
Melihat tatapan itu Novela lantas menjadi ketar ketir karena ia belum menyiapkan segala sesuatunya tentang apa yang harus ia lakukan selanjutnya.
Di saat Novela tengah berpikir tentang apa yang harus ia lakukan, perlahan lahan wajah Putra mulai mendekat dan semakin mendekat ke arah Novela, sementara Novela hanya terdiam kaku tidak menolak maupun mengiyakan apa yang akan di lakukan Putra padanya dengan keringat yang mulai membasahi dahinya sedari tadi.
" Matilah aku! apa selanjutnya yang harus aku lakukan? harusnya aku menyiapkan rencana cadangan terlebih dahulu, mana ku tahu kalau Putra akan langsung tergoda hanya dengan sekali gerakan, dasar bodoh kau Vela, tuan tidak bisakah anda menolong ku?" ucap Novela dalam hati dengan perasaan was-was.
Ketika wajah Putra semakin dekat dan semakin dekat dengan bibir Novela, tiba tiba saja suara klakson mobil terdengar cukup nyaring yang lantas menghentikan aksi Putra untuk mencium bibir ranum milik Novela.
Tin tin tin.
" Cepatlah! apa yang kalian lakukan sebenarnya di lampu merah ha!" teriak salah satu pengemudi yang tidak sabar karena mobil Putra tidak kunjung jalan juga.
Putra menatap ke arah belakang dengan perasaan kesal kemudian membunyikan klakson miliknya lalu langsung melajukan mobilnya kembali.
" Syukurlah aku masih bisa selamat kali ini." ucap Novela dalam hati lega setelah adegan ciuman itu tidak jadi.
Setelah kejadian di lampu merah tadi baik Putra maupun Novela hanya terdiam tanpa kata kata hingga mobil Putra berhenti tepat di halaman mansion milik Alder.
" Terima kasih banyak atas waktunya hari ini." ucap Novela dengan tersenyum manis sambil menatap ke arah Putra ketika ia telah turun dari mobil milik Putra.
" Dengan senang hati, apakah ada lain kali bagi kita An?" tanya Putra penuh dengan harap.
" Tentu, why not?" ucap Novela sambil tersenyum kemudian menutup pintu mobil dan melambaikan tangan pada Putra hingga mobil yang Putra tumpangi hilang dari pandangannya.
" Ogah banget gue ketemu lagi dasar tukang modus! bisa bisanya dulu aku jatuh cinta padanya." ucap Novela dengan mengomel sambil melangkahkan kakinya masuk ke mansion milik Alder.
__ADS_1
*************
Sementara itu setelah mengantar Novela yang ia kenal sebagai Ane pulang, Putra tak henti hentinya tersenyum dengan raut wajah yang berbinar cerah.
Di putarnya lagu MP3 di mobilnya, Putra mulai bersenandung kecil dengan jari jari tangan yang di gerakkan sedikit pada setir mobil mengikuti irama lagu tersebut.
" Kenapa aku merasa sangat cocok sekali dengan Ane, sungguh perempuan yang luar biasa, aku tidak akan membuang waktu lagi untuk memilikinya." ucap Putra sambil sesekali tersenyum mengingat segala hal yang dilaluinya bersama Novela mulai dari galeri seni hingga makan siang hari ini begitu terukir indah di benak Putra.
" Wajah cantik yang khas perpaduan antara gadis eropa dan juga asia dengan kulit putih bersih dan hidung mancung membuat daya tarik tersendiri bagiku, kau benar benar cantik Ane, aku sungguh mengagumimu." ucap Putra masih dengan tersenyum bak orang yang sedang kasmaran.
************
Mansion milik David
Terlihat Angelina tengah mondar mandir di kamarnya memikirkan sebuah rencana yang efektif untuk menjauhkan Alder dari David, lebih tepatnya menjauhkan harta David agar tidak jatuh ke tangan Alder.
