
Pagi harinya
Novela menuruni satu persatu anak tangga menuju ke arah dapur. Perasaannya pagi ini benar benar lega karena ternyata semalam benar benar tidak terjadi apapun, padahal tadinya Novela sudah berpikir yang tidak tidak mengingat Alder merupakan pria dewasa yang tentu saja memiliki hasrat dan gairah.
"Mau kemana bi?" tanya Novela ketika melihat Rina menenteng paper bag di tangannya.
"Mau ke supermarket belanja bulanan non." ucap Rina yang lantas membuat Novela tercetus sebuah ide yang mungkin akan terasa asyik baginya.
"Aku mau ikut boleh?" tanya Novela dengan wajah memelas berharap Rina mengijinkannya ikut bersamanya.
"Tidak boleh!" ucap Alder yang melangkah mendekat ke arah keduanya. Novela menatap kedatangan Alder dengan raut wajah yang cemberut, membuat Alder semakin gemas akan raut wajah Novela yang mirip dengan bebek. "Tidak boleh asalkan..." ucap Alder kemudian sambil menunjuk ke arah pipinya, seakan meminta Novela untuk menciumnya.
Novela yang melihat syarat tersebut nampak sumringah karena menganggap itu hanya sebuah syarat sepele, hingga kemudian tanpa berpikir dahulu Novela langsung mencondongkan tubuhnya dan mencium pipi Alder hingga membuat wajah Alder bersemu merah. Sedangkan Rina yang menyaksikan hal itu hanya bisa menahan senyumnya menyaksikan kebucinan bosnya.
"Ups" ucap Novela yang baru sadar dengan perbuatannya. Alder yang tak ingin menyianyiakan kesempatan yang ada lantas langsung ganti mencium pipi Novela, hingga membuatnya diam membeku akan perlakuan Alder barusan.
"Hati hati di jalan dan lekaslah pulang, aku akan menunggu mu di rumah." ucap Alder kemudian sambil mengacak acak rambut Novela dengan gemas, setelah itu melenggang pergi dari sana dengan senyum yang mengembang.
Novela yang mendapat perlakuan itu tentu saja tidak bisa berkata kata lagi, rasanya seperti nyes dan langsung masuk ke dalam. Benar benar membuat Novela seakan terbang melayang.
"Non jadi ikut?" tanya Rina kemudian sambil sedikit mengulum senyum kala melihat ekspresi wajah Novela.
"Eh iya ja.. jadi jadi... ayo kita berangkat." ucap Novela kemudian melangkahkan kakinya, namun bukannya keluar dari mansion malah berjalan menuju anak tangga.
"Eh eh non pintu utama ada di sebelah sana." ucap Rina kemudian kala melihat Novela melangkah hendak menaiki tangga.
__ADS_1
"Oh iya lupa." ucap Novela kala mendengar panggilan dari Rina sambil berbalik badan kemudian melangkah ke luar, sedangkan Rina yang melihat kelakuan absurd Novela hanya geleng geleng kepala.
********
Supermarket
Hampir dua jaman lebih Rina dan Novela berkeliling mencari kebutuhan bulanan yang diperlukan. Namanya seorang perempuan jika di suruh belanja pasti akan kalap mata dan mengambil semuanya yang lewat di depan mata mereka, meski terkadang hanya berbeda warna dan bentuk saja. Itu juga lah yang di lakukan Novela saat ini, hingga Rina harus berkali kali mengingatkan Novela bahwa benda yang tengah di ambil Novela sudah ada di troli.
Novela hanya terkekeh geli melihat sikap protektif yang di tunjukkan oleh Rina, mendapatkan omelan dari Rina entah mengapa rasanya sangat bahagia, seakan membuat Novela teringat dengan ibunya yang telah tiada.
"Andaikan ibu masih ada, mungkin sekarang aku sudah mendengar omelannya." ucap Novela dalam hati sambil menatap ke arah Rina yang tengah fokus memperhatikan belanjaan di troli.
