
Di dalam mobil yang dikendarai oleh Alder, Novela nampak terdiam memikirkan kembali ucapan demi ucapan yang keluar dari mulut Neta waktu di galeri seni. Entah mengapa, dari nada bahasanya Neta seperti seakan mengetahui sesuatu hal yang penting tentang dirinya. Novela terus mencoba menerka apa itu namun pikirannya malah terus mengulang pertanyaan yang sama, apakah Neta mengetahui siapa Ane yang sebenarnya?
Novela menatap kosong ke arah jalanan dari balik jendela kaca mobil. Alder melirik ke arah Novela sekilas, ia tahu ada sesuatu yang membuat Novela gelisah namun Alder tidak tahu apa itu. Alder kemudian lantas menggenggam erat tangan Novela, membuat Novela yang tengah melamun lantas sedikit terkejut dengan perlakuan Alder yang tiba tiba itu.
"Jangan terlalu dipikirkan, selagi ada aku kamu akan tetap aman." ucap Alder dengan pandangan yang masih tetap fokus menatap jalanan sekitar.
Novela yang mendengar hal itu hanya bisa diam, seperti enggan menanggapi ucapan Alder barusan. Hanya saja, entah mengapa dan apa penyebabnya, sebuah pertanyaan gila tiba tiba terlintas di benaknya.
"Boleh aku menanyakan sesuatu tuan?" tanya Novela kemudian dengan ragu ragu takut Alder akan marah dengan pertanyaannya. "Siapa Ane?" tanyanya kemudian dengan nada yang lirih.
"..."
"Maaf tuan sepertinya saya telah lancang." ucap Novela kemudian yang sadar akan pertanyaannya barusan pasti telah menyinggung Alder.
Alder lantas mengusap lembut rambut Novela dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya memegang setir.
"Tak perlu khawatir, Ane adalah bagian dalam masa lalu saya dan itu tidak penting. Kini hanya tersisa kamu masa depan ku dan akan selalu seperti itu." ucap Alder kemudian yang lantas membuat pipi Novela merona di buatnya.
Mobil yang dikendarai oleh Alder perlahan mulai memasuki halaman mansion dan berhenti di parkiran.
"Apa kamu tidak mau turun?" tanya Alder kemudian kala hanya melihat Novela dengan pipi merah merona diam membisu tak bergerak maupun bereaksi sama sekali.
"Eh iya turun tuan..." ucap Novela kemudian langsung turun dari mobil dengan salah tingkah.
Keduanya lantas turun dan mulai berjalan memasuki mansion, suasana yang hening mendadak terjadi di antara keduanya, membuat Novela yang berjalan lebih dulu di depan hanya terus melangkah sambil sedikit menunduk menahan malu. Sedangkan Alder terus melangkah dan mengikuti langkah kaki gadis di depannya itu.
Cukup lama Alder berjalan di belakang Novela, membuat Alder gemas dan langsung menepuk pundak Novela kala keduanya berada tepat di pintu kamar.
"Ada apa tuan?" tanya Novela kemudian dengan tatapan yang bingung.
__ADS_1
Alder tidak menjawab pertanyaan Novela, namun ia langsung menyudutkan tubuh Novela hingga mentok ke tembok dan membuat Novela tidak bisa bergerak lagi.
Alder mengusap pelan bibir Novela yang mengkilat karena sapuan lipstik di bibirnya.
Novela yang mendapat perlakuan itu rasanya seperti di bawa terbang melayang ke angkasa, terasa sedikit aliran listrik seperti tengah menyentuh tubuhnya begitu halus dan membuat tubuh Novela merinding.
Alder yang sudah tidak bisa menahan lagi hasratnya, lantas mulai mendekatkan kepalanya perlahan dan mendaratkan bibirnya pada bibir Novela. L*m*tan demi l*m*tan kecil mulai Alder layangkan kepada Novela, sedangkan Novela yang memang masih polos dalam hal beginian lantas hanya diam dan menerima tanpa adanya penolakan.
"Ini ciuman yang pertama bagi dia rupanya." batin Alder dalam hati.
