Ku Sangka Kau Malaikat

Ku Sangka Kau Malaikat
Selidiki dia!


__ADS_3

Mansion milik Alder


Rina dan Bagus melangkahkan kakinya memasuki mansion membawa beberapa kantung kresek besar yang berisi belanjaan.


Sedangkan Novela terus melangkahkan kakinya menuju taman samping untuk merefresh pikirannya sejenak.


Pertemuannya dengan Putra tadi benar benar membuat Novela ketar ketir. Satu sisi ia bahagian karena sudah berhasil merebut apa yang seharusnya menjadi miliknya, namun di sisi lain Novela takut segalanya akan terbongkar. Novela terlanjur senang menjadi Ane, rasanya seakan semua orang menghormatinya, sungguh berbanding terbalik dengan dirinya sendiri yang selalu diremehkan, direndahkan, dan berakhir dengan pembulian. Kehidupan keduanya nampak sekali perbedaannya.


Novela menghela nafasnya berkali kali mencoba menenangkan hatinya. Novela mencoba untuk berpikir positif dan menguatkan hatinya bahwa tidak akan terjadi apa apa.


"Kenapa kamu ada di sini? aku bahkan mencari mu ke mana mana." ucap sebuah suara yang sangat di kenal Novela nampak berjalan semakin dekat ke arahnya.


"Oh tuan, aku hanya melepas penat saja. Ternyata memilah dan memilih kebutuhan bulanan cukup menguras tenaga." ucap Novela kemudian mencoba mencari alasan agar Alder tidak mencercanya.


Alder berhenti tepat di sebelah Novela kemudian mengambil duduk di dekatnya. Hanya saja pandangannya kemudian terhenti pada pergelangan tangan Novela yang memerah, membuat Alder bertanya tanya tentang penyebabnya.


"Bukankah hari ini cuacanya sangat terik tuan." ucap Novela sambil menarik kedua tangannya kebelakang, seakan tahu Alder tengah memperhatikan pergelangan tangannya.


Alder yang tahu Novela mencoba untuk menyembunyikannya, lantas menarik tangan Novela dan melihatnya dengan cermat.


"Apa saja yang kau lakukan di sana hingga melukai tangan mu seperti ini?" tanya Alder kemudian sambil menatap pergelangan tangan Novela.


"Tak apa aku hanya kurang hati hati tadi, karet rambut milikku terlalu erat dan aku malah menaruhnya pada pergelangan tangan, jadilah seperti ini." ucap Novela kemudian berdalih.


"Kau memang selalu saja ceroboh, tunggu di sini sebentar." ucap Alder kemudian melenggang pergi masuk ke dalam, membuat Novela bertanya tanya apa yang akan di lakukan oleh Alder.


Beberapa menit kemudian Alder nampak keluar dengan membawa sesuatu di tangannya lalu duduk kembali. Alder mulai membuka penutup salep dan langsung mengoleskannya pada pergelangan tangan Novela yang memerah.

__ADS_1


"Lain kali hati hati jangan sampai terluka lagi, kamu membuat ku khawatir." ucap Alder.


Novela yang diperlakukan seperti itu oleh Alder tentu saja hatinya langsung menghangat, ini bahkan pertama kalinya Novela diperlakukan layak seperti manusia oleh sesama.


"Apakah ini rasanya di cintai?" batin Novela dalam hati kala melihat perlakuan lembut Alder padanya.


****


Dapur


Alder melangkahkan kakinya mendekat ke arah Rina yang tengah sibuk mempersiapkan makanan untuk makan siang di dapur. Setelah mengobati pergelangan tangan Novela tadi, Alder sungguh di buat penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi, meski Novela mengatakan luka itu karena kecerobohannya, namun Alder bukanlah laki laki bodoh yang bisa di bohongi begitu saja dengan kata kata.


"Apa saja yang kalian lakukan tadi di supermarket bi?" tanya Alder secara langsung membuat Rina yang sedang fokus memasak, cukup di buat terkejut dengan kedatangan Alder yang tiba tiba.


