Ku Sangka Kau Malaikat

Ku Sangka Kau Malaikat
Jika kau tidak bisa, maka kau yang akan aku lenyap kan!


__ADS_3

Setelah dari ruangannya, Alder lantas melangkahkan kakinya menuju ke arah ruang tengah untuk melihat bagaimana reaksi Novela.


Ketika sampai di sana Alder lantas tersenyum dengan lebar kala melihat tayangan televisi yang menampilkan kabar tentang perusahaan Rival.


" Bagaimana? apa kau sudah menarik kesimpulan dari ucapan ku kemarin?" ucap Alder sambil tersenyum dan melangkah mendekat ke arah Novela.


Cukup lama Alder mengatakan hal tersebut namun tidak ada jawaban apapun dari Novela membuat Alder lantas mengerutkan keningnya dengan bingung.


" Apa suara ku kurang lantang? atau memang dia yang terlalu serius menontonnya?" ucap Alder dalam hati sambil terus melangkahkan kakinya.


Karena rasa penasaran akan Novela yang tidak kunjung menjawab ucapannya, Alder lantas bergegas mempercepat langkah kakinya.


Kesal bercampur rasa marah kala Alder sampai tepat di depan televisi, bagaimana tidak? Alder bahkan sudah berusaha untuk menjatuhkan perusahaan Rival dan membayar mahal untuk para reporter agar melebih lebihkan dan membuat berita tersebut semakin panas, tapi yang terjadi di sini adalah jangankan mengapresiasi usaha Alder, Novela malah ketiduran di sofa dengan televisi yang tetap menyala di sana.


" Benar benar keterlaluan! bisa bisanya dia tidur dengan begitu damainya di sini, sedangkan aku sudah mengatur segalanya dari kemarin." ucap Alder dengan nada kesal dalam hati.


Alder yang kesal akan tingkah Novela awalnya ingin membangunkannya dengan cara menendang kaki Novela yang selonjoran di atas meja, namun urung karena Alder melihat kepala Novela yang hendak jatuh akibat posisi tidur yang sembarangan.


Melihat hal itu Alder lantas dengan cekatan langsung bersimpuh dan menangkap kepala Novela yang merosot dengan kedua tangannya.


Alder terdiam kala posisi keduanya hanya berjarak 5 centimeter, Alder benar benar merindukan sosok di depannya ini, di tatapnya dengan senyum setiap inci bagian wajah Novela mulai dari mata, hidung dan berakhir di bibir tipis nan cantik berwarna merah muda tanpa polesan lipstik tersebut.


Alder menatap cukup lama wajah damai Novela yang kini sudah berubah dan memakai wajah Ane, Alder lantas mendekat ke arah Novela karena tergoda akan bibir merah muda tanpa polesan itu.


Ketika Alder semakin dekat, semakin dekat dan semakin dekat, saat jarak antara bibirnya dan bibir Novela hanya tinggal sedikit lagi Alder lantas baru tersadar bahwa gadis di depannya ini bukanlah Ane pujaan hatinya.


" Dia bukan Ane! semirip apapun dia, dia tetap bukan Ane ku." ucap Alder dalam hati.


Alder kemudian lantas langsung bangkit berdiri dan melepas tangannya dari kepala Novela.


Tangan Alder yang tadinya menyanggah kepala Novela yang menggantung lantas langsung terhempas dan jatuh ke badan sofa yang membuat Novela lantas langsung terbangun karena terkejut.


" Astaga" ucap Novela yang terkejut.


Alder yang mengetahui bahwa Novela terbangun karena gerakannya tadi, lantas langsung memperbaiki posisi berdirinya dan memasang badan dengan posisi kedua tangan di lipat di depan dadanya.

__ADS_1


" Wah bagus sekali nyonya besar sedang tidur di sini! apa kau lupa aku menyuruhmu apa?" ucap Alder dengan nada menggelegar.


" Tuan saya minta maaf." ucap Novela sambil membenarkan posisi duduknya dan menunduk.


" Kau benar benar menyebalkan!" ucap Alder dengan kesal kemudian berlalu pergi meninggalkan Novela sendiri di sana.


Melihat Alder dengan wajah yang kesal, Novela lantas hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


" Apa lagi salah ku kali ini? perasaan aku tidak melakukan apapun dari tadi? bukankah aku sudah di sini sesuai instruksi darinya? lagi pula acara televisi bisnis seperti ini sangat membosankan, siapa saja yang menontonnya pasti akan langsung mengantuk, dasar aneh." gerutu Novela sambil kembali melihat ke layar televisi.