Alder yang sadar ini baru pertama kalinya bagi Novela, lantas mulai memegang tengkuk Novela dan mengarahkannya mengikuti alur ritmenya. Novela yang mulai rileks, lantas dengan spontan mengalunkan tangannya membuat senyum tipis terwujud di bibir Alder sekilas.
Lama kelamaan keduanya lantas hanyut dan jatuh ke dalam permainan masing masing, Novela yang terus di tuntun Alder secara perlahan lantas mulai bisa mengimbangi permainan Alder. Dalam hati Alder benar benar bahagia melihat kemajuan permainan Novela hanya dalam beberapa menit saja, cukup lama keduanya saling menjelajahi area mulut masing masing, tanpa aba aba Alder kemudian lantas menggendong tubuh Novela layaknya bayi koala besar dan membawanya masuk ke dalam kamar untuk meneruskan hasrat dan juga kegiatan malam pertama mereka yang tertunda.
**********
Sinar mentari perlahan mulai menembus celah celah ventilasi dan masuk ke dalam kamar, Novela dan juga Alder tidur saling berpelukan mencari kehangatan satu sama lain, setelah melewati malam panas yang begitu syahdu bagi keduanya.
Novela mulai mengerjapkan kelopak matanya perlahan, kala menyadari ada sepasang tangan kokoh melingkar di perutnya.
Satu menit..
Dua menit...
Tiga menit...
Novela masih biasa saja dan belum sepenuhnya sadar dengan apa yang terjadi, sampai kemudian matanya langsung terbuka lebar dengan posisi melotot kala menyadari apa yang telah terjadi semalam.
Aaaaaaaaaaa
__ADS_1
Teriak Novela cukup keras hingga membangunkan Alder yang tengah tertidur di sampingnya.
"Ada apa?" tanyanya dengan mata yang sayu seperti masih mengantuk.
"Ki...ta ti...dur bersama?" ucapnya dengan polos membuat Alder lantas menatap bingung ke arah Novela.
"Bukankah itu wajar? kita kan sudah suami isteri." ucap Alder dengan santainya.
"Masalahnya kita kan gak nikah sungguhan tuan, kalau begini mah enak di tuan gak enak di saya!" gerutu Novela dengan kesal.
Alder yang mendengar hal itu tentu saja bingung dan semakin tidak mengerti maksud ucapan Novela barusan.
"Apa maksud mu enak di saya gak enak di kamu?" tanyanya.
"Ya iyalah, kan keperawanan saya hilang di ambil tuan tentu saja itu tidak akan bisa kembali. Jika pun nanti saya menikah lagi pasti suami saya akan mengetahui bahwa saya tidak perawan. Sedangkan tuan, walau tuan menikah dengan 10 wanita pun mereka tidak akan tahu kalau tuan sudah tidak perjaka lagi."ucap Novela dengan kesal, sedangkan Alder hanya menatap tak percaya akan ucapan yang baru saja keluar dari mulut Novela barusan.
Tak
Dengan entengnya Alder lantas menyentil jidat Novela dengan gemas karena ucapan ngelanturnya barusan.
"Tuan sakit!" teriak Novela sambil meringis dan mengusap pelan dahinya yang sedikit memerah karena sentilan itu.
"Kalau ngomong jangan mengada ngada, sesuatu yang sudah menjadi milikku tidak akan sudi ku berikan kepada orang lain walau dia mengiba sekalipun." ucap Alder dengan nada yang tegas kepada Novela. "Lagi pula yang aku nikahi kemarin adalah Novela bukan yang lainnya, kenapa kamu masih saja ragu?" imbuhnya lagi.
"Bukan begitu... hanya saja..." ucap Novela namun menggantung karena ia sendiri juga bingung harus mengatakan bagaimana tentang keraguannya ini. Hatinya benar benar tak tenang seperti ada sesuatu yang mengganjal dan terus menghantuinya.
"Sudahlah tak perlu banyak berpikir lagi. Selagi masih ada aku di sisi mu aku jamin hidup mu akan bahagia." ucap Alder sambil mengelus pipi Novela dengan perlahan.
Bersambung
__ADS_1