Kubuang Dirimu Sebelum Kau Madu Diriku

Kubuang Dirimu Sebelum Kau Madu Diriku
Bukti dari Ezra


__ADS_3

"Aku nggak kepikiran itu, Mas. Udah telanjur panik," kilah Elsa ketika Jeevan terus menyelidik.


Jeevan tak menyahut, hanya menatap Elsa dengan jengah.


"Mas, kamu mau kan maafin aku? Aku sedih kalau kamu giniin. Aku tuh cinta banget sama kamu," kata Elsa sembari merapatkan duduknya.


"Buktikan dulu kalau ucapanmu itu memang jujur, nanti aku akan memaafkanmu," jawab Jeevan.


Elsa berpikir sejenak, "Baik, aku akan membuktikannya. Janji ya langsung maafin aku dan nggak marah-marah lagi?"


"Nggak usah pakai janji-janji, langsung aja buktiin. Buat aku percaya kalau kamu emang ditindas oleh Mauren," jawab Jeevan.


"Pasti aku buktiin." Elsa bersungguh-sungguh dengan ucapannya, semua ia lakukan demi Jeevan.


Sejauh ini, Elsa belum tahu bahwa Jeevan telah kehilangan uang dari perceraiannya. Dalam pikiran Elsa, lelaki itu masih berkesempatan memiliki harta gono-gini.


"Setelah Ezra mengirimkan buktinya, masalah ini akan clear. Kamu akan percaya sama aku dan hubungan kita akan harmonis lagi," batin Elsa sambil menatap Jeevan, yang kala itu juga larut dalam pikirannya sendiri.


"Aku masih nggak percaya Mauren melakukan itu, dia bukan wanita licik. Justru malah Elsa yang membuatku ragu, dia banyak menyembunyikan sesuatu dariku," batin Jeevan.


Setelah selesai berbincang dan Jeevan tetap pada kekecewaannya, Elsa pamit pulang. Dalam perjalanannya, Elsa berusaha menghubungi Ezra. Sejak tadi siang, lelaki itu belum menghubungi. Elsa sempat khawatir dia sedang bermasalah besar dengan istrinya.


Akan tetapi, rasa khawatir Elsa hilang setelah sambungan telepon terhubung. Suara Ezra terdengar ringan dan ramah seakan-akan tidak terjadi sesuatu dengannya.

__ADS_1


"Syukurlah kalau kamu baik-baik aja, Zra. Aku khawatir Zenna marah besar ke kamu," ucap Elsa.


"Enggak lah. Udah kubilang, kan, ini bukan masalah besar," jawab Ezra. "Oh ya, kamu sendiri gimana sama Jeevan?"


"Masih agak kecewa. Mas Jeevan ngeyel minta bukti, kayak nggak percaya kalau Mauren beneran ngelakuin itu. Entahlah, apa aja yang dia katakan tadi, sampai-sampai Mas Jeevan mau percaya. Licik banget dia." Elsa menumpahkan kekesalannya.


"Sabar, nanti kalau udah ada bukti pasti luluh lagi. Mmm, tapi Mauren masih sibuk sekarang. Tadi kutelpon masih lembur, katanya suruh besok pagi aja," terang Ezra.


"Ya udah nggak apa-apa kalau dia yang minta. Kalau udah nanti cepat kirim buktinya ya, Zra, biar masalahku dengan Mas Jeevan juga cepat kelar," pinta Elsa.


"Gimana kalau buktinya kukasih langsung aja? Besok ketemuan gitu, sekalian aku mau kasih hadiah ke kamu." Ezra memberikan penawaran lain.


"Boleh aja, tapi ... apa nggak apa-apa? Zenna ada di rumah, kan?" tanya Elsa.


"Oke deh, besok share tempatnya, ya." Elsa menyetujui tawaran Ezra.


"Siap, Sayang."


_______________


Keesokan harinya, Elsa dan Ezra benar-benar membuat janji. Mereka sepakat bertemu di restoran yang tak jauh dari Gedung Astoria, sekalian menyantap makan siang. Menurut keterangan Ezra, cek 600 juta sudah diberikan kepada Mauren dan buktinya sudah siap diberikan kepada Elsa.


Elsa sangat senang mendengar hal itu, terlebih lagi Ezra akan memberinya hadiah, yang ia yakini bukan sesuatu yang murah karena Ezra sangat royal.

__ADS_1


"Udah perfect kayaknya," ucap Elsa sembari menatap pantulan dirinya di cermin. Rambut digerai, tubuh dibalut dress warna maroon, serta kaki dibungkus high hells warna senada. Penampilan yang sangat menawan.


"Ini terakhir kalinya aku berhubungan dengan Ezra, Mas, itu pun untuk mendapatkan bukti seperti yang kamu minta. Jangan cemburu ya meski dia kasih aku hadiah. Kalau misalkan perhiasan, janji deh nanti kujual, buat tambah-tambah tabungan. Lumayan, kan, bisa dipakai buka usaha kalau kita udah nikah," ujar Elsa seraya menyemprotkan parfume ke sekujur tubuh.


Kemudian, wanita itu mengambil tas yang juga warna merah. Lantas, keluar kontrakan dan masuk ke dalam taxi pesanannya.


Setelah menempuh sekitar empat puluh menit perjalanan, Elsa tiba di halaman Nirmala Resto—restoran tempat ia dan Ezra membuat janji. Dengan penuh percaya diri, Elsa keluar dari taxi dan berjalan memasuki restoran. Lenggak-lenggoknya terlihat menggoda, sangat serasi dengan penampilannya yang mewah dan berani.


Elsa terus berjalan dan menuju meja nomor tujuh. Kata Ezra, dia sudah menunggu di sana sejak lima menit yang lalu.


Tak lama kemudian, Elsa bertemu pandang dengan Ezra. Lantas, dia mempercepat langkah dan menghampiri lelaki itu.


"Hai, Elsa. Mari, silakan duduk!" sambut Ezra dengan senyum yang menawan.


Akan tetapi, Elsa malah terpaku dibuatnya. Senyum dan rasa percaya dirinya pun hilang seketika. Apa yang Ezra tunjukkan kali ini berhasil mematahkan harapan dan impiannya.


"Ezra, apa maksudnya ini?" batin Elsa.


*Sambil promo ya, Kak. Ini aku ada novel drama rumah tangga juga, udah lama tamat. Ini novel keduaku, rangkaian kalimat dan penggunaan tanda baca belum sebaik sekarang, tapi insha Allah tidak terlalu berantakan. Banyak yang bilang novel ini full bawang, memang iya, tapi happy ending kok. Semoga ada yang berkenan mampir ya😊😊😊



Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2