
Suasana di dalam mobil yang di kendarai Haris nampak hening dan senyap tanpa ada suara alunan musik maupun pembicaraan di antara keduanya, sampai beberapa menit kemudian Haris mulai membuka pembicaraan memecah keheningan yang terjadi diantara keduanya.
" Sebaiknya anda jangan terlalu dekat dengan tuan Steven." ucap Haris memecah keheningan yang terjadi di sana.
" Memangnya kenapa?" tanya Novela dengan penasaran karena tidak akan ada larangan tanpa suatu sebab bukan.
" Sebaiknya anda tidak perlu tahu, karena jika sampai tuan Alder tahu maka anda tidak akan bisa selamat." ucap Haris yang lantas membuat Tazkia menelan salivanya dengan kasar.
" Setidaknya berilah aku sebuah alasan agar aku bisa menempatkan diriku dengan benar." ucap Novela dengan kesal.
" Apa lagi ini? perasaan aku gak tahu apa apa udah begini aja, banyak banget sih yang tidak boleh di lakukan jika menyangkut tuan muda Alder, gak boleh ini gak boleh itu, percuma duit banyak kalau hidup seperti tahanan." cibir Novela dalam hati karena kesal terlalu banyak aturan yang harus ia taati ketika berada di sisi Alder.
" Terkadang menjadi tidak tahu lebih baik dari pada mencari tahu apa yang tidak seharusnya anda ketahui." ucap Haris yang semakin membuat rasa penasaran dalam diri Novela memuncak.
" Terserahlah, bertanya pada Haris sama saja seperti bertanya pada rumput yang bergoyang, tidak berfaedah dan membuang waktu." gerutu Novela lagi dalam hati.
Setelah pembicaraan singkat itu mobil melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan ibu kota yang padat merayap di jam jam kerja seperti ini menuju kembali ke mansion milik Alder sesuai dengan perintah awal Alder kepada Haris.
********
Mansion milik David
Setelah dari bandara Steven langsung pergi menuju mansion David untuk menemui Angelina di sana, Steven langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam mansion begitu ia sampai dan langsung mencari keberadaan Angelina di sana menyusuri setiap sudut mansion.
__ADS_1
" Mom? where are you?" tanya Steven setengah berteriak ketika memasuki mansion. " Mom? aku pulang, tidakkah kamu merindukanku? mom? kamu di mana mom?" sambungnya lagi karena Angelina tidak kunjung menjawab panggilan dari dirinya sedari tadi.
" Ada apa sih steve? kenapa kamu berteriak teriak seperti itu? mommy mendengar mu tenanglah." ucap Angelina sambil menuruni satu persatu anak tangga untuk menghampiri Steven yang masih berdiri dengan memandangi ke seluruh arah mencari keberadaan dirinya.
Steven yang mengetahui betul suara itu adalah milik Angelina, lantas bergegas menghampiri Angelina, Steven kemudian langsung memeluknya dengan sayang sambil mencium kening Angelina singkat sebagai bentuk seorang anak melepas rindu setelah sekian lama tidak bertemu ibunya.
" Steve kangen banget sama mommy." ucap Steven sambil menampilkan deretan giginya yang rapi menatap ke arah Angelina yang juga sedang menatapnya dengan gemas.
" Benarkah? jika seperti itu kenapa kamu tidak pulang dari dulu? dasar anak nakal." ucap Angelina dengan nada kesal dan wajah yang di tekuk, sambil menjitak pelan kening Steven dengan gemas karena tingkah anak itu.
" Ayolah mom yang terpenting sekarang Steve sudah pulang, apalagi yang membuat mommy merajuk hem?" ucap Steven membujuk Angelina yang seperti sedang marah padanya.
" Kamu ya benar benar menyebalkan." ucap Angelina lagi.
Steven yang melihat Angelina tengah kesal lantas mulai menggelitiki pelan tubuh wanita paruh baya itu, Angelina tang mendapat serangan mendadak lantas hanya bisa pasrah dan tertawa karena ulah jail Steven barusan.
