
Keesokan harinya.
Sesuai dengan apa yang telah di sepakati hari ini Novela dan juga Alder melangsungkan pernikahan, tidak ada kemewahan yang terlihat dari pernikahan kali ini karena memang Novela tidak menginginkan sebuah pesta pernikahan, cukup hanya dengan di hadiri beberapa anggota keluarga saja.
Di ruang tengah yang hadir sebagai saksi sekaligus perwakilan dari mempelai putri adalah Haris, sedangkan dari pihak mempelai pria telah hadir Angelina, David, Richard dan juga Steven tentunya.
Semua orang nampak berkumpul menantikan kehadiran kedua mempelai. Ada sesuatu yang membuat Steven gelisah sedari tadi, ia benar benar tidak bisa diam lagi dan menahannya.
"Mom aku ke kamar kak Al dulu." ucap Steven yang di balas dengan anggukan oleh Angelina.
Sedari awal di beri kabar akan pernikahan Alder membuat Angelina tidak suka, niat awal ingin menjauhkan keduanya malah berakhir dengan melihat pernikahan keduanya. Bukankah perjuangannya selama ini sia sia saja?
"Benar benar menyebalkan! aku sungguh tidak menyukai hal ini terjadi." batin Angelina dengan kesal namun tidak bisa berbuat apa apa.
"Tersenyumlah sedikit ma, jika ada yang melihat mu seperti ini pasti mereka akan mengira kamu terpaksa datang ke sini." sindir David kala melihat wajah di tekuk istrinya.
"Memang aku terpaksa datang ke sini." ucapnya dalam hati namun tentu saja tidak akan bisa di dengar oleh David
Dengan perasaan terpaksa Angelina kemudian memberikan senyuman palsu kepada David yang lantas kembali di balas senyuman oleh David.
"Begitu lebih baik." ucap David dengan senyum yang mengembang.
**
Di ruang kamar Alder.
Terlihat Alder tengah bersiap sambil mematut dirinya pada standing cermin yang terletak di sudut kamarnya.
Dengan langkah perlahan, Steven mulai memasuki kamar Alder tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu membuat Alder lantas menatap tajam ke arah Steven, namun bukan Steven namanya jika tidak mempunyai muka badak kala bertemu dengan Alder.
"Ada hal penting yang ingin aku tanyakan pada kakak." ucap Steven langsung to the point dan tak menghiraukan ekspresi wajah Alder yang tidak enak di pandang.
"Ada apa?" tanya Alder dengan singkat.
__ADS_1
"Nama siapa yang akan kakak sebut dalam ijab qabul? Ane atau Novela?" ucap Steven.
Mendengar pertanyaan Steven barusan membuat raut wajah Alder seketika berubah, ia benar benar tidak berpikir sampai ke arah sana.
"Kenapa kakak diam? bukankah jawabannya sudah terlihat jelas? orang yang bersama kakak bukanlah Ane, jadi Novela adalah jawaban yang tepat untuk pertanyaan ku." ucap Steven dengan nada datar.
"Masalahnya tidak sesimpel yang kau pikirkan, semua orang mengetahui bahwa Novela adalah Ane termasuk juga papa dan juga orang itu." ucap Alder kemudian.
"Jangan bilang kakak akan menyebutkan nama Ane saat ijab qabul? bukankah itu akan melukai hati Novela kak?" ucap Steven lagi yang lantas membuat Alder terdiam membisu. "Pikirkanlah baik baik kak, aku tahu kakak lebih tahu bagaimana perasaan kakak yang sebenarnya." imbuhnya kemudian melenggang pergi dari sana meninggalkan Alder sendiri.
Alder benar benar berada dalam sebuah dilema, padahal jika di lihat dengan kasat mata bukankah jawabannya sangatlah mudah? tidak ada perkara yang sulit kecuali manusianya sendiri yang membuat sebuah masalah itu kian menjadi rumit.
"Haruskah aku melakukannya An? apa yang harus aku lakukan sekarang?" ucapnya pada diri sendiri yang hanya di balas oleh kesunyian.
Alder kemudian lantas merogoh ponselnya kemudian mendial nomor Richard di sana.
"Halo" ucap Richard dari seberang sana.
