Ku Sangka Kau Malaikat

Ku Sangka Kau Malaikat
Kontrak tidak masuk akal


__ADS_3

Ruang kerja milik Alder


Nampak Novela sedang duduk terdiam sambil menunduk sedangkan Alder yang terus menerus menatapnya dengan tajam sedari tadi, kalau Haris jangan ditanya lagi tentu saja masih setia berdiri di belakang tuanya siap menerima perintah dari Alder.


" Haduh mati aku! dasar bodoh kau Vela, kenapa hanya makanan yang ada di isi kepalaku ini." ucap Novela dalam hati sambil terus menunduk meratapi kebodohannya.


" Apa kau hanya tau makan dan makan saja?" ucap Alder setengah berteriak yang lantas mengejutkan Novela namun masih dengan posisi diam menunduk.


"......"


" Apa yang kau cari di bawah hingga kau terus menunduk ha?" ucap Alder lagi.


Mendengar hal itu dengan spontan Novela langsung mendongak dan menatap ke arah Alder.


" Berikan kontraknya ris." ucap Alder dengan singkat.


Haris yang mendengar ucapan tuannya lantas langsung memberikan sebuah map kepada Novela.


" Apa ini? kontrak apa yang tuan maksud?" tanya Novela dengan bingung sambil menatap ke arah map yang berada di atas meja.


" Selain hanya makan yang kau tahu, apa kau juga buta huruf? " ucap Alder dengan singkat dan dingin.


" Tentu saja tidak." ucap Novela.


" Kalau begitu baca, apa lagi yang kau tunggu?" ucap Alder yang lantas membuat Novela langsung tersentak mendengarnya dan langsung membaca kontrak tersebut.


Pihak pertama : Alder Jared William


Pihak kedua : Novela Anandita Pertiwi


Pasal 1


Keputusan penuh berada di tangan pihak pertama.


Pasal 2


Pihak pertama berhak melakukan apapun kepada pihak kedua


Pasal 3


Pihak kedua tidak boleh melakukan apapun kecuali atas ijin dari pihak pertama.

__ADS_1


Pasal 4


Dilarang melakukan kontak fisik apapun.


Pasal 5


Di larang jatuh cinta.


" Apa apaan ini? emang ini cerita novel apa? semakin mengada ngada nih orang." ucap Novela dalam hati ketika membaca isi kontrak tersebut.


" Bagaimana apa sudah kau teken?" tanya Alder yang tidak sabaran karena Novela terlalu lama membaca kontrak tersebut.


" Tapi tuan, kontrak ini sedikit ..." ucap Novela namun tidak di teruskan karena takut Alder akan mengamuk.


" Sedikit apa?" tanya Alder.


" Anu sedikit tidak masuk akal." ucap Novela pada akhirnya dengan takut takut.


" Apa yang tidak masuk akal? bukankah kau ingin membalas dendam kepada tante mu? lalu apa lagi yang kau tunggu?" ucap Alder dengan sinis.


" Iya anda benar tapi ..." ucap Novela ingin membantah namun sudah di potong oleh Alder.


" Jika kau tidak setuju, kau bisa pergi dari sini" ucap Alder dengan angkuh membuat Novela menjadi langsung gelagapan di buatnya.


Alder lantas tersenyum ketika Novela membubuhkan tanda tangannya di sana, yang berarti bahwa tujuannya sebentar lagi akan tercapai.


" Bagus, persiapkan diri mu untuk besok, karena besok kau akan menjalani operasi plastik dan sedot lemak." ucap Alder yang langsung membuat Novela terkejut mendengarnya.


" Apa ? operasi? tapi tuan ..." ucap Novela namun lagi lagi di potong oleh Alder.


" Apa kau melupakan isi dari pasal 2?" tanya Alder dengan nada yang datar.


" Emmmm baiklah." ucap Novela pada akhirnya pasrah.


" Sekarang kau boleh pergi, ingat satu hal apapun yang kau lakukan serta kau terima di sini, tidak gratis begitu saja, akan ada bayaran dari setiap hal yang kau terima di sini." ucap Alder dengan tersenyum sinis sambil menatap ke arah Novela.


