
Suasana malam hari di sebuah taman di pusat ibu kota terlihat Novela tengah duduk menunggu kedatangan Alder di sana sambil menatap ke arah bintang bintang yang begitu indah menghiasi langit malam ini.
Novela menatap langit malam sambil tersenyum kala mengingat perhatian yang di berikan Alder ketika menyelamatkannya dari Rival hingga di lift tadi, bagi Novela hal seperti itu terasa seperti mimpi indah yang tidak pernah datang menghampirinya.
" Ternyata rasanya benar benar menyenangkan, ketika ada seseorang yang berada di pihak mu dan siap membela mu kapan pun." ucap Novela dalam hati sambil tersenyum membayangkan kejadian tadi.
Dari arah kejauhan Alder datang dengan membawa kantung kresek dan juga dua kopi di tangannya.
" Apa yang kau lakukan? kenapa senyum senyum tidak jelas seperti itu? apa otak mu sudah bergeser?" ucap Alder sambil duduk di sebelah Novela.
Mendengar hal itu Novela lantas terkejut dan langsung menatap ke arah sumber suara.
" Tidak ada tuan hanya menatap ke arah bintang bintang yang bertaburan indah di langit malam." ucap Novela sambil tersenyum yang lantas membuat Alder mengerutkan keningnya dengan bingung.
" Aneh" ucap Alder lirih.
" Kenapa tuan?" ucap Novela karena sepertinya ia barusan mendengar ucapan Alder namun tidak terlalu jelas.
" Tidak ada, ini pakailah untuk mengobati luka di sudut bibir mu serta pergelangan tangan mu." ucap Alder sambil memberikan salep kepada Novela dan menyodorkan satu cup kopi pada Novela.
" Terima kasih tuan." ucap Novela sambil menerima salep tersebut dan mengoleskannya pada sudut bibir Novela.
Alder hanya memperhatikan gerak gerik Novela, ia benar benar heran karena gadis pada umumnya pasti akan menangis dan merengek karena luka itu, bahkan kejadian tadi yang menimpa Novela adalah yang paling parah hendak menjadi korban pemerkosaan, namun yang membuat Alder heran adalah Novela masih bisa tersenyum di saat segala hal yang menimpanya tadi, bukankah dia wanita yang aneh?
" Apakah tidak sakit? kenapa kau masih bisa tersenyum? bukankah di saat seperti ini semua wanita akan menangis dan ketakutan." ucap Alder yang langsung menghentikan kegiatan Novela yang memberikan salep pada luka lukanya.
__ADS_1
Novela lantas tersenyum kembali mendengar ucapan Alder.
" Apa tuan sungguh ingin mendengar alasannya?" tanya Novela karena sepertinya ia merasa Alder tidak akan mengerti meski ia menceritakan kisahnya mengingat sikap Alder yang sedingin kutub utara tersebut, mana paham Alder dengan penderitaan korban bullying.
" Jika kau tidak ingin cerita, tak perlu diceritakan." ucap Alder sambil menyeruput kopi yang ia bawa tadi.
" Eh... dia sungguhan ingin mendengarnya?" ucap Novela dalam hati memandang Alder dari arah samping.
" Bagi saya segala hal yang baru saja terjadi padaku sudah biasa tuan karena aku sudah sering, bahkan mendapatkan hal yang lebih parah dari ini." ucap Novela dengan nada suara yang tenang.
Mendengar hal itu Alder lantas semakin bingung di buatnya.
" Maksudmu kau sering hendak di perkosa seperti itu?" ucap Alder dengan bingung sambil menatap ke arah Novela mencari jawaban atas pertanyaannya.
Novela yang mendengar hal itu lantas langsung tertawa terpingkal pingkal karena pertanyaan Alder barusan.
Novela kemudian lantas menghentikan tawanya sambil mengusap sudut matanya yang basah karena tertawa.