" Aku harus tetap tenang dan mencari solusi secepatnya sebelum semuanya terlambat, David pasti tidak akan mengampuniku jika mengetahui aku dalang di balik segala hal yang menimpa Alder dan ibunya." ucap Angelina pada diri sendiri.
" Harta warisan David tidak boleh sampai jatuh ke tangan Alder. Aku harus pikirkan sebuah cara agar David bisa melupakan segalanya tentang Alder, toh bukankah Alder sudah memiliki kehidupannya sendiri? jadi aku tidak terlalu kejam bukan?" ucap Angelina pada diri sendiri.
Angelina kemudian lantas melangkahkan kakinya mendekat ke arah nakas lalu mengambil ponsel miliknya dan mendial nomor Steven di sana.
" Yes mom." ucap Steven kala sambungan telpon dari Angelina ia angkat.
" Apa kamu tidak merindukan mommy steve?" tanya Angelina pada putra angkatnya sekedar basa basi, padahal tujuan sebenarnya Angelina menelpon bukanlah untuk sekedar bertegur sapa.
__ADS_1
" Ayolah mom, apalagi kali ini? kenapa mommy suka sekali berbasa basi hem? aku tahu mommy menelpon ku pasti menginginkan sesuatu bukan?" ucap Steven yang tahu betul akan sifat Angelina.
" Apakah kamu terganggu dengan hal itu?" tanya Angelina dengan kesal karena Steven mengetahui rencananya meski tidak sepenuhnya yang Steven ketahui.
" Tentu saja tidak, katakanlah mom ada apa lagi kali ini?" ucap Steven lagi mencoba menenangkan Angelina yang tengah merajuk.
" Pulanglah Steve tidakkah kau ingin mengembangkan perusahaan induk dan tinggal bersama mommy di sini?" ucap Angelina mencoba membujuk Steven agar mau pulang kembali ke Indonesia meskipun mungkin Steven tidak akan langsung menyetujuinya dan selalu beralasan bahwa Alder lah yang lebih pantas melakukannya.
Mendengar ucapan Angelina, Steven hanya terdiam tanpa menjawab ucapan Angelina barusan.
" Steve apa kau mendengar mommy?" tanya Angelina lagi karena Steven tak kunjung menjawab ucapannya.
" Mom kenapa mommy membahas ini lagi? perusahaan induk bukanlah wewenang ku, ada kak Alder yang lebih berhak mengelola serta mewarisinya. Bukankah kita sudah membahasnya berulang kali mom? come on mom perusahaan dady tidak hanya perusahaan induk, kenapa mommy sangat terobsesi dengan perusahaan induk?" ucap Steven dengan nada kesal karena Angelina selalu saja sering kali mendesaknya untuk memasuki perusahaan induk.
" Anak ini sungguh tidak bisa di bujuk, padahal sudah puluhan kali aku membujuknya tetap saja dia tidak gentar sedikitpun, harusnya dulu aku memilih anak yang berotak bodoh saja agar mudah untuk ku per alat, jika sudah begini aku juga yang susah." ucap Angelina dalam hati kala mendengar ucapan Steven barusan.
" Baiklah baiklah jika kamu tidak menginginkannya, tapi kamu tetap bisa pulangkan? kalau kamu tidak mau perusahaan induk It's oke mommy tidak akan memaksamu lagi." ucap Angelina kembali membujuk Steven.
" Baiklah mom, tapi aku tidak bisa janji aku akan menyelesaikan urusanku dulu di sini." ucap Steven.
" Terima kasih sayang." ucap Angelina.
" Love you mom." ucap Steven.
" Love you too." ucap Angelina kemudian memutuskan sambungan telponnya.
__ADS_1
" Baiklah tidak perlu terlalu terburu, kita bisa melakukannya dengan perlahan, lagi pula Alder tidak terlalu berminat dengan harta warisan David, bukankah itu menguntungkan ku?" ucap Angelina pada diri sendiri setelah sambungan telponnya terputus.
Bersambung