Ku Sangka Kau Malaikat

Ku Sangka Kau Malaikat
Mulai besok panggil aku papa


__ADS_3

Sementara itu di ruang kerja milik Alder yang terletak di mansionnya.


Ayah dan anak itu sedang terlibat adu mulut antara satu sama lain sedari tadi tanpa mau mengalah sedikitpun, Alder benar benar tidak bisa menerima keputusan ayahnya yang tiba tiba saja datang memintanya untuk menikah dengan anak rekan bisnisnya.


"Papa gak bisa gitu dong mencampuri hidup Alder sesuka hati papa, Alder saja tidak pernah mencampuri urusan papa, bukankah itu tidak adil jika papa terus memaksa Alder?" ucap Alder bersikukuh tidak mau menuruti ucapan David yang tiba tiba.


"Kamu sudah dewasa Al, bukannya papa ikut campur hanya saja pernikahan itu penting bagi pria dewasa yang sudah matang dan cukup umur seperti mu." ucap David tak mau kalah.


"Jangan katakan ini adalah ide dari istri kesayangan papa itu?" ucap Alder menerka nerka dengan nada yang kesal.


"Terlepas itu dari ide siapapun, papa akan tetap menyuruh mu menikah tanpa atau dengan idenya." ucap David berdalih karena meski ia berkelitpun Alder pasti akan tetap mengetahuinya.


Hening beberapa saat tidak ada tanggapan maupun sanggahan dari Alder seperti sebelumnya sampai kemudian sebuah ide gila terlintas dipikirannya.


"Baik, aku setuju asalkan hanya dengan Ane bukan yang lainnya." ucap Alder kemudian memberikan syarat.


Mendengar syarat dari Alder barusan David nampak berpikir sejenak.


"Baik papa setuju, lagi pula Ane tidak terlalu buruk." ucap David dengan nada santai seakan tanpa beban mengatakan hal itu.


"Apa papa yakin?" tanya Alder memastikan lagi karena jawaban dari papanya benar benar di luar dugaan.


"Why not." ucap David singkat.


"Lalu?"


"Lalu apa?" tanya David dengan bingung.


"Untuk apa papa masih di sini, tidakkah papa harus pulang?" ucap Alder dengan nada datar kemudian.


"Kau benar benar tidak berubah ya, bahkan aku pun kau usir." ucap David yang tidak percaya dengan kelakuan anaknya.


"Aku tidak mengatakan mengusir papa ya, bukankah papa yang mengatakannya sendiri barusan?" ucap Alder sambil mengangkat bahunya.

__ADS_1


"Sudahlah berbicara dengan mu tidak akan ada benarnya, papa pulang dulu jangan lupakan ucapan mu tadi." ucap David kemudian melenggang meninggalkan Alder sendiri di ruangannya.


"Setidaknya bukan dengan pilihan si nenek sihir, jika dengan gadis bodoh itu aku masih bisa mengaturnya." ucap Alder setelah kepergian David dari ruangannya.


**


David melangkah keluar dengan raut wajah yang cerah, ia tahu putranya yang satu itu pasti akan kekeh memilih Ane, sekarang tinggal bagaimana caranya membujuk istrinya agar mau menerima Ane dengan tangan terbuka karena ia yakin Angelina pasti akan menolak pilihan Alder dengan keras.


"Sekarang tinggal bagaimana aku membujuk Angel untuk masalah ini." ucapnya pada diri sendiri.


David menuruni satu persatu anak tangga menuju ke arah luar mansion, langkahnya lantas terhenti kala melihat Ane atau Novela yang tengah sibuk makan di meja makan sekarang.


"Rupanya kamu sedang makan di sini, mangkanya saya tidak melihatmu dari tadi." ucap David yang lantas membuat Novela terkejut mendapatinya sudah berdiri dibelakangnya.


"Tuan besar" ucap Novela dengan gelagapan sambil bergegas bangkit berdiri.


"Tidak perlu sungkan, mulai saat ini biasakan memanggil aku papa oke?" ucapnya sambil tersenyum yang langsung mendapat tatapan tak mengerti dari Novela.


"Iya papa, mudah bukan?" ucap David dengan tersenyum cerah membuat Novela semakin bingung akan ucapan David.


