
Baik Alder maupun Steven saling pandang satu sama lain dan tidak ingin mengalah sama sekali. Alder benar benar sangat geram dengan kelakuan Steven yang selalu saja bersikap seolah olah dia yang paling tersakiti, padahal Steven malah mengambil semua hak miliknya baik orang tua, nama, maupun kehidupannya yang damai, bukankah itu terlalu serakah?
" Jangan coba coba memancing ku Steve!" ucap Alder dengan nada suara dingin yang membuat keadaan semakin mencekam. "Geledah semua tempat yang ada di mansion ini ris, jangan sampai ada satupun yang terlewatkan." ucap Alder kemudian sambil menatap ke arah Haris memberikan perintah.
Haris yang mendapat perintah dari tuannya lantas mulai melangkahkan kakinya menelusuri setiap ruangan di mansion tersebut.
" Jangan berbuat semau mu kak! ada kalanya kakak harus melepaskan sesuatu, kita sudah sama sama dewasa bukankah terus bermusuhan juga tidak baik?" ucap Steven tiba tiba yang lantas membuat Alder semakin geram.
" Tutup mulut mu! apa kau masih belum puas? bukankah kau telah mendapatkan segalanya? kau bukan siapa siapa tapi kau mendapat keluarga yang utuh tidak hanya itu kau bahkan mendapatkan segala hal yang harusnya jadi milikku! aku membutuhkan usaha dan kerja keras akan keberhasilanku, sedangkan kau ... yang kau lakukan hanyalah tersenyum tapi semua hal datang mendekat kepadamu, apa kau masih belum puas juga ha? kau bilang apa melepaskan? tidakkah kau berkaca terlebih dahulu?" ucap Alder pada akhirnya dengan kesal, memang tidak ada hubungannya sama sekali dengan arah pembicaraan mereka tapi Alder sudah benar benar muak dengan Steven, ia selalu mengganggap dirinya yang teraniaya namun nyatanya Alder lah yang lebih tersudut di sini. Ya Alder akui ia memang merebut Ane dari Steven dulu dengan sengaja karena Alder ingin menunjukkan kepada Steven bagaimana jika orang yang selalu ada dan selalu bersama kita tiba tiba meninggalkan kita demi orang lain.
" Aku ..." ucap Steven menggantung ia tidak bisa berkata apa apa lagi karena Steven juga terkejut dengan ucapan Alder barusan.
" Kenapa kau diam? apa sekarang kau baru menyadarinya? jika kau sudah sadar berhenti berlagak seolah olah kau yang paling tersakiti di sini. Oh dan satu hal lagi kalau dia menginginkan induk perusahaan ambil saja aku tidak membutuhkannya sama sekali, bukankah kalian sudah berhasil mendapatkan hati pria tua itu, maka mudah bukan untuk mendapatkan hartanya?" sindir Alder yang semakin membuat Steven terkejut dibuatnya.
" Aku bahkan tidak pernah memikirkan hal itu kak, kakak salah paham dengan aku dan mommy." ucap Steven mencoba membela diri.
" Cih kau memang tidak menginginkannya tapi apa kau pernah menyadarinya bahwa wanita itu yang menginginkannya, buka matamu Steve dia tak sebaik yang kamu pikirkan." ucap Alder lagi.
" Kak hentikan, mommy tidak mungkin melakukannya." ucap Steven lagi lagi mencoba menyangkal ucapan Alder.
" Kau yang hentikan, apa kau tidak lelah dengan drama keluarga ini? jika kau masih ingin bermain silahkan tapi yang jelas aku sudah benar benar muak dengan kalian." ucap Alder kemudian berbalik hendak menyusul Haris yang tak kunjung kembali sedari tadi. " Padahal hanya mencarinya di mansion ini, tapi kenapa Haris lama sekali?" ucapnya dalam hati.
" Dia bukan Ane kak!" ucap Steven kemudian yang langsung menghentikan langkah kaki Alder.
__ADS_1
" .... "
" Dia bukan Ane." ucap Steven lagi.
