
Haris datang ke mansion Alder dengan langkah yang tergesa menuju ke ruang kerja Alder, di ketuk nya pintu itu perlahan kemudian masuk kedalamnya.
Ketika Haris memasuki ruangan tersebut nampak Alder tengah mencoba salah satu game virtual yang hendak di rilis perusahaannya, memang sudah menjadi prosedur perusahaan Alder bahwa semua game yang akan rilis di pasaran harus melalui uji coba olehnya sendiri. Alder tidak suka jika harus mengandalkan bawahannya dan terima jadi, itulah salah satu yang menjadi alasan mengapa game yang rilis di perusahaannya selalu saja laris di pasaran.
" Permisi tuan" ucap Haris menyela kegiatan yang sedang di lakukan tuannya.
Mendengar suara Haris, Alder lantas meletakkan gadgetnya di meja kemudian mulai menatap Haris dengan tatapan serius dan penuh tanda tanya.
" Ada apa ris?" tanyanya.
" Saya mendapat kabar bahwa hari ini tuan muda Steven di angkat menjadi direktur utama di perusahaan induk tuan." ucap Haris memberikan laporan.
" Sudah di mulai ya?" ucap Alder sambil tersenyum sinis yang membuat Haris menjadi bingung melihat ekspresi wajah tuannya.
" Lalu apa rencana anda tuan?" tanya Haris.
" Tidak ada biarkan saja." ucap Alder.
" Apa anda yakin tuan?" tanya Haris dengan bingung akan reaksi yang diberikan oleh Alder.
" Ya tentu saja, kenapa kau jadi bingung? santai lah saja ris aku yakin orang tua itu tahu segalanya, hanya saja karena rasa cinta yang terlalu besar membuatnya terlihat seperti orang bodoh yang bisa ditindas sesuka hati mereka, kau tanya rencana bukan? aku tidak berencana apapun, biarkan saja orang tua itu sadar dengan sendirinya lagi pula aku tidak menginginkan harta itu, kalau Angelina mau biar dia ambil saja." ucap Alder dengan santai.
" Ha? di serahkan begitu saja? apa tuan ALDER Sudah gila! harta itu sangat sangat lah banyak bahkan tidak akan habis meski digunakan oleh 7 turunan, 7 tanjakan, 7 tikungan, 7 belokan." ucap Haris dalam hati.
" Kenapa kau diam ris? apa kau juga menginginkan harta itu? jika kau mau aku bisa memberikannya padamu." ucap Alder sambil tersenyum iblis menatap ke arah Haris.
Haris yang mendengar hal itu lantas menelan salivanya dengan kasar, ia bukannya senang karena di tawari harta malah langsung berwajah pucat, karena baginya ucapan Alder barusan lebih terdengar seperti pancingan daripada seorang yang dermawan memberikan hartanya secara percuma, kalian tahulah seperti halnya seekor domba yang diberikan makan hingga gemuk dan diberikan segala keinginannya namun berakhir dengan di sembelih? seperti itulah yang kini tengah dirasakan oleh Haris.
__ADS_1
" Tentu saja tidak tuan, saya bukan seorang yang tamak yang menginginkan harta orang lain." ucap Haris dengan tersenyum garing.
" Ah kau tidak menginginkannya, yah jadi tidak seru padahal aku ingin melihatmu bertarung dengan nenek sihir untuk merebut harta orang tua itu." ucap Alder dengan nada datar namun berhasil membuat Haris melongo mendengarnya.
" Ini sebenarnya dia lagi nyuruh aku atau sedang bercanda sih? kenapa dua duanya terlihat seperti perintah?" ucapnya dalam hati. "Apa tuan sungguh ingin melihatku bertarung dengannya?" imbuh Haris namun dengan nada yang ketar ketir.
" Sudahlah lupakan, lagipula kau tidak akan sanggup jika harus bermain dengan orang selicik dia." ucap Alder lagi.
" Huft selamat aku! aku juga masih waras lagi, lebih baik cari aman daripada harus terlibat dalam drama perebutan warisan itu, tunggu sebentar! lagi pula aku siapa? bisa bisanya main nimbrung di keluarga sultan." ucapnya lagi dalam hati.
