
Sementara itu di rumah peninggalan orang tua Novela yang kini sudah berpindah tangan kepada Neta.
Nampak Ranti tengah menunggu dengan kesal sambil terus menatap ke arah cermin rias miliknya.
" Apakah Putra sangat sibuk?" tanya Ranti pada diri sendiri sambil menatap dirinya lewat cermin rias dengan wajah yang cemberut.
Ranti kemudian bangkit berdiri dan berpindah duduk di ranjang empuk miliknya.
" Sebaiknya aku menelponnya saja, bukankah aku sudah menunggu terlalu lama sedari tadi?" ucap Ranti pada diri sendiri.
Setelah berpikir cukup lama Ranti lantas mengambil ponsel miliknya kemudian mendial nomor Putra di sana.
Pada awal sambungannya ponselnya berdering namun tak kunjung di angkat oleh Putra.
" Kemana dia? biasanya juga langsung di angkat, apa ponselnya tertinggal atau sedang mengisi daya?" ucap Ranti menerka nerka.
Tak puas karena telponnya tak kunjung di angkat, Ranti kemudian lantas mencobanya lagi dan lagi sampai kemudian.
" Halo kamu di mana sayang? bukankah kamu janji akan menjemput ku untuk makan siang bersama?" ucap Ranti merengek setelah sambungan ponselnya di angkat oleh Putra.
" Aduh kenapa aku bisa melupakannya?" ucap Putra dalam hati kala mendengar rengekan Ranti.
" Oh maaf sayang, aku sedang ada meeting penting saat ini, lain kali saja ya? aku janji akan mengajakmu makan siang." ucap Putra mencoba membujuk Ranti.
Hening sesaat setelah Putra mengatakan hal tersebut.
" Apa kamu tidak bisa membatalkannya?" tanya Ranti lagi dengan nada memelas.
" Tidak bisa sayang, klien ku kali ini adalah investor besar yang tertarik akan galeri seni ku, aku mohon kali ini saja ya cobalah untuk mengerti." ucap Putra lagi.
" Tapi ..." ucap Ranti namun di potong terlebih dahulu oleh Putra.
" Sudah ya sayang nanti aku hubungi lagi." ucap Putra.
" Tapi" ucap Ranti namun kembali terpotong karena Putra yang tiba tiba memutuskan sambungan telponnya secara sepihak.
" Sialan, baru kali ini Putra mengabaikan ku seperti ini." ucap Ranti dengan kesal sambil melempar ponselnya ke ranjang.
" Lihat saja kalau Putra jika berani macam macam di belakangku!" ucap Ranti dengan kesal.
**********
Sementara itu di mansion milik Alder.
__ADS_1
Alder tengah serius memandangi ponsel miliknya melihat perkembangan grafik game serta aplikasi yang tengah menjadi andalan di perusahaannya saat ini
Tok tok tok.
" Masuk" ucap Alder masih dengan pandangan yang tetap fokus pada layar ponsel pintarnya.
" Tuan" ucap Haris kala memasuki ruangan kerja milik Alder yang terletak di mansion nya.
" Ada apa ris?" tanya Alder kala mengetahui kedatangan Haris.
" Ada hal penting yang ingin saya sampaikan." ucap Haris.
Mendengar ucapan Haris, Alder lantas meletakkan ponsel miliknya kemudian menatap Haris menanti kabar penting yang akan Haris sampaikan.
" Ada apa?" tanya Alder.
" Saya mendapat informasi bahwa nyonya Angelina telah bergerak kembali dan menemui Neta di suatu cafe, sepertinya mereka kembali merencanakan sesuatu." ucap Haris.
Alder hanya tersenyum mendengar ucapan Haris barusan.
" Sepertinya akan di mulai kembali, aku sungguh menantikannya, bukankah ibu tiri ku itu tidak pantang menyerah?" ucap Alder dengan tersenyum licik.
" Lalu kita harus bagaimana sekarang tuan?" tanya Haris.
" Dia siapa tuan?" tanya Alder dengan bingung.
" Ya dia gadis itu, siapa lagi memang?" ucap Alder dengan nada kesal.