**********


Sementara itu di sebuah Restoran yang sedang hitz belakangan ini, nampak Neta sedang duduk di salah satu kursi seperti sedang menunggu kedatangan seseorang.


" Apakah orang kaya selalu seperti ini? datang sesuka hati mereka, aku bahkan sudah menunggu hampir satu jam di sini." gerutu Neta dengan kesal karena orang yang di tunggunya tidak kunjung datang juga.


Beberapa menit kemudian setelah sekian lama menunggu dari arah pintu masuk datang seorang wanita paruh baya dengan balutan baju serta aksesoris bermerek yang terpasang modis dari ujung rambut hingga ujung kakinya, wanita itu melangkah dengan anggun kemudian mengambil duduk tepat di depan Neta.


" Nyonya" sapa Neta sambil tersenyum ramah.


" Dasar nenek lampir." gerutu Neta dalam hati.


" Bagaimana? apa kau sekarang merasakan arti dari kata menunggu?" ucap Angelina.


Neta yang mendengar hal itu lantas menjadi bingung.


" Apa maksud anda nyonya?" tanya Neta dengan bingung.


Mendapat pertanyaan tersebut Angelina lantas tersenyum.


" Kau tahu seberapa lama aku menunggu waktu kehancuran bagi putra ku, tapi kau! kau malah mengacaukan segalanya Neta." ucap Angelina dengan nada sinis.


" Tidak, saya tidak pernah mengacaukannya nyonya, percayalah pada saya, saya benar benar telah melenyapkannya sungguh." ucap Neta mencoba menjelaskan namun malah mendapat tatapan tajam dari Angelina.


" Apa aku perlu mengambilkan mu pengeras suara agar semua orang tahu bahwa aku dalang dari segalanya!" ucap Angelina dengan kesal karena mulut Neta yang tidak bisa di kontrol sama sekali.

__ADS_1


Neta yang mendengar sindiran itu lantas menutup rapat mulutnya agar tidak mengeluarkan suara lagi.


" Kau jangan pernah main main denganku Neta, aku sudah membayar mu mahal, lakukan pekerjaan mu dengan baik atau aku yang akan melenyapkan mu menggantikannya." ucap Angelina kemudian bangkit berdiri melangkah pergi meninggalkan Neta dengan wajah yang sudah pucat pasih karena mendapat ancaman dari Angelina.


Bersambung


***********


Bab ekstra


Setelah pergi dengan langkah yang kesal, Alder kembali masuk ke ruangannya sambil membanting pintu ruangannya dengan keras hingga mengagetkan Haris yang tengah kegirangan karena mendapatkan bonus tadi.


" Eh, ada apa dengan muka kesalnya itu? bukankah tadi tuan keluar dengan ceria?" ucap Haris dalam hati karena melihat perubahan ekspresi tuannya.


" Benar benar perempuan itu, kenapa dia selalu saja membuat ku kesal!" ucap Alder dengan kesal sambil menendang kaki meja di ruangannya yang lantas membuat Haris langsung menelan saliva nya kasar.


" Mati aku! aku harus segera kabur dari sini." ucap Haris kemudian perlahan melangkahkan kakinya mengendap-endap keluar dari ruangan itu.


" Mau ke mana kau Haris?" tanya Alder dengan nada dingin kala melihat Haris yang hendak melarikan diri.


" Anu tuan saya mau keluar sebentar." ucap Haris sambil berbalik badan menghadap ke arah Alder.


" Aku tidak mau tahu Haris ajari perempuan itu agar menjadi sedikit lebih pintar!" ucap Alder dengan kesal.


Haris yang mendengar hal itu lantas langsung kebingungan.


" Maaf bagaimana tuan." tanya Haris lagi.


" Terserah apa yang mau kau lakukan padanya, kalau perlu tukar saja otaknya dengan beberapa otak karyawan kita di kantor." ucap Alder lagi.


" Ha?" ucap Haris semakin tidak mengerti perkataan tuannya barusan.


" Kalau ku bilang lakukan ya lakukan!" ucap Alder setengah berteriak karena melihat wajah bingung Haris.


" Baik baik tuan saya laksanakan" ucap Haris kemudian buru buru melangkah keluar sebelum Alder kembali mengamuk.

__ADS_1


__ADS_2