"..."


"Lanjutkan makannya saya pergi dulu, sampai bertemu di hari H." ucap David kemudian melangkah pergi meninggalkan berjuta tanda tanya yang terus berputar di benak Novela.


"Apa apaan barusan? papa? yang benar saja, kenapa aku memiliki firasat buruk tentang ini?" ucap Novela kemudian melanjutkan kembali ritual makannya yang tertunda barusan tanpa memikirkan terlalu dalam ucapan David tadi.


Sedangkan Alder yang tanpa sengaja melihat dan mendengar percakapan David dan Novela, hanya bisa terdiam tanpa ingin bergabung sama sekali. Awalnya Alder berpikir David hanya ingin main main menyuruhnya menikah dengan segera, namun nyatanya setelah mendengar percakapan David barusan membuat Alder berpikir ulang bahwa ucapan papanya bukanlah main main tadi.


"Sekarang aku harus bagaimana menjelaskannya pada gadis itu? lamaran ku saja di tolak, sudahlah aku bisa gila jika terus begini." ucap Alder bertanya tanya kemudian melangkah kembali masuk ke ruang kerjanya.


****


Sementara itu sudah beberapa hari ini Novela seperti lenyap dari jangkauan Putra, tidak hanya pesan bahkan panggilan telpon Putra sekarang sama sekali tak di hiraukan oleh Novela. Putra terasa seperti sebuah permen karet yang habis di makan kemudian di buang dan dimuntahkan begitu saja.

__ADS_1


"Apa burung ku sama sekali tidak membuatnya bergairah? kenapa setelah hari itu Ane tidak pernah mengabari ku lagi?" ucap Putra dengan nada yang frustasi.


Dari arah kejauhan tanpa Putra sadari, Ranti tengah melangkah mendekat ke arahnya dengan senyuman yang cerah, di peluknya tubuh Putra dari belakang memberikan kejutan kepada pria itu.


"Sayang" ucap Ranti sambil tersenyum dan meletakkan dagunya di bahu Putra.


Putra yang tidak tahu kedatangan Ranti sedikit terkejut akan gerakan Ranti yang tiba tiba memeluknya. Putra kemudian lantas melepas tangan Ranti perlahan dan berbalik menatap ke arah Ranti.


"Tumben kamu gak ngabarin dulu?" tanya Putra.


"Emang gak boleh ya? kan biar jadi surprise." ucap Ranti dengan senyum semanis mungkin.


"Aku tahu kamu pasti ada maunya kan? katakan ada apa?" tanya Putra yang seakan mengerti sifat Ranti.


"Aku mau minta kembali surat surat penting rumah itu." ucap Ranti.


Putra yang mendengar permintaan Ranti lantas baru teringat jika semua surat surat penting itu ia berikan kepada Novela waktu itu, sedangkan sekarang jangankan menanyakan surat itu bahkan menanyakan kabar Novela bagaimanapun tidak bisa.


"Kenapa kamu diam?" tanya Ranti yang merasa aneh dengan ekspresi wajah Putra.


"Tidak ada, lebih baik aku berikan besok saja ya, bagaimana kalau sekarang kita pergi jalan? udah lama banget kan kita gak jalan." ucap Putra sambil tersenyum dengan di buat buat sebagai bentuk mengalihkan perhatian Ranti akan surat surat itu.


"Benarkan kamu mau pergi? kita pergi keliling Jakarta boleh?" ucap Ranti dengan gembira.


"Tentu saja, tidak hanya Jakarta aku bahkan bisa mengantar mu sampai ke bulan." ucap Putra sambil mencubit gemas pipi Ranti. "Setidaknya gadis bodoh ini bisa melupakan surat itu untuk saat ini, nanti aku akan mencari Ane sampai ketemu, bisa bisanya aku melupakan sesuatu yang penting seperti itu." ucap Putra dalam hati sambil memasang raut wajah sok manis di depan Ranti.


"Ayo kita berangkat."


"Tentu saja sayang." ucap Putra.


Keduanya lantas melangkah pergi beranjak dari mansion Putra dan memulai petualangan mereka berkeliling Jakarta.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2