" Oh" ucap Haris sambil manggut-manggut tanda mengerti.
" Sebenarnya kau mengerti atau tidak? jangan hanya oh saja" ucap Alder dengan kesal.
" Iya tuan." ucap Haris sambil memutar bola matanya jengah.
" Bagus, lalu bagaimana dengan pertemuan gadis itu?" ucap Putra.
" Semuanya berjalan lancar tuan, sepertinya Putra benar benar tertarik dengan nona Novela yang berwajah nona Ane, apakah anda baik baik saja akan hal itu?" ucap Haris karena ia tahu meski Novela bukanlah Ane namun wajah yang di gunakan oleh Novela tetaplah wajah Ane kekasih tuanya.
"....."
Tidak ada jawaban apapun dari Alder yang lantas membuat Haris mengerti bahwa ini juga sesuatu yang sulit bagi tuannya.
" Maaf tuan jika saya terlalu ikut campur masalah anda." ucap Haris merasa bersalah.
__ADS_1
" Sudahlah kau tak perlu minta maaf untuk hal itu" ucap Alder.
" Lalu bagaimana untuk permintaan tuan besar minggu depan tuan?" tanya Haria lagi.
" Aku akan datang." ucap Alder dengan singkat.
" Apa anda yakin tuan?" tanya Haris memastikan.
" Tentu saja." ucap Alder dengan yakin.
Mendengar hal itu Haris hanya diam sambil menatap Alder, karena tidak biasanya Alder memenuhi undangan dari mansion utama apalagi yang bersifat kekeluargaan karena Alder sungguh benci akan hal itu, entah mengapa kini semuanya perlahan berganti, Haris yakin datangnya tuan ke mansion utama minggu depan pasti ada sebuah rencana yang akan di lakukan oleh tuanya nanti.
***************
Suasana di dalam mobil yang sedang di kendarai oleh Putra nampak sedikit canggung keduanya enggan untuk berbicara dan hanyut dalam pikirannya masing masing.
" Kamu" ucap Putra dan juga Novela secara bersamaan.
" Kamu dulu silahkan." ucap Putra sambil tersenyum ke arah Novela sekilas kemudian kembali fokus menatap jalanan sekitar.
" Tak apa kamu bisa duluan." ucap Novela.
" It's ok ladies first." ucap Putra lagi.
" Baiklah, em apa pacar mu baik baik saja jika kita jalan berdua seperti ini?" tanya Novela mulai memancing suasana.
Mendengar hal itu Putra tidak langsung menjawabnya, ia terdiam sejenak memikirkan jawaban yang tepat untuk pertanyaan Novela barusan.
" Tentu saja tidak kalau dia tidak tahu." ucap Putra pada akhirnya yang lantas memunculkan senyuman tipis di bibir Novela yang tentu saja tidak bisa di lihat oleh Putra karena ia sedang fokus menyetir.
" Saatnya beraksi, ayo Novela keluarkan semua trik dalam drama yang telah kau tonton selama berjam jam." ucap Novela dalam hati.
Mobil Putra kemudian berhenti di lampu merah, tepat ketika laju mobil milik Putra berhenti Novela lantas mendekatkan bibirnya ke telinga Putra dan membisikkan sesuatu sedangkan tangannya bermain di leher milik Putra.
" Baiklah kalau begitu kita jangan memberitahunya hem?" ucap Novela dengan nada yang berbisik membuat gairah aneh pada diri Putra mulai bangkit.
Putra mengambil tangan Novela yang tengah bermain di lehernya kemudian mengecupnya lalu memandang Novela dengan tatapan menginginkan.
Melihat tatapan itu Novela lantas ketar ketir karena ia belum menyiapkan apa yang harus ia lakukan selanjutnya.
Wajah Putra mulai mendekat dan mendekat sementara Novela hanya terdiam kaku dengan keringat yang mulai membasahi dahinya.
" Matilah aku! apa selanjutnya yang harus aku lakukan? harusnya aku menyiapkan rencana cadangan terlebih dahulu, mana tahu kalau Putra akan langsung tergoda hanya dengan sekali gerakan." ucap Novela dalam hati.
__ADS_1
Bersambung