
Novela bangun pagi pagi sekali dan langsung menuju ke arah dapur untuk membantu Rina menyiapkan hidangan makanan untuk sarapan pagi.
Di buatnya satu persatu hidangan oleh Novela dengan penuh perasaan dan suka cita, menu sarapan pagi kali ini semuanya berasal dan di buat langsung oleh Novela, tidak ada yang Rina lakukan selain hanya membantu Novela mengupas beberapa sayuran serta membersihkannya, alasannya kerena Novela mengatakan ingin membuat kejutan untuk Alder dan sebagai rasa terima kasihnya atas kebaikan Alder selama ini.
Setelah semua makanan matang dan siap Novela mulai membawanya kemudian menatanya satu persatu di meja makan.
" Tumben dia bangun sepagi ini." ucap Alder yang sedang berjalan menuruni anak tangga dan melihat Novela yang tengah sibuk menata makanan di atas meja.
Novela yang melihat kedatangan Alder lantas langsung tersenyum cerah menatap ke arahnya.
" Pagi tuan." ucap Novela sambil tersenyum.
Alder hanya membalas sapaan Novela dengan anggukan kemudian mengambil duduk di meja makan untuk memulai sarapannya.
" Benar benar tidak ada ramah ramahnya sama sekali." ucap Novela dengan kesal karena Alder hanya membalas sapaannya dengan anggukan.
Setelah memastikan Alder duduk, Novela kemudian lantas ikut duduk di sebelah Alder dan memulai sarapannya.
Alder mulai mencicipi satu persatu makanan di piringnya, ia agak terkejut karena rasa masakan pagi ini benar benar enak dan pas di lidahnya, sebenarnya bukan karena masakan Rina tidak enak hanya saja masakan pagi ini melebihi dari masakan Rina di hari hari biasanya.
" Sepertinya tuan menyukai masakan ku." ucap Novela dalam hati ketika melihat Alder sangat menikmati masakannya.
Setelah mencicipi hampir semua hidangan yang tersaji di meja makan, pandangan Alder lantas terhenti pada kedua piring yang berisi menu favoritnya yaitu capcay goreng dan sup kimlo bakso.
Alder yang sudah lama merindukan menu makanan tersebut kemudian lantas perlahan lahan mencicipi makanan favoritnya itu, ketika sesendok capcay mulai masuk ke dalam mulutnya Alder lantas di buat terkejut dengan rasa yang familiar di dalam capcay goreng kesukaannya.
" Rasa ini? bukankah ... Ane?" ucap Alder kala mencicipi capcay tersebut.
Masih tak percaya dengan lidahnya Alder kemudian berganti mencicipi sup di sebelahnya, dan lagi lagi Alder tercengang kala kembali merasakan rasa yang sama pada masakan tersebut, benar benar rasa yang ia rindukan selama ini.
" Bi kemarilah." ucap Alder memanggil Rina.
__ADS_1
" Waduh apa yang terjadi? apa rasanya tidak enak ya? bukankah tuan sangat menikmatinya?" tanya Novela dalam hati ketika mendengar Alder memanggil Rina untuk datang mendekat ke arahnya.
" Apa bibi yang memasak makanan ini?" tanya Alder dengan nada suara dingin yang membuat Novela langsung menelan saliva nya dengan kasar.
" Bukan tuan." ucap Rina sambil menunduk.
" Lalu siapa?" tanya Alder lagi yang sebenarnya ikut terkejut karena ternyata masakan yang di hidangkan untuknya bukanlah masakan Rina.
" Saya tuan." ucap Novela memberanikan diri sambil mengulas senyuman termanis untuk mencairkan suasana.
Alder yang melihat senyuman itu lantas terpanah karena ia benar benar merindukan senyuman itu, namun sepersekian detik berikutnya wajahnya berubah suram kala menyadari orang yang di depannya adalah orang yang berbeda dengan orang yang ia rindukan selama ini.
" Kalau kau tidak bisa memasakkan, tidak perlu kau repot repot memasaknya! lagi pula aku tidak pernah menyuruhmu untuk memasak." ucap Alder dengan nada suara dingin.
Novela yang terkena semprotan Alder lantas hanya terdiam dan menunduk.
