
Keesokan harinya Novela terbangun karena pesan notifikasi ponselnya terdengar nyaring membuat Novela terbangun dari tidurnya.
Novela lantas meraba raba ponselnya di atas nakas dengan mata yang terpejam karena masih mengantuk, setelah berhasil mengambil ponselnya Novela mulai membuka pesan singkat di ponselnya.
" Aku sudah mengirim lukisan itu pagi ini, kalau kamu ada waktu bisakah kita makan siang bersama di cafe seni nanti?"
Novela kemudian lantas terbangun setelah membaca pesan singkat tersebut dan langsung bergegas turun ke bawah untuk melihat lukisan tersebut.
" Tuan tuan tuan, anda di mana tuan?" teriak Novela sambil berlari menuruni anak tangga menuju ke ruang tengah.
" Apa kau itu anak kecil yang hanya bisa berteriak ke sana ke mari ha?" ucap Alder dengan nada suara datar yang lantas membuat Novela yang tengah berbinar langsung menghentikan langkahnya sambil menunduk ke arah Alder yang tengah menikmati sarapan paginya di meja makan.
" Maaf tuan" ucap Novela sambil menunduk.
" Mati aku! salah lagi." ucap Novela dalam hati.
Sementara Rina yang melihat interaksi keduanya hanya bisa tersenyum kemudian kembali ke dapur agar tidak mengganggu keduanya.
" Apa yang membuatmu sampai sesenang itu?" tanya Alder sambil memotong sandwich di piringnya.
" Anu tuan tadi Putra mengirimiku pesan." ucap Novela dengan nada lirih yang lantas membuat Alder mengerutkan keningnya karena tidak dapat mendengar ucapan Novela barusan.
" Apa yang baru saja kau katakan sebenarnya? jangan hanya menunduk di situ kemari lah agar aku bisa mendengar suaramu." ucap Alder dengan nada dingin yang langsung membuat Novela melangkahkan kakinya mendekat ke arah Alder.
" Katakan sekarang." ucap Alder sambil meminum secangkir kopi yang tersaji di dekat piring miliknya.
" Putra tadi mengirimi ku pesan dan mengatakan bahwa ia sudah mengirim lukisan tersebut pagi ini dan ..." ucap Novela namun dengan nada menjeda kalimatnya yang lantas langsung membuat Alder menatap ke arahnya.
" Dan apa?" tanya Alder penasaran karena Novela tak kunjung meneruskan ucapannya.
" Dan ia juga mengajakku makan siang nanti, menurut anda aku harus." ucap Novela namun langsung di potong oleh Alder karena ia tahu apa yang akan di ucapkan Novela selanjutnya.
__ADS_1
" Pergilah lakukan tugasmu, untuk apa kau masih mengatakannya padaku?" ucap Alder santai.
" Apa anda yakin tuan aku mampu melakukannya?" tanya Novela dengan ragu ragu.
" Bukankah kemarin kau berhasil? lalu apa lagi yang membuatmu ragu kali ini?" ucap Alder sambil mengelap mulutnya setelah selesai dengan sarapan paginya.
" Aku hanya, hanya tidak tega membalas mereka tuan." ucap Novela pada akhirnya.
" Kau ini benar benar bodoh ya, mereka saja mengambil semua aset milik orang tua mu saja setega itu, lalu sekarang apa yang membuatmu tidak tega? jika kau ingin mundur sekarang, baik silahkan pergi tapi sebelum itu lunasi dulu semua hutang hutang mu pada ku, apa kau mau berhitung sekarang denganku?" ucap Alder dengan nada santai namun berhasil membuat Novela ketar ketir dan salah tingkah.
" Wah gawat ini kalau tuan beneran menghitung segalanya, bisa bisa jual ginjal beneran ini aku." ucap Novela dalam hati sambil tertawa garing menutupi kegelisahannya.
" Apa? yang benar saja tuan hahaha." ucap Novela dengan tawa garing pada kalimatnya.
