
Sementara itu suasana di rumah yang di tempati oleh Neta terlihat riuh karena ada beberapa orang berbadan kekar tiba tiba saja datang dan mengeluarkan semua barang barang Neta dan juga Ranti, mungkin lebih tepatnya hanya beberapa pakaian saja karena memang segala hal yang ada di rumah tersebut adalah milik orang tua Novela.
"Apa hak kalian mengusir kami ha? rumah ini milik kami!" teriak Neta tidak mau kalah dengan para pria berbadan kekar itu.
Mendengar hal itu salah satu pria bertubuh tegap lantas mendorong Neta cukup keras hingga ia tersungkur ke lantai.
"Mama!" teriak Ranti kala melihat Neta sudah terduduk di bawah.
Ranti yang melihat hal itu lantas berlarian mendekat ke arah Neta kemudian langsung membantunya bangkit berdiri.
"Siapa yang menyuruh kalian sebenarnya?" tanya Ranti kemudian dengan kesal namun mereka hanya diam dan enggan menjawab pertanyaannya.
Di saat suasana kian memanas, Alder dan Novela lantas berjalan dengan anggunnya mendekat ke arah keduanya, tatapan bingung nampak terlihat dari Neta maupun Ranti kala melihat Alder dan juga Ane atau Novela lebih tepatnya datang ke rumah mereka.
"Aku yang menyuruhnya, rumah kalian sudah resmi menjadi milikku." ucap Alder dengan singkat.
"Apa? bagaimana bisa? jangan bercanda Al?" tanya Neta tidak percaya.
"Jangan sebut nama ku dengan mulut kotor mu karena aku tidak menyukainya." ucap Alder dengan nada yang tidak suka. "Ren tunjukan berkasnya pada mereka." ucap Alder kemudian memberikan perintah kepada Rendy.
Rendy yang mendengar hal itu lantas mulai mendekat ke arah Neta dan Ranty untuk kemudian menunjukkan berkas berkasnya, baik Neta maupun Ranty lantas terkejut bukan main apalagi ketika keduanya jelas jelas melihat tanda tangan Novela di sana.
"Bagaimana bisa ini terjadi? di mana kalian menemukan anak sialan itu?" ucap Neta dengan kesal.
Mendengar hal itu tubuh Novela nampak sedikit bergetar seperti ada trauma tersendiri kala ia berhadapan langsung dengan Neta. Beruntungnya Alder yang paham akan kondisi Novela lantas menggenggam tangan Novela dengan erat, berusaha sebisa mungkin membuat wanita di sebelahnya ini untuk tetap tenang dan merasa aman.
"Urus mereka." ucap Alder kemudian memberikan perintah.
Mendapat perintah dari Alder beberapa bodyguard itu lantas langsung menyeret tubuh Neta dan juga Ranty keluar dari rumah itu. Ada terbersit perasaan bersalah melihat Neta dan juga Ranty di perlakukan seperti itu, hanya saja ia mencoba untuk tetap bertahan karena seseorang yang lemah akan terus tertindas dan kalah, sedangkan Novela tidak mau itu terjadi, cukup sudah ia mengalah selama ini.
Alder mengeratkan genggaman tangannya pada Novela, seakan tahu bahwa Novela nampak ragu akan apa yang dilakukannya kali ini.
__ADS_1
"Hentikan!" teriak Putra kemudian dari arah depan membuat semua orang lantas menatap ke arahnya.
Melihat kedatangan Putra, Novela nampak terkejut ia sedikit bergerak mundur namun di tahan oleh Alder.
Alder mengeratkan genggaman tangannya lagi seakan mengatakan kepada Novela bahwa tidak akan terjadi apa apa selama Alder bersamanya. Alder kemudian lantas memberikan isyarat kepada Rendy untuk membereskan Putra.
Dua orang bodyguard nampak datang mendekat ke arah Putra untuk menghadangnya agar tidak bisa mendekat.
"An ada apa ini? bukankah kamu mengatakan ingin mencari wanita bola itu? kenapa malah begini?" teriak Putra sambil berusaha untuk terus mendekat ke arah Ane ingin meminta penjelasan.