Steven yang mendengar hal itu langsung memeluk gemas Angelina dari belakang seperti layaknya seorang anak kecil yang merindukan ibunya setelah sekian lama, Angelina yang mengetahui itu hanya membiarkan Steven memeluknya sambil mengusap kepala Steven secara perlahan dengan senyum yang tidak bisa di artikan.
" Biarkan aku melihat mu dari sudut pandang ku mom, aku akan mencoba untuk menjadi buta dan tuli, itu prinsip yang selalu ku pegang sedari dulu, ya itu prinsip ku!" ucap Steven sambil mengusap sudut matanya yang seperti berair yang hendak mengalir tanpa persetujuannya.
**********
Di sebuah Restoran di jam makan siang sedari tadi Ranti terlihat hanya mengaduk aduk makan siangnya tak berselera, karena terlanjur kesal terhadap Putra yang hanya sibuk memainkan ponselnya sedari tadi dengan ekspresi yang berubah ubah membuat rasa curiga semakin menumpuk di hati Ranti.
__ADS_1
" Sebenarnya siapa yang mengirimi Putra pesan? kenapa dia nampak begitu bahagia seperti itu? apa Putra memiliki perempuan lagi selain aku? gerak geriknya sungguh mencurigakan!" ucap Ranti dalam hati dengan kesal sambil terus memperhatikan gerak gerik Putra sedari tadi.
" hahahaha" suara tawa kecil Putra terdengar yang lantas membuat Ranti semakin terlihat menyedihkan di sana karena di acuhkan oleh Putra sedari tadi.
" Bisakah kamu menghentikannya, apa kamu tidak perlu makan? lagi pula siapa yang mengirimi mu pesan di jam makan siang seperti ini? tidak bisakah kau melanjutkannya nanti?" ucap Ranti dengan kesal pada akhirnya karena tidak tahan akan sikap Putra yang mengacuhkannya sedari tadi.
" Iya sebentar lagi sayang, kamu makanlah dulu." ucap Putra namun masih tetap fokus menatap ponselnya.
" Makanlah dulu nanti keburu dingin makanannya." ucap Ranti lagi namun dengan wajah yang sudah bete namun masih berusaha untuk tetap berpikir waras.
" Iya sebentar." ucap Putra dengan singkat yang malah menimbulkan rasa kesal yang sudah Ranti tahan sejak tadi.
" Sini lihat ponsel mu, aku ingin lihat siapa orang yang tidak sopan yang mengirimi mu pesan di jam makan siang seperti ini." ucap Ranti dengan kesal sambil berusaha ingin mengambil ponsel milik Putra.
Putra yang merasa privasinya terancam lantas langsung menatap tajam ke arah Ranti sambil memasukkan ponselnya ke saku celananya.
" Apa apaan sih kamu? kenapa kamu jadi menyebalkan seperti ini? kalau kamu mau makan, makan aja sendiri!" ucap Putra dengan kesal kemudian bangkit berdiri meninggalkan Ranti seorang diri di Restoran tersebut.
Suasana yang tadinya ramai di restoran tersebut mendadak hening ketika mendengar suara bentakan Putra pada Ranti yang menyita perhatian pengunjung, Ranti menatap kepergian Putra dengan perasaan hancur.
Dengan perasaan yang campur aduk Ranti kembali duduk dan memakan makanannya tanpa memperdulikan tatapan para pengunjung yang menatapnya dengan penuh rasa belas kasihan.
Ranti memasukkan sesendok demi sesendok makanan di mulutnya dengan berlinang air mata, namun ia langsung menghapusnya kemudian kembali menyendok kan makanan ke mulutnya.
__ADS_1
" Kamu berubah Putra, kamu berubah and i hate you." ucap Ranti dengan menatap kosong ke depan tanpa memperdulikan tatapan orang orang tentang dirinya.
Bersambung