"Eh tuan mengagetkan saja?" ucap Rina sambil mengelus dadanya pelan. "Kami tadi hanya berbelanja biasa, seperti memilih beberapa makanan dan perlengkapan pada umumnya, tidak ada yang aneh." imbuhnya kemudian sambil mengingat ingat.


"Lalu apa lagi setelah itu?" tanya Alder yang merasa tidak puas dengan jawaban yang di berikan oleh Rina barusan.


"Setelah itu kalau gak salah ketika kami berdua di kasir, nona meminta ijin untuk menunggu di kursi yang terletak di depan supermarket. Hanya saja, setelah saya selesai nona tidak ada di situ tuan, melainkan tengah berdiri mematung di gang kecil sebelah supermarket tersebut. Ketika saya tanya kenapa? nona hanya menggeleng kemudian kami pulang." ucap Rina lagi.


"Ada yang tidak beres rupanya." ucap Alder dalam hati, setelah itu melenggang pergi dari sana, membuat Rina lantas menjadi kebingungan akan sikap tuannya itu.


"Apa telah terjadi sesuatu dan aku tidak tahu ya?" ucap Rina dalam hati sambil melanjutkan kegiatan memasaknya.


*****


Sementara itu di sebuah rumah kontrakan yang kecil dan juga pengap, terdengar Neta terus menggerutu tak henti hentinya merutuki kebodohan putrinya itu.

__ADS_1


"Lihatlah sekarang kita sudah tidak punya apa apa lagi! di mana sekarang calon suami mu itu? apakah itu yang kau sebut cinta!" omel Neta dengan nada setengah berteriak, membuat Ranti lantas menutup kedua telinganya dengan rapat karena muak mendengar ocehan ibunya setiap hari.


"Diam lah ma, aku sudah capek mendengar omelan mu sejak kita pindah di sini, apa mama tidak lelah terus seperti itu?" ucap Ranti pada akhirnya.


"Oh ya tentu saja lelah, lelah menjadi orang susah! seharusnya kamu cari cara agar kita bisa kembali seperti dulu bukan hanya diam saja di rumah. Apa kamu pikir duit itu akan langsung turun dari langit gitu!" ucap Neta sambil melotot ke arah Ranti.


"Ma.."


Tok tok tok


Suara ketukan pintu rumah terdengar di telinga keduanya, membuat mereka yang semula saling adu mulut mendadak diam dan saling pandang satu sama lain, seakan bertanya siapa yang sedang mengetuk pintu rumah mereka.


Ranti yang penasaran lantas mulai bangkit dan melangkahkan kakinya ke arah pintu kemudian membukanya perlahan. Tepat setelah pintu itu terbuka seorang wanita cantik dengan pakaian branded nan elegan tengah berdiri sambil menatap jijik ke arah keduanya.


"Nyonya Angelina!" ucap Ranti yang terkejut kala melihat kedatangan Angelina ke rumah mereka.


"Ternyata kalian di tempat kumuh ini, susah payah aku mencari kalian ke sana kemari. Tadinya ku kira kalian ingin kabur dari ku, ternyata kalian di depak oleh Ane rupanya." ucap Angelina dengan sinis sambil masuk ke dalam namun tidak duduk dan tetap berdiri dengan angkuhnya.


"Saya... tidak pernah kabur dari anda nyonya, sungguh." ucap Neta kemudian mencoba mencari aman karena ia tahu tempramen Angelina sangatlah buruk.


Mendengar hal itu Angelina hanya melengos, kemudian melempar sebuah map yang berisi beberapa foto foto dan juga surat surat yang Neta tak tahu apa itu.


"Selidiki Ane secepatnya! ada yang tidak beres dengan gadis itu. Setelah dipikir pikir orang yang sudah mati tidak akan hidup kembali bukan?" ucapnya kemudian dengan tersenyum iblis.


"Apa imbalannya untuk saya nyonya?" tanya Neta dengan gercep seakan tak ingin menyianyiakan kesempatan yang ada.


"Lakukan saja tugas mu dengan baik, jika kau berhasil aku akan memberikan hadiah khusus untuk mu." ucap Angelina kemudian.

__ADS_1


"Akan saya kerjakan dengan baik perintah anda nyonya." ucap Neta dengan senyum yang mengembang di bibirnya.


Bersambung


__ADS_2