" Tuan apa anda lupa penampilan ku dulu seperti apa? gadis bulat, gendut, berjerawat, dan buluk mana ada orang yang sudi melecehkannya, bahkan untuk melirik saja mereka tidak akan mau." ucap Novela.
" Lalu?" ucap Alder lagi masih tidak mengerti.
" Maksud saya dulu saya sering menerima hal seperti ini bukan berarti tentang pelecehan lebih tepatnya saya menjadi korban bullying tuan, itulah sebabnya saya tidak melanjutkan pendidikan saya karena saya trauma akan lingkungan sekolah yang menurut saya lebih seram dari pada hanya melihat sosok tak kasat mata." ucap Novela yang lantas membuat Alder langsung menatap ke arahnya.
" Tuan pasti tahu hal sepele seperti ini, karena ku yakin tuan pasti sudah menyelidiki tentang saya, hanya saja tuan tidak akan pernah tahu rasa traumanya seseorang korban bullying, untuk luka yang kecil seperti ini sungguh sangat sepele, aku bahkan pernah mendapatkan patah tulang bagian kaki karena terjatuh dari tangga akibat ulah teman sekelas ku sendiri yang mengatakan bahwa dia tidak menyukai ku di kelas, jadi dia membuatku jatuh dari tangga agar aku tidak bisa masuk sekolah selama beberapa hari. Ya apa yang dilakukannya sesuai dengan prediksinya cedera di kaki ku cukup parah waktu itu bahkan aku sampai ijin tidak masuk sekolah selama berbulan bulan." ucap Novela menceritakan kisahnya dengan tenang seakan akan bukan sebuah kenangan buruk yang baru saja ia ceritakan.
__ADS_1
Alder yang mendengar hal itu lantas terkejut dan menatap tak percaya ke arah Novela.
" Apa kau tidak melaporkan kelakuan teman mu? itu adalah tindakan kriminal bagaimana bisa kau hanya pasrah menerimanya." ucap Alder dengan menggebu-gebu.
" Tuan melaporkan pelaku pembulian tidak semudah itu butuh bukti dan juga backing yang kuat, orang tua ku mana bisa melawan orang tuanya yang notabennya adalah anak seorang pejabat, jadilah aku hanya mengatakan pada kedua orang tuaku bahwa aku tersandung dan jatuh dari tangga, setidaknya itu lebih baik daripada memperumit keadaan orang tuaku." ucap Novela dengan nada pasrah.
Baru saja mengatakan hal itu Alder dengan spontan langsung menyentil jidat Novela yang lantas membuat Novela terkejut di buatnya.
" Dasar gadis bodoh, pantas saja kau slalu di buli." ucap Alder sambil menyentil dahi Novela.
" Aw sakit tuan, kenapa jadi saya yang bodoh?" ucap Novela sambil mengusap keningnya perlahan karena merasakan perih akibat sentilan Alder di sana.
" Iya kau bodoh, harusnya kau coba lawan mereka, banyak cara melawan mereka tidak harus kuku di balas kuku, kau kan bisa bermain cantik." ucap Alder dengan gemas melihat tingkah gadis di depannya ini yang terlalu polos dan hanya pasrah kepada takdir.
" Tuan janganlah berputar putar seperti ini aku bingung dan tidak mengerti." ucap Novela yang tidak mengerti maksud ucapan dari Alder.
" Baiklah, besok siang lihatlah siaran berita di televisi kamu pasti akan menemukan jawabannya." ucap Alder dengan senyum menyeringai.
Novela yang mendengar ucapan itu malah di buat semakin bingung.
" Maksud anda tuan?" tanya Novela lagi.
" Bisakah kau tidak terus bertanya dan lakukan saja apa yang aku katakan?" ucap Alder dengan menatap tajam ke arah Novela yang langsung membuat Novela terdiam seribu bahasa.
" Baiklah tuan" ucap Novela sambil menunduk karena ia tahu Alder sedang kesal padanya sekarang.
__ADS_1
Bersambung