"Lakukan sesuai dengan rencana lo." ucap Alder kemudian.
"Berhenti menggoda, lakukan saja semuanya sesuai rencana." ucap Alder dengan kesal karena Richard malah menggodanya.
"Baik baik, sesuai dengan perintah anda tuan Alder hahaha." goda Richard semakin gencar.
"Sialan lo!" jawab Alder sambil berdecak kesal kemudian menutup sambungan telponnya secara sepihak karena kesal.
"Setidaknya sarannya kemarin cukup berguna di saat seperti ini." ucap Alder kemudian setelah panggilan teleponnya terputus.
***
Beberapa menit kemudian terlihat Alder mulai menuruni anak tangga bersama dengan Novela di sebelahnya. Alder benar benar terpukau akan sosok Novela yang anggun dengan balutan kebaya putih begitu cantik dan menawan, bayangan Ane kala tersenyum melintas secara tiba tiba ketika Alder menatap Novela semakin intens.
Diusirnya jauh jauh bayangan demi bayangan Ane yang mulai melintas di kepalanya, mulai hari ini Alder bertekad akan menghapus semua jejak tentang Ane dipikirannya. Seulas senyum terbit di wajah tampan tuan kulkas seribu pintu, benar benar indah dipandang mata.
__ADS_1
Baik Alder maupun Novela mengambil duduk di depan penghulu bersiap melaksanakan ijab qabul. Nampak Alder memberikan isyarat kepada Richard agar memulai rencananya.
Richard kemudian lantas bangkit dan keluar dari sana, tidak berapa lama deringan ponsel mulai terdengar memenuhi ruangan itu.
"Maaf saya permisi dulu." ucap David melenggang pergi dari sana hendak mengangkat panggilan ponselnya.
Baru saja David keluar tak berapa lama dari arah dapur muncul seorang pelayan yang membawa minuman dan tanpa sengaja menumpahkannya kepada Angelina.
"Maaf nyonya..." ucap pelayan wanita itu sambil menunduk.
"Kau!" ucap Angelina hendak marah namun urung karena melihat acara sedang berlangsung, jadilah ia hanya bisa pergi ke toilet dengan wajah yang teramat kesal. "Awas nanti kau ya!" ucapnya sambil melangkah pergi.
Meski Alder tak dapat melihatnya tapi ia bisa merasakan bahwa rencana dari Richard sudah berhasil. Tidak berapa lama setelah kepergian keduanya penghulu nampak mulai mengucapkan ijab qabul.
"Saya terima nikah dan kawinnya Novela Anandita Pertiwi binti Suherman dengan mas kawin uang satu milyar di bayar tunai." ucap Alder dengan lantang.
"Bagaimana para saksi? sah?" tanya penghulu kepada para saksi.
"Sah" teriak beberapa orang di sana yang kemudian langsung di lanjutkan dengan doa yang dibacakan oleh penghulu untuk keberkahan pernikahan keduanya.
Mendengar nama Novela yang di ucapkan oleh Alder, membuat Steven lantas tersenyum puas akan pilihan Alder.
"Boleh juga kak Alder idenya." ucap Steven dalam hati kala mendengar nama Novela dan bukan Ane yang di ucapkan oleh Alder saat ijab qabul berlangsung.
Sementara itu dengan perasaan yang terpaksa, Novela lantas mengikuti prosesi demi prosesi setelah ijab qabul berlangsung, seperti cium tangan suami dan di lanjut dengan mencium kening sang isteri. Sungguh berbanding terbalik dengan Alder yang terlihat menikmati setiap "momen yang terjadi saat ini.
"Bukankah dia sangat menggemaskan." ucap Alder dalam hati kala melihat Novela melakukannya dengan setengah setengah.
**
Sedangkan dari arah pintu samping nampak David kembali masuk setelah menyelesaikan panggilan telponnya barusan. Didekatinya kedua pengantin baru itu sambil tersenyum dengan lebar ke arah keduanya.
"Sayang sekali papa tidak bisa melihat prosesinya tadi, tapi gak papa. Papa harap kalian berdua selalu bahagia dan langgeng sampai kakek nenek." ucap David dengan nada yang tulus.
__ADS_1
Bersambung