" Aku hanya ..." ucap Novela terbata sambil terus menunduk tidak berani menatap Alder.
" Hentikan melakukan hal hal yang tidak berguna seperti ini, karena aku tidak menyukainya." ucap Alder kemudian bangkit berdiri bersiap untuk melangkah pergi.
Novela hanya terdiam mencerna setiap ucapan Alder barusan, Rina yang merasa kasihan pada Novela lantas berjalan mendekat kemudian mengusap perlahan bahu Novela untuk memberinya kekuatan.
" Apakah rasanya tidak enak bi? kenapa tuan sangat marah?" ucap Novela dengan nada sendu.
" Tidak kok rasanya enak, hanya saja mungkin tuan sedang banyak pikiran sehingga meluapkannya kepada mu. Ayolah ada apa dengan wajahmu itu, apa kau akan menyerah pada hidup hanya karena sentilan kecil dari tuan Alder?" ucap Rina sambil memberikan semangat kepada Novela.
Selama tinggal di mansion milik Alder hubungan Rina dan Novela memang sangat dekat seperti layaknya seorang ibu dan anak, tidak ada yang mereka tutupi antara satu sama lain termasuk tentang jati diri Novela yang sebenarnya.
Mendengar ucapan Rina, Novela lantas langsung menggeleng dengan keras.
" Tentu saja tidak, bukankah ini hanya sentilan kecil? aku bahkan selalu mendengarnya setiap hari." ucap Novela sambil mengulas senyum di wajahnya.
" Bagus, sekarang naiklah ke atas biar bibi yang bersihkan semuanya." ucap Rina lega karena melihat senyum itu kembali terukir di wajah Novela.
" Apakah bibi yakin? aku memasak terlalu banyak tadi, bukankah itu akan merepotkan bibi?" ucap Novela merasa bersalah.
__ADS_1
" Tenanglah, bukankah itu sudah menjadi pekerjaan ku? lalu apa lagi yang kau khawatirkan?" ucap Rina menenangkan Novela.
" Terima kasih banyak bi." ucap Novela sambil memeluk Rina dari samping kemudian berlarian kecil naik ke atas.
" Dasar anak itu." ucap Rina sambil tersenyum melihat tingkah Novela yang seperti anak anak.
***********
Perusahaan Indo Sejahtera.
Terlihat David sedang di sibukkan dengan banyaknya laporan yang menumpuk di meja kerjanya.
Alex mengetuk pintu dengan pelan kemudian membukanya dan melangkah masuk mendekat ke arah David yang tengah menatap serius dokumen yang ada di mejanya.
" Apa kau sudah mengerjakan apa yang aku perintahkan lex?" tanya David yang mengetahui kedatangan Alex meski tidak melihatnya.
" Sudah tuan, saya hanya tinggal menyerahkannya kepada notaris." ucap Alex.
" Bagus, percepat prosesnya dan pastikan tidak ada orang lain yang mengetahui hal ini, kau mengerti maksud ku bukan?" ucap David memperingati Alex.
" Baik tuan." ucap Alex.
David kemudian lantas melirik sekilas ke arah Alex karena tak kunjung pergi setelah memberikan laporan.
" Apa ada hal lain lagi yang ingin kau sampaikan?" tanya David karena melihat Alex tetap berdiri di tempatnya seperti akan menyampaikan sesuatu.
" Iya tuan, saya mendapat kabar bahwa tuan muda Steven akan kembali ke Indonesia dalam waktu dekat ini." ucap Alex.
" Pasti ini semua ulah Angelina, kenapa dia tidak pernah bisa diam dan hidup tenang saja." ucap David dalam hati menerka nerka.
" Biarkan saja dulu lex." ucap David.
" Apa anda yakin tuan? anda pasti tahu bukan tujuan nyonya Angelina menyuruh tuan muda Steven pulang? apakah anda akan tetap diam kali ini tuan?" ucap Alex yang tak mengerti dengan jalan pikir tuanya yang terlalu mudah lunak dengan Angelina, padahal David sungguh tahu bahwa Angelina adalah musuh dalam selimut.
" Kau terlalu berlebihan lex, kita lihat saja kedepannya." ucap David dengan santainya.
__ADS_1
Bersambung