Setelah Rina memastikan semua perlengkapan dan kebutuhan selama sebulan sudah terpenuhi, keduanya lantas berjalan menuju ke kasir untuk membayar belanjaan mereka. Satu persatu belanjaan mulai di hitung oleh kasir, Novela yang merasa jenuh menunggu lantas mengatakan kepada Rina dirinya akan menunggu di kursi depan. Rina yang melihat hal itu hanya mengiyakan permintaan Novela.
Hingga kemudian tubuhnya di lempar pada sebuah gang kecil yang terletak di samping supermarket.
"Putra!" ucapnya cukup terkejut kala pria yang menarik kasar tangannya adalah Putra.
"Lama tidak bertemu Ane!" ucap Putra sambil menyeringai ke arah Novela, membuatnya lantas menelan salivanya kasar kala melihat sikap Putra yang seperti ini.
"Apa mau mu sebenarnya?" tanya Novela kemudian sambil berusaha pergi dari sana. Namun sayangnya Putra yang mengetahui hal itu, lantas menggamit tangan Novela dan menempelkannya pada tembok dengan kasar.
"Lepaskan aku!" ucap Novela kemudian sambil terus berusaha memberontak.
"Siapa kau sebenarnya?" ucap Putra kemudian yang lantas membuat Novela langsung terdiam. "Melihat wajah terkejut mu itu aku yakin kau menyimpan sebuah rahasia besar, benar bukan?" imbuhnya lagi.
__ADS_1
"Jangan gila kamu, lepaskan aku! jika tidak maka aku akan berteriak." ucap Novela mencoba mengancam Putra. Namun bukannya takut, Putra malah tersenyum menyeringai sambil mengeratkan cengkraman tangannya pada kedua pergelangan tangan Novela, membuat Novela sedikit meringis kala merasakan sakit pada pergelangan tangannya.
"Kau belum mengenal ku rupanya. Jika kau berbuat gila aku bahkan bisa berbuat lebih gila dengan mu, camkan itu!" ucap Putra lagi kali ini dengan nada yang mengancam.
Setelah puas menakut nakuti Novela, Putra pantas langsung melenggang pergi dari sana kala melihat Rina celingukan mencari keberadaan Novela. Novela menggenggam pergelangan tangannya yang nampak memerah karena cengkraman Putra tadi.
"Benar benar laki laki gila." gerutu Novela sambil menatap kepergian Putra hingga menghilang dari pandangannya.
Sementara itu dari arah depan Rina yang memang sedang mencari keberadaan Novela, lantas langsung menepuk punggung Novela pelan kala melihatnya berdiri di gang kecil sebelah samping supermarket, membuat Novela sedikit terkejut karena saking fokusnya menatap punggung Putra hingga menghilang dari pandangannya.
"Saya mencari nona sedari tadi, apa yang sedang nona lakukan di sini?" tanya Rina kemudian.
"Tadi ada..." ucap Novela namun terpotong. "Tidak mungkin aku jujur pada bi Rina bukan? lagi pula ini masalahku tentu aku harus bisa menyelesaikannya sendiri, cukup sudah tuan Alder kesusahan oleh ku dan aku tidak ingin melibatkan bi Rina juga dalam masalah ku." ucapnya kemudian dalam hati.
"Ada siapa non? jangan bikin bibi penasaran deh non." ucap Rina lagi dengan tatapan penuh tanda tanya menanti jawaban dari Novela.
"Sudah lupakan saja tidak terlalu penting juga, ayo kita pulang." ucap Novela sambil menarik tangan Rina untuk kembali ke mobil dan bergegas pulang.
"Apa anda yakin non?" tanya Rina yang masih di buat penasaran oleh Novela.
"Iya, udah yuk... nanti kalau kelamaan Alder keburu marah." ucapnya kemudian yang di balas Rina dengan anggukan.
Keduanya kemudian lantas melangkahkan kaki mereka kembali ke dalam mobil dan pulang ke mansion.
Bersambung
__ADS_1