*******
Sementara itu Novela tengah asyik menikmati indahnya taman belakang di mansion milik Alder, dengan suasana yang benar benar asri di mana berbagai tanaman hias tersusun rapi dan cantik di hamparan tanah dengan rerumputan di sekitarnya (tentu saja rumput hias dan terawat, kalian tau lah mana mungkin orang yang perfeksionis seperti Alder akan membiarkan rumput liar tumbuh di tamannya).
Di saat pikirannya benar benar hanyut ke dalam keindahan bunga bunga itu, ia baru sadar ada hal yang di lewatkan olehnya.
Novela kemudian lantas merogoh ponsel miliknya kemudian ingin mendial nomor Putra di sana, namun sebelum ia sempat menghubungi Putra ternyata Putra sudah menghubunginya terlebih dahulu.
" Bukankah ini yang namanya pucuk di cinta ulam pun tiba?" ucapnya pada diri sendiri kemudian menggeser ikon berwarna hijau di layar ponselnya untuk menjawab panggilan Putra.
" Halo" ucapnya.
" Oh syukurlah kamu mengangkatnya, aku sangat khawatir padamu, setelah kejadian malam itu kamu tiba tiba menghilang begitu saja tanpa kabar." ucap Putra.
Mendengar hal itu Novela lantas memutar bola matanya jengah karena apa yang di ucapkan Putra hanyalah sebuah kata kata klise yang sering di keluarkan oleh lelaki buaya.
" Yah ada beberapa hal yang harus aku selesaikan terlebih dahulu kemarin, jadi aku belum sempat mengabari mu." balasnya sambil menjulurkan lidah saking geli nya dengan ucapannya sendiri.
__ADS_1
" Jika kamu butuh apa apa hubungi saja aku, aku pasti siap membantumu."
" Apa aku sekalian memanfaatkannya ya?" ucap Novela dalam hati. " Sebenarnya ada satu hal tapi ... mungkin aku akan mengurusnya sendiri." ucap Novela dengan perasaan yang was-was.
" Memangnya apa?" tanya Putra.
" Jadi aku berencana untuk membuat sebuah kos kosan elit di daerah Jl. Melati namun aku kesulitan untuk mewujudkannya karena selain sulit untuk membuat mereka tanda tangan aku dengar salah satu rumah di daerah tersebut adalah hasil dari perebutan antar keluarga." ucap Novela berusaha untuk membuat kata katanya senatural mungkin agar Putra percaya.
" ... "
" Kamu pasti tidak mau membantu bukan? aku tahu itu mangkanya aku mencoba untuk melakukannya sendiri." ucapnya dengan nada sendu yang dibuat buat.
" Bukan! bukan seperti itu, maksudku apakah kamu tidak mau mencari lokasi lain saja? aku bisa membantumu jika kamu menginginkannya."
" Aku sudah survei ke beberapa lokasi dan menurutku lokasi di Jl. Melati sangatlah strategis selain itu jarak ke pusat perbelanjaan dan cafe cukup dekat, sehingga akan memudahkan para penghuni kos ketika mereka menyewa tempat itu." ucap Novela lagi mencoba meyakinkan.
" Aku bukan tidak mau membantu hanya saja rumah yang masih menjadi kontroversi itu adalah rumah Ranti." ucap Putra.
" Rumah Ranti? berarti bagus dong kamu bisa membujuknya untuk memberikan rumah itu padaku."
Mendengar hal itu hanya terdengar helaan nafas dari Putra membuat Novela bertanya tanya akan tanggapan dari Putra.
" Apa aku terlalu cepat ya?" ucap Novela dalam hati.
" Bukan begitu, surat surat rumah itu memang ada di tangan ku tapi semua sia sia karena aku tidak bisa menemukan ahli waris yang sesungguhnya." ucap Putra yang lantas membuat Novela terkejut bukan kepalang.
" Bagaimana bisa? bukankah itu sudah menjadi milik Ranti dan tante Neta? ahli waris siapa yang dimaksud Putra?" ucap Novela dalam hati.
__ADS_1
Bersambung