" Apa? jadi aku harus membayar segalanya? termasuk operasi? gila, dapat uang dari mana aku sebanyak itu, meski aku jual ginjal sekalipun itu tetap tidak akan cukup untuk membayarnya." ucap Novela dengan kesal kemudian pergi dari ruangan Alder.


" Awasi gerak geriknya, aku tidak akan percaya begitu saja dengan orang baru, apalagi perempuan gendut dan tidak terawat seperti dia itu." ucap Alder setelah kepergian Novela dari ruangannya.


" Baik tuan" ucap Haris kemudian melangkah pergi meninggalkan ruangan Alder namun urung lalu berbalik.

__ADS_1


" Tuan besok adalah harinya, apa anda ingin saya membelikan bunga tulip merah seperti biasa?" tanya Haris.


" Ya tentu saja, kenapa kau selalu saja bertanya akan hal itu." ucap Alder.


" Baik tuan" ucap Haris kemudian kembali melanjutkan langkahnya untuk pergi.


***********


Keesokan harinya di sebuah tempat pemakaman umum elit yang terletak di pinggiran ibu kota, nampak Alder tengah berdiri dengan gagah memakai setelan jas berwarna hitam sambil membawa bunga tulip berwarna merah di tangannya.


Alder kemudian lantas berjongkok dan memandangi pusara yang bertuliskan nama Ane Florensia di sana.


" Ane aku datang." ucap Alder sambil mengusap batu nisan di pusara itu.


" Aku datang membawa bunga tulip berwarna merah kesukaan mu, pasti kamu suka bukan? em aku benar benar merindukan tawa manja mu An sungguh aku benar benar selalu merindukannya, apa kamu juga merindukan ku di sana? pasti tidak ya, aku yakin pasti di sana banyak sekali pria tampan sehingga kamu tidak ingin bersamaku lagi." ucap Alder di selingi tawa namun detik berikutnya perlahan air mata Alder mulai menetes satu per satu.


Dengan sigap Alder menghapus air matanya kemudian kembali tersenyum.


" Ah cuaca di sini benar benar panas hingga keringatku menetes hampir mengenai tempat peristirahatan terakhir mu, apa An? tentu saja tidak, aku tidak menangis sama sekali, sungguh, bukankah aku sudah menjanjikannya padamu?" ucap Alder lagi dengan bahu sedikit bergetar sambil berusaha sekuat tenaga menahan diri untuk tidak hancur.


Di saat Alder tengah menahan kehancurannya kala melihat makam Ane, dari arah belakang Haris berjalan mendekat ke arah Alder berada.


" Tuan permisi, saatnya kita pulang karena sebentar lagi operasi akan di lakukan." ucap Haris dengan suara lirih karena ia tahu tuannya pasti sedang tidak baik baik saja, hal ini bahkan sudah sering terjadi ketika Alder mengunjungi makam Ane.


" Aku akan pulang sekarang, lain kali aku janji akan mengunjungimu lebih lama lagi." ucap Alder sambil mengelus nisan tersebut dengan perlahan kemudian bangkit berdiri melangkahkan kakinya meninggalkan tempat pemakaman umum tersebut.


" Apakah persiapannya sudah selesai? bagaiman dengan mr Lee?" tanya Alder ketika memasuki mobilnya.


" Semua sudah siap tuan bahkan mr Lee sudah menunggu dan siap melakukan operasi." ucap Haris.


" Bagus, kalau begitu secepatnya bawa gadis itu ke rumah sakit dan jelaskan segala prosedurnya pada gadis itu." ucap Alder lagi.


" Aku ingin semuanya berjalan sesuai keinginanku, kau ingat itu kan Haris?" ucap Alder lagi namun kali ini dengan penekanan di setiap kata katanya.


" Baik tuan, lalu sekarang anda ingin di antar ke mana?" ucap Haris


" Antar kan aku ke tempat Richard." ucap Alder singkat dengan nada yang datar.


" Baik tuan" ucap Haris.


Setelah mendapat perintah dari Alder, Haris lantas melajukan mobilnya menuju ke tempat Richard berada.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2