" Jika kau sudah mengetahuinya maka kau yang harus melepaskannya bukan aku, untuk apa kau menahan seseorang yang tidak kau kenali?" ucap Alder dengan dingin.
" Ini salah kak, meski kakak membuat wajahnya mirip dengan Ane tapi dia jelas jelas bukanlah Ane." ucap Steven lagi.
" Tutup mulutmu dan jangan campuri urusanku, aku berhak melakukan apapun tanpa persetujuan mu karena kau bukan siapa siapa ku!" ucap Alder kemudian melangkah pergi meninggalkan Steven yang masih termenung di sana setelah mendengar ucapan Alder.
*********
Ketika Alder dan Steven tengah beradu mulut Haris malah tengah sibuk memeriksa satu persatu ruangan mencari keberadaan Novela di sana.
" Ini sudah kamar ke lima yang aku masuki dan semuanya kosong, mengapa orang kaya suka sekali dengan rumah besar? bukankah akan sangat melelahkan tinggal di sini dan membersihkannya setiap hari? ah aku lupa mereka kan orang kaya tidak mungkin membersihkannya sendiri." gumam Haris sambil meneruskan langkahnya.
Ketika dirinya sampai di kamar paling ujung Haris bersiap untuk membukanya, namun ketika ia berusaha untuk membuka kamar tersebut anehnya pintu kamar terkunci, Haris kemudian terdiam sebentar dan mengingat semua bagian di mansion ini.
" Jika semua ruangan tidak terkunci dan hanya ini yang terkunci berarti ...." ucap Haris menerka nerka.
Perlahan Haris mulai mengetuk pintu itu dan memanggil nama Novela berulangkali (tentu bukan nama Novela yang di panggil melainkan Ane karena Haris sadar bahwa di rumah ini memiliki rekaman pengawas yang bisa mendeteksi atau memunculkan suara jadi Haris perlu untuk berhati hati dalam berbicara).
" Non, nona Ane ada di dalam?" ucapnya sambil menggedor gedor pintu kamar tersebut.
__ADS_1
Haris diam sejenak untuk mendengarkan jawaban dari dalam kamar hingga kemudian Novela mulai bersuara ketika ketukan yang ke berapa kalinya.
" Haris aku di sini, tolong buka pintunya." balas Novela dari dalam kamar.
" Apa anda tahu di mana Steven menyimpan kuncinya?" tanya Haris dengan polos.
Novela yang mendengar hal itu tentu saja menjadi kesal.
" Kalau aku tahu aku sudah pergi dari sini sejak lama, kamu mengejekku ya?" ucap Novela dengan kesal.
" Oh saya minta maaf jika anda tersinggung, sekarang lebih baik anda menyingkir dari sana saya akan mendobraknya." ucap Haris kemudian.
" Baiklah" ucap Novela pasrah.
" Satu" ucap Haris sambil mulai mendobrak pintu kamar namun gagal. " Dua" teriaknya lagi sambil mencoba kembali mendobraknya namun tetap saja gagal. " Ti ..." ucap Haris hendak mendorongnya kembali namun gagal karena mendengar suara Alder.
" Minggir lah biar aku yang melakukannya." ucap Alder.
Perlahan Haris mundur sesuai dengan perintah Alder dan detik berikutnya tanpa aba aba maupun ancang ancang Alder langsung mendobrak pintu tersebut dengan sekali tendangan dan langsung terbuka dengan suara yang keras karena pintu tersebut langsung membentur dinding kamar.
Melihat tuannya berhasil dalam sekali tendangan membuat Haris lantas terbengong menatap Alder dan juga pintu secara bergantian.
" Wah apakah dulu tuan keturunan samson? aku bahkan sudah mencoba hampir ketiga kalinya namun gagal, sedangkan tuan hanya sekali tendangan dan tanpa ancang ancang, bukankah tuan sungguh luar biasa?" ucap Haris dalam hati yang tertegun karena keberhasilan Alder dalam membuka pintu kamar.
__ADS_1
Bersambung