman dari Haris barusan.
"Astaga" ucap Haris dalam hati. "Nona..." panggil Haris pada akhirnya karena jika menunggu kepekaan Novela maka itu akan berakhir sia sia.
"Aku?" tanya Novela sambil menunjuk ke arah dirinya sendiri.
"Ya, apa nona tidak melihat kertas yang saya bawa?" ucap Haris sambil menahan kesal. "Sabar, sabar, demi bonus besar aku harus bisa tahan." ucapnya dalam hati.
Novela kemudian lantas kembali mundur untuk melihat kertas apa yang sedang di pegang oleh Haris.
"Buhahahahahahahahaha kamu ngelamar saya, jangan bercanda ini benar benar menggelikan." ucap Novela dengan tawa yang sudah menggema memenuhi ruangan.
Sedangkan Haris yang mendengar hal itu lantas hanya melongo, ia benar benar tak habis pikir bisa bisanya Novela menganggap dirinya yang mengajaknya menikah.
Ehem
"Maaf, habis lucu banget sih." ucap Novela sambil mengusap sedikit sudut matanya yang berair karena tertawa.
"Bukan saya yang melamar anda." ucap Haris kemudian.
"Lalu?"
Mendengar hal itu Haris kemudian menunjuk ke arah samping seakan akan ada orang penting yang sebentar lagi akan keluar. Novela menatap dengan serius ke arah yang ditunjuk oleh Haris, Novela mengira Alder akan benar benar muncul dan menanyakan hal yang sama seperti semalam, namun hingga beberapa menit berjalan tetap tidak ada seorang pun yang muncul dari sana selain hanya keheningan.
__ADS_1
"Sudahlah jangan bercanda lagi, aku pergi joging sebentar ya keburu siang." ucap Novela sambil menepuk bahu Haris pelan kemudian melenggang pergi.
"Tapi... tapi... tunggu!" ucap Haris hendak menghentikan langkah Novela namun ia juga bingung karena Alder tak kunjung muncul dari sana. "Haduh... ini gimana sih? tuan juga pakai acara gak muncul lagi!" gerutu Haris sambil menatap ke kanan dan ke kiri bingung mana dulu yang mau ia urus.
*****
Novela menatap ke arah belakang berkali kali takut jika Haris mengejarnya pastilah akan semakin runyam.
"Untung saja si tuan angkuh tidak jadi keluar, lagi pula kenapa sih dengan tuan tiba tiba ngajak nikah, habis kesambet kali ya?" ucap Novela sambil terus melangkahkan kakinya menuju ke arah taman komplek.
Beberapa menit kemudian Novela sampai di taman komplek, suasananya cukup ramai orang orang yang tengah melakukan olahraga pagi atau hanya sekedar mencari sarapan, benar benar suasana yang menyenangkan apalagi Novela jarang sekali keluar rumah seperti ini, sehingga ia begitu menikmatinya.
Dari arah kejauhan nampak Steven yang tengah berlari pagi, bukan karena kebetulan Steven berada di sini lebih tepatnya ia terlalu penasaran dengan sosok Ane atau lebih tepatnya Novela, memang aneh tapi nyatanya malam itu setelah mengetahui bahwa Ane bukanlah Ane sesungguhnya, Steven lantas mencari tahu segala informasi tentang Ane palsu atau Novela, namun sayangnya informasi yang Steven inginkan seakan terkubur di dalam bumi lapis ke tujuh, ia tahu akan sulit menggali informasi tentang Novela karena Alder pasti memegang kendali dan tidak akan membiarkan itu bocor, tapi bukan Steven namanya kalau harus menyerah begitu saja, jadilah ia berada di sini sekarang dan wala penantiannya selama ini bolak balik ke taman komplek perumahan Alder akhirnya membuahkan hasil juga.
"Ane!" panggil Steven namun Novela tetap berjalan dan tidak berhenti. "Oh aku lupa kalau dia bukan Ane." ucapnya lagi.
Steven kemudian lantas mempercepat langkahnya dan menghentikan Novela.
"Stop"
Melihat Novela hendak pergi Steven cepat cepat memegang tangan Novela agar tidak jadi pergi dan mau mendengarkannya.
"Lepaskan tanganmu atau aku akan teriak." ancam Novela.
"Oke gue lepas, asal beri waktu aku ngomong lima menit." pinta Steven.
"No"
"Ayolah hanya lima menit aku janji." ucapnya lagi.
Novela nampak berpikir sebentar mempertimbangkan permintaan Steven.
"Baiklah lima menit gak lebih."
***
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Novela ketika keduanya sudah duduk di salah satu bangku taman.
"Ada satu hal yang membuatku penasaran, aku sudah mencaritahu namun tetep tidak ketemu, dan jalan terakhir ku adalah dengan menanyai mu secara langsung." ucap Steven memulai pembicaraan.
"Maksudnya?" tanya Novela yang tidak mengerti arah pembicaraan Steven.
"Siapa kamu sebenarnya?" ucap Steven kemudian yang membuat Novela lantas terkejut mendapat pertanyaan tiba tiba tentang jati dirinya.
Bersambung
Ekstra bab
"Sudahlah jangan bercanda lagi, aku pergi joging sebentar ya keburu siang." ucap Novela sambil menepuk bahu Haris pelan kemudian melenggang pergi.
"Tapi... tapi... tunggu!" ucap Haris hendak menghentikan langkah Novela namun ia juga bingung karena Alder tak kunjung muncul dari sana. "Haduh... ini gimana sih? tuan juga pakai acara gak muncul lagi!" gerutu Haris sambil menatap ke kanan dan ke kiri bingung mana dulu yang mau ia urus.
Setelah kepergian Novela dari sana Haris lantas pergi ke ruang kerja Alder, ia sungguh penasaran apa yang membuat tuannya itu tidak muncul juga meski telah di beri kode.
"Tuan?" panggil Haris sambil mengedarkan pandangannya mencari keberadaan tuannya itu.
Pandangan Haris lantas terhenti pada sudut ruangan di mana Alder tengah berdiri di sana sambil menyandarkan kepalanya membuat Haris menatap aneh kepada tuannya.
"Kenapa anda tidak muncul tadi tuan?" tanya Haris yang lantas mengejutkan Alder sehingga langsung membenarkan posisinya.
"Kenapa kau tidak mengetuk pintu dulu?" tanya Alder dengan nada datar sambil mengambil duduk di kursi kebesarannya.
"Maaf tuan" ucap Haris sambil memperhatikan gerak gerik tuannya yang aneh. "Apa anda tengah gugup tuan?" tanyanya menerka nerka.
"Mana mungkin seorang Alder Jared William gugup!" ucapnya berdalih padahal yang terjadi sedari tadi adalah sebaliknya.
"Lalu bagaimana anda menjelaskan keringat di dahi anda dan juga tangan yang sedikit gemetar tuan?" ucap Haris dengan jujur membuat Alder lantas terbengong mendengar ucapannya.
"Bisa tidak jangan di perjelas? lebih baik kau usahakan agar gadis itu menerimaku atau bonus mu tidak akan ada sama sekali!" ancam Alder.
"Tapi tuan..."
__ADS_1
"Sudah sana pergi"