" Tidak ada yang tidak mungkin bagi ku, aku akan memanggil Haris jika kau ingin memulai berhitung sekarang, mudah bukan?" ucap Alder dengan senyum iblis yang lantas membuat Novela menelan saliva nya dengan kasar.
" Aku yakin kau tidak akan mampu membayar sebanyak itu, ternyata cara ini cukup ampuh untuk menjerat gadis itu, baiklah lihat saja apa yang aku lakukan padamu selanjutnya agar kau tetap di sisiku." ucap Alder dalam hati.
Alder tersenyum tipis kala melihat Novela mengambil langkah seribu pergi meninggalkannya.
" Dia benar benar berbeda dengan mu An, begitu ceroboh dan mudah sekali berubah pikiran, tidak! apa yang sedang aku pikirkan?" ucap Alder dalam hati kemudian membuang muka dari pandangannya yang semula memandang kepergian Novela dengan senyuman.
Alder kemudian lantas bangkit dan melangkahkan kakinya menuju paket lukisan yang sampai tadi pagi, di bukanya peket tersebut dengan serampangan tanpa perduli harga lukisan tersebut yang bernilai ratusan juta.
Alder mengambil sebuah note yang terselip di bingkai lukisan tersebut.
" Untuk nona cantik yang telah mencuri hatiku."
" Hem dasar buaya darat aku yang membelinya namun dia yang menulis pesannya, bukankah ini nampak menggelikan?" ucap Alder dengan tersenyum sinis menatap note serta lukisan tersebut.
" Pak Budi" panggil Alder setengah berteriak yang lantas membuat Budi lari tergopoh-gopoh menghampiri Alder.
__ADS_1
" Ya tuan muda." ucap Budi ketika sampai di sebelah Alder.
" Taruh lukisan ini di gudang, tidak perlu terlalu hati hati letakkan saja sembarangan di bawah dan biarkan di sana, lukisan ini benar benar membuatku jengkel." ucap Alder dengan nada kesal.
" Apa anda yakin tuan?" tanya Budi karena ia tahu harga lukisan ini tidak main main, jadi bukankah sayang jika hanya di taruh sembarangan di gudang tanpa perawatan.
" Apa kau tidak mendengarnya pak? kalau ku bilang biarkan ya biarkan saja." ucap Alder dengan nada kesal.
" Baik tuan" ucap Budi kemudian membawa lukisan tersebut pergi ke gudang.
*************
Sementara itu di sebuah apartment milik Putra, Ranti terbangun karena Putra sudah tidak berada di sebelahnya.
Ranti mengerjapkan matanya beberapa kali mencoba menyadarkan dirinya, ditolehnya ke kanan dan ke kiri namun tetap saja Putra tidak ada di sana.
Ranti kemudian bangkit sambil mengambil jubah tidurnya yang sudah berserakan di lantai, dan melangkahkan kakinya menuju ke arah balkon mencari keberadaan Putra yang mungkin ada di sana, dan benar saja Ranti melihat Putra tengah berdiri di sana sambil memandangi ponselnya.
Ranti kemudian berjalan menghampiri Putra dan langsung memeluknya dari belakang yang lantas membuat Putra sedikit terperanjat karena kehadiran Ranti yang tiba tiba.
" Apa yang sedang kamu lakukan? apakah sangat penting hingga kamu meninggalkanku sendiri?" tanya Ranti sambil tetap memeluk Putra dari arah belakang.
" Tidak ada aku hanya ingin mencari udara segar saja." ucap Putra santai sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.
" Apa kamu yakin?" tanya Ranti lagi.
" Ya tentu saja, aku ingin mandi dulu ya hem." ucap Putra sambil berbalik badan dan mengelus perlahan pipi Ranti kemudian melangkah pergi meninggalkan Ranti sendirian di sana.
Ranti menatap kepergian Putra dengan rasa curiga yang menumpuk memenuhi kepalanya.
" Kenapa aku merasa ada yang sedang di tutupi oleh Putra, apa aku terlalu berlebihan atau memang insting ku yang terlalu tajam?" ucap Ranti pada diri sendiri sambil terus menatap kepergian Putra hingga menghilang dari pandangannya.
__ADS_1
Bersambung