"Jaga bicara mu! kau hanya orang luar jangan ikut campur!" ucap Alder dengan kesal karena mendengar panggilan itu.
"Tuan, ijinkan saya berbicara dengan Ane." ucap Putra memohon.
Sedangkan Ranti dan juga Neta yang mendengarkan semua ucapan Putra lantas di buat kesal karena bisa bisanya Putra menyerahkan surat penting kepada orang lain tanpa seijinnya. Neta lantas bangkit dan langsung melangkah mendekat ke arah Putra.
Plak
"Kau! bisa bisanya kau yang orang luar menyerahkan surat berharga begitu saja tanpa seijin ku ha?" ucap Neta setengah berteriak.
"Saya... saya... saya minta maaf tan." ucap Putra dengan gelagapan karena ia juga bingung harus menjelaskannya bagaimana.
"Mama hentikan!" teriak Ranti kala melihat Neta terus memarahi Putra.
Sementara Alder yang melihat adegan drama keluarga itu lantas memberikan perintah untuk mengusir ketiganya dari sana, setelah itu Alder mengajak Novela untuk masuk ke dalam rumah meninggalkan kebisingan yang sedang terjadi di sana.
***
Di dalam rumah peninggalan orang tua Novela.
Novela nampak masuk ke dalam dengan mata yang berkaca kaca, ia benar benar tidak menyangka akan mendapatkan kembali hak nya.
__ADS_1
"Bu Vela pulang... yah Vela sudah berhasil." ucap Novela dalam hati sambil menatap setiap sudut ruangan di rumahnya yang tidak berubah sama sekali sejak dulu.
Alder mendekat ke arah Novela lalu memegang pundaknya, membuat Novela lantas langsung menatap ke arah Alder.
"Apa kamu bahagia sekarang?" tanya Alder yang lantas di balas anggukan oleh Novela dengan full senyum di wajahnya. "Aku pun bahagia karena berhasil membuat wanita ular itu tersiksa, bukankah ini sekali dayung dua pulau terlampaui?" batinnya dalam hati kemudian yang tentunya tidak akan bisa di dengar oleh Novela.
"Terima kasih banyak tuan." ucap Novela dengan tulus yang di balas Alder dengan senyuman.
*****
Sedangkan di luar pagar rumah peninggalan orang tua Novela terlihat Neta, Ranti dan juga Putra terlihat frustasi dengan apa yang baru saja terjadi pada mereka.
Putra kali ini benar benar merasa telah di tipu oleh Ane, namun tidak bisa berbuat apa apa lagi selain hanya bisa menerimanya saja. Neta yang melihat wajah kunyuk Putra lantas langsung melangkah ke arah Putra kemudian menamparnya kembali untuk yang kedua kalinya.
"Kau itu bodoh atau bagaimana? bisa bisanya kau tertipu dengan wanita ular seperti dia ha?" ucap Neta dengan nada setengah berteriak ke arah Putra sambil menunjuk nunjuk ke dalam rumah.
"Saya benar benar tidak tahu kalau saya hanya dimanfaatkan tan, saya..." ucap Putra namun tercekat karena seberapa banyak ia menjelaskan pun Neta tidak akan percaya padanya.
"Sekarang kita harus bagaimana ma?" tanya Ranti kepada ibunya.
"Kita cari tempat tinggallah!" ucap Neta dengan kesal sambil melirik ke arah Putra membuat Ranti yang juga bingung lantas mengikuti arah tatapan ibunya.
"Maaf tante saya tidak bisa, ada orang tua saya di rumah sekarang." ucap Putra yang tahu akan apa maksud dari tatapan Neta dan juga Ranti.
"Dasar tidak berguna! pergi sana kau!" ucap Neta dengan ketus sambil sedikit menendang kaki Putra agar menjauh.
Putra yang mendapat perlakuan itu tentu saja tersinggung kemudian memilih pergi dari sana.
"Dengan senang hati tante Neta yang terhormat." ucapnya kemudian melenggang pergi dari sana.
